Senin, 03 Oktober 2011

Oknum Guru Diduga Aniaya 6 Siswa

Banyuasin,SN
            Dunia pendidikan di Kabupaten Banyuasin kembali tercoreng, Sulistiono Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 1 Sako Kecamatan Rambutan bersama istrinya yang tercatat sebagai tenaga pengajar disana, dilaporkan ke Polsek Rambutan, keduanya dituduh telah menganiaya 6 siswanya disalah satu ruangan sekolah.
            Mereka adalah Eka Safitri binti Slamet Kohar, Meri Andani binti Sugito, Desi Binti Maryam, Opi Andaresta binti Nurhamza, Welli binti Jaya Sukma dan Sri Utama binti Susilo.
    Para siswa tersebut mengaku dianiaya dengan cara ditarik rambutnya, ditampar dan ditendang. Tidak terima dengan kejadian itu, ditemani orang tuanya, siswa tersebut melaporkan kasus penganiayaan itu ke Polsek Rambutan.
    Informasi yang dihimpun, penganiayaan yang dilakukan oknum Wakasek dan guru SMP 1 Rambutan itu, bermula dari protes salah seorang siswa yang mempertanyakan uang saku yang diberikan panitia saat digelar acara sosialisasi narkoba oleh Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Selasa (27/9) di aula kantor kecamatan rambutan.
    Saat itu sebanyak 47 siswa SMPN 1 ditambah dengan siswa SMAN 1 dan masyarakat serta instansi terkait mengikuti sosialisasi masalah narkoba. Usai penyuluhan, seluruh peserta diberikan uang saku sebagai pengganti transport, masing–masing Rp 25 ribu yang dibungkus dalam amplop.
    Oleh Thomson, salah seorang guru SMPN 1 Rambutan, uang saku tersebut dikumpulkannya, dari 47 siswa yang mengikuti penyuluhan hanya 41 siswa yang sudah mengembalikan, sisanya sebanyak 6 siswa belum mengembalikan uang saku lantaran keburu pulang kerumah masing–masing.
    Merasa ada yang aneh, Slamet salah seorang orangtua siswa lantas bertanya dengan panitia. “Dia bertanya, uang saku itu sebenarnya untuk siapa, peserta atau untuk gurunya, lalu dijawab untuk peserta," kata Kasdiono, salah seorang wali murid. 
    Oleh panitia, oknum guru yang mengumpulkan kembali uang tersebut ditelepon. Diduga kesal karena ditelepon panitia, keesokan harinya Rabu (28/9), seluruh siswa yang mengikuti sosialisasi narkoba dikumpulkan, 46 siswa dijemur dihalaman sekolah, sisanya dibawa masuk kedalam ruangan.
        “Di dalam ruangan itulah oknum guru dan wakil kepala sekolah itu menganiaya keenam siswanya dengan cara memukul dan menampar," tambahnya.
    Akibat kejadian ini, bukan hanya memar dipipi, beberapa diantara siswa tidak berani masuk sekolah lantaran takut.
        Parahnya lagi, lanjut Kasdiono, oknum Wakasek mengeluarkan komentar yang tidak seharusnya dilakukan seorang tenaga pendidik. “Katanya, orang Rambutan itu kere (miskin, red) galo terus ada lagi perkataannya yang membuat sakit hati kami," ulasnya.
    Wakasek Kurikulum SMPN 1 Sako, Sulistiono, dikonfirmasi via ponselnya membantah penganiayaan yang dilakukan bersama istrinya. Menurut Sulistiono, kejadian yang terjadi di sekolah hanya kesalahpahaman saja.
       “Tidak ada pemukulan apalagi penganiayaan terjadi disekolah hanya kesalahpahaman saja. Tidak benar itu, kalau saya atau istri saya melakukan penganiayaan dan masalah itu sudah selesai, kami sendiri juga sudah menyampaikan permintaan maaf, demikian juga dengan seluruh wali murid," bebernya.
    Soal uang saku yang ditarik kembali oleh Thomson, salah seorang guru SMPN 1, menurut Yulistiono, hanya untuk menghimpun saja. “Mereka juga tidak dijemur, mereka hanya dibariskan dihalaman sekolah pada pagi hari, itu pun tidak lebih dari setengah jam, setelah itu mereka masuk kembali kedalam kelas dan menerima uang saku yang dihimpun tadi," bebernya.
        Sementara diungkapkan Kepala UPTD Diknas Kecamatan Rambutan, Sarjono. Menurutnya ia juga belum menerima laporan dari sekolah dan orang tua siswa. “Nanti saya cek dulu, saya belum tahu masalah ini,“ kata Sarjono diujung telepon. (sir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.