Senin, 21 November 2011

Harga Cabai Capai Rp 60 Ribu


Prabumulih, SN
Setelah Hari Raya Idul Adha 1432 H, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok (sembako, red) dan sayuran di sejumlah pasar tradisional Kota Prabumulih, masih tetap tinggi. Bahkan harga salah satu komoditi sayuran jenis cabai rawit mengalami kenaikan hingga tembus Rp 60 ribu perkilo dari harga sebelumnya Rp 40 ribu perkilo.
Naiknya harga cabai tersebut, menurut salah satu pedagang sayuran di Pasar Inpres Prabumulih bernama Yudi (38), disebabkan sedikitnya pasokan jenis sayuran tersebut di pasaran. Sementara permintaan dari konsumen meningkat, khususnya selama beberapa minggu terakhir.
“Ini be sudah duo hari pasokan cabai rawit itu dak masuk, mano nak tinggi hargonyo. Sementara yang nak beli berebut, maklum caro banyak nak ngadoke acara perkawinan di bulan haji ini,” ungkap Yudi, ditemui di lokasi jualannya, Minggu (18/11) pagi.
Kenaikan harga cabai rawit itu pun ditambahkannya, merupakan yang kedua kalinya terjadi selama dua pekan terakhir. Namun kenaikan masih rata–rata berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu perkilonya. “Sebelumnyo jugo sudah naik jadi Rp 30 ribu perkilonyo,” sambung Yudi.
Kenaikan harga cabai juga terjadi pada jenis cabai keriting hijau yakni dari Rp 25 ribu naik menjadi Rp 30 ribu perkilonya. Sementara harga cabai merah tidak mengalami perubahan yakni masih Rp 36 ribu perkilo. ”Hargo cabe rawit tula yang naek nian, kalo cabe laen hargonyo masih relatif normal,” jelasnya lagi.
Pernyataan serupa juga dikatakan Wak Bay (55), pedagang sayuran Pasar Inpres. Namun dia tambahkan, kenaikan harga cabai rawit itu diperoleh sudah dari harga pemasoknya sehingga pedagang terpaksa kembali menjualnya dengan harga tinggi. “Hargo dari agen tinggi, jadi terpakso kito jual tinggi. Kalu idak, rugi kito,” aku Wak Bay.
Namun lain halnya dengan pedagang makanan seperti bakso dan mie ayam, kenaikan sejumlah harga cabai itu justru membuat mereka kesulitan. Sehingga tidak sedikit diantara pedagang makanan ini terpaksa mencampur cabai tersebut dengan produk penyedap rasa lainnya. Namun ada juga yang terpaksa mengurangi jumlah pedas cabai tersebut saat mencampurkannya ke makanan.
"Kalau lagi mahal begini, terpaksa cabai itu kita campur. Biar konsumen masih bisa memakai sambal saat menikmati hidangan makanan mie kita,” cetus salah satu pedagang makanan mie keliling ini. (and)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.