Selasa, 27 Desember 2011

Kasus Century yang Terus Menggantung


Oleh Agus Harizal Alwie Tjikmat

Babak baru pengusutan Kasus Bank Century kini dimulai. Ini ditandai dengan BPK telah menyerahkan audit forensik atas kasus Bank Century ke DPR.
Gerak selanjutnya Pimpinan DPR telah menggelar rapat konsultasi. Selanjutnya pimpinan DPR akan meminta nama-nama anggota Timwas Century yang baru, kepada pimpinan fraksi di DPR.
Kasus Century sama seperti masalah dan kasus-kasus di Indonesia. Pada mulanya hangat dibicarakan, kemudia saat tercium banyak 'orang penting' yang bakal terkait, kasus ini pelan-pelan terus terkubur. Sang penguasa juga tak banyak bicara, karena jujur saja mungkin tak bisa bergerak. Pasalnya banyak terkait dengan masalah ini. Selanjutnya, Timwas Century akan mulai bekerja. Mempelajari temuan BPK, dan menyerahkan kepada penegak hukum langkah-langkah yang perlu dilakukan.
Lalu apakah masih memungkinkan penyelesaian kasus Bank Century dengan jalur politik dengan penggunaan hak menyatakan pendapat? Segala kemungkinan bisa terjadi sesuai perkembangan dinamika di Timwas Century.
Kasus multi komplek Bank Century sempat menyedot energi Bangsa ini. Sampai saat ini terus dicari siapa sebenarnya yang paling bertanggungjawab atas mengalirnya dana bailout triliunan ke 'bank sakit' tersebut.
Tentu kita semua ingat, bagaimana niat mulia dari Pansus Century saat dibentuk dan bekerja. Saat motor penggerak 'PDIP' begitu kencang mendesak agar kasus ini terus diungkap dan dibeberkan. Bahkan partai berlambang banteng dengan mulut putih ini ini menggambarkan secara samar-samar ada partai yang 'bersalah' karena diduga menerima aliran dana bailout Bank Century.
Memang sampai akhir kerja Pansus Century, arah yang ditunjukkan semula tak bisa ditunjukkan. Tetapi saat rapat demi rapat berlangsung, banyak kisah dan temuan menarik dari tim kerja pansus.
Saat ini tergantung niat baik semula, dan bagaimana kondisi sekarang. Karena untuk diketahui menjelang akhir kerja pansus, ternyata terjadi perpecahan politik di elit pemerintahan.
Bahkan perpecahan ini membuahkan 'ketakutan'luar biasa dari penguasa. Hal ini bisa ditebak, semua hanya untuk menyelamatkan muka. Demi terus menjaga eksistensi dan menjaga nama ini, terlihat peta politik yang mengejutkan. Partai Demokrat yang selama ini sangat berseberangan dengan PDIP, terlihat saling mendekat dan merapat.
Apa yang terjadi ini tentu mulai menimbulkan kecurigaan dan kekecewaan. Sebenarnya apa yang dicari Pansus Century saat itu? Apakah dalam kasus ini terjadi tawar menawar politik dan tahta. Karena terus terang saja, Partai Golkar dan PKS yang selama ini menjadi koalisi PD di Kabinet SBY mulai menunjukkan kesan 'membangkang' dan tak sehaluan lagi. Bahkan terjadi perang komentar dan opini diantaranya.Tetapi semua itu adalah yang terjadi elit kekuasaan, sekarang ini kembalikan ke hati nurani dan tujuan hakiki, dan pertanggungjawaban kepada rakyat.
Malu tidak wakil rakyat kita di Senayan untuk 'main-main' dalam kasus ini. Kalau masih punya malu dan harga diri, ya kembalikan ke tujuan hakiki, termasuk di dalamnya etiika untuk bersikap saat pengumumkan hasil kerja pansus.
Kalau memang tidak terjadi tawar menawar politik dan bertujuan untuk keterbukaan, umumkan secara transparan siapa yang bersalah dan paling bertanggungjawab dalam masalah ini.
Yang tak diinginkan nantinya, yang dilontarkan adalah kesan menggantung dan membuat rakyat bertanya-tanya kembali ada di balik serta siapa di balik kasus ini.
Semua berharap temuan dari BPK saat ini memang menuntaskab kasus Bank Century. Bukan hanya tarik ulur masalah yang tanpa ujung penyelesaian. (***)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.