Kamis, 05 Januari 2012

Hati Hati, 4 pasien Demam Berdarah Tewas


Sekayu, SN
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Muba, sejak tiga bulan terakhir terdapat empat pasien DBD yang meninggal dunia setelah sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit dan puskesmas. Keempat pasien tersebut berasal dari tiga kecamatan yakni kecamatan Bapat Supat 1 orang, kecamatan Sungai Lilin 1 orang dan Lumpatan Kecamatan Sekayu 2 orang.
Kabid Pencegahan, Pemberantasan, Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PPL) Dinkes Kabupaten Muba, Candra mengatakan peningkatan kasus DBD tahun 2011 sangat signifikan. Selama tahun 2010 hanya ada 36 pasien DBD namun pada tahun 2011 meningkat 10x lipat menjadi 303 pasien.
“Yang meninggal dunia karena DBD yang terdata resmi dari Dinkes berdasarkan laporan rumah sakit dan puskesmas ada 4 orang. Namun ada juga pasien yang langsung berobat ke Palembang namun tidak tertolong juga. Tahu-tahu sudah meninggal,” beber Candra di Sekayu kemarin.
Dengan kondisi tersebut, jelas Candra, sebenarnya status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD sudah bisa diberlakukan sehingga harus secepat mungkin dilakukan upaya terpadu pemberantasan jentik nyamuk aedes Agepty. Untuk itulah dianjurkan seluruh masyarakat agar melakukan pola hidup bersih dan sehat dan melakukan gerakan 3 M plus (mengubur, menguras dan menimbun) ditambah dengan menaruh bubut abate dan memelihara ikan tempalo.
“Kita sudah bagikan 50 kg bubuk abate ke masing-masing Puskesmas di empat kecamatan yang dinilai sangat rawan penyebaran DBD yakni kecamatan Sekayu, Sungai Lilin, Bayung Lencir dan Keluang,” tandasnya.
Untuk itu, warga diminta siaga bahaya DBD dengan memperhatikan gejala-gejala penyakit tersebut. Penderita DBD jelasnya mengalami panas tinggi secara mendadak diatas 38% C, dengan masa inkubasi 2-7 hari setelah digigit nyamuk. Namun pasien DBD tidak identik harus mengalami bintik-bintik merah. Tidak mengalami juga dapat dikategorikan terserang DBD jika trombosit darahnya turun drastir.
“Ini harus diwaspadai. Biasanya setelah panas tinggi kemudian turun lagi. Belum tentu aman namun terkadang timbul lagi panasnya. Kalau tidak cepat ditanggulangi bisa meninggal dunia,” imbuh Candra.
Merebaknya kasus DBD di Muba dinilai warga masih minim sosialisasi dari instansi terkait baik dari Dinkes, Puskesmas dan Pustu. Justru yang nampak hanya perhatian berlebih terhadap sekolah atau perguruan tinggi dengan lebel kesehatan saja. Fakta ini didukung pengakuan masyarakat di wilayah kecamatan Keluang, Tungkaljaya, Bayunglencir, Sungaikeruh, bahkan Sekayu sendiri.
“Disini minim sekali sosialisasi. tidak pernah ada sosialisasi tentang kesehatan baik dari dinas mana pun. Umumnya sosialisasi itu dilakukan di tempat-tempat yang tidak jauh dari wilayah perkotaan,” ucap Ilham warga Keluang.
Sementara itu di sal rawat inap RSUD Sekayu, pasien DBD mengalami peningkatan. Beberapa pasien tampak terkulai lemas saat berbaring di ruangan Medang. Seorang pasien, YN warga Sekayu mengaku telah empat hari terbaring dirumah sakit karena menderita DBD. Diapun mengaku tidak tahu menahu tiba-tiba terserang demam panas dan dinyatakan dokter positif DBD.
Sang Ibu, Yani mengaku khawatir karena Trombosit anaknya setelah diperiksa turun dan lesu. “Namun kata dokter harus banyak minum air putih,” jelasnya di RSUD. Sedangkan merebaknya pasien DBD warga terus dilakukan upaya pencegahan dengan melakukan pembersihan selokan yang tersumbat sehingga tidak ada air yang tergenang. Begitu juga bekas-bekas kaleng, plastik yang terdapat air tergenang langsung dibuang. (her)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.