Jumat, 04 November 2011

Peredaran Mitan Oplosan Marak


Empat Lawang, SN

Sejak terjadinya kelangkaan dan melonjaknya harga bahan bakar minyak tanah (mitan) dipasaran, disinyalir peredaran mitan oplosan marak. Bahkan ironisnya, untuk mencari kuntungan pribadi sejumlah oknum diduga mengoplos atau mencampurkan bahan bakar mitan dengan jenis bahan bakar lainnya seperti bensin ataupun solar.
Informasi dilapangan menyebutkan, indikasi peredaran mitan oplosan diduga sudah berlangsung selama satu tahun terakhir, peredaran bahan bakar berbahaya ini terutama di beberapa daerah terpencil atau pertalangan.
Diketahui di beberapa daerah terpencil, harga bahan bakar mitan saat ini melonjak dari kisaran Rp 8.000 hingga Rp 9.000 perliter, dari perbedaan harga dimaksud terdapat juga perbedaan warna mitan yang dipasarkan. Untuk jenis mitan berwarna sedikit keruh, harga pasaran hanya dalam kisaran Rp 8.000 perliter, sedangkan mitan yang masih berwarna jernih dipatok harga mencapai Rp 9.000 perliter. Sementara itu harga bensin ataupun solar masih dalam kisaran Rp 5.000 perliter, dengan demikian untuk keuntungan pribadi diduga sejumlah oknum mencampurkan bahan bakar dimaksud kemudian dipasarkan.
“Kita harap ada kebijakan tegas dari pemerintah terutama pihak terkait, agar adanya indikasi peredaran mitan oplosan ini segera ditindak lanjuti. Jangan sampai nantinya semakin banyak korban,” jelas Fikri (30) warga Kecamatan Pasemah Air Keruh, kemarin
Fikri mengatakan, salah satu contoh korban tewas akibat ledakan lampu teplok diduga menggunakan mitan oplosan, adalah Sofa (40) warga Dusun Air Belondo Desa Lawang Agung Kecamatan Paiker, Jumat (28/10) sekitar pukul 18.30 WIB. “Sebagian besar warga masih menggunakan mitan baik untuk memasak ataupun lampu templok penerangan, karena dibeberapa pertalangan belum ada jaringan listrik. Namun terkadang masyarakan belum memahami apa perbedaan mitan oplosan, yang jelas mereka masih memilih dengan perbedaan harga yang lebih murah,” urainya
Menanggapi ini Ketua Komisi III DPRD Empat Lawang M Oktaviansyah menyayangkan adanya peredaran mitan oplosan di Kabupaten Empat Lawang, karena dapat membahayakan penggunanya jika jenis campuran yang dituangkan dari bahan yang mudah terbakar seperti bensin. “Untuk indikasi adanya peredaran mitan oplos ini kami akan memanggil pihak terkait seperti Disperindag dan Kepolisian secepatnya, karena sudah semestinya dalam mengatasi masalah ini harus cepat tanggap,” kata Oktaviansyah dihubungi melalui phonselnya.
Mengenai adanya korban tewas akibat ledakan lampu teplok diduga menggunakan mitan oplosan, Oktaviansyah meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus dimaksud. Termasuk mengusut oknum yang mengoplos bahan bakar itu, baik ditingkat distributor, agen bahkan pengecer dipasaran,” tegasnya dan menambahkan kedepan diharapkan pihak Disperindag pun cepat tanggap dan sesegera mungkin melakukan pengawasan mitan dipasaran.
Anggota DPRD Empat Lawang dapil 4 Kecamatan Paseman Air Keruh Indera Farazak mengatakan, setidaknya untuk kasus ledakan lampu teplok itu harus dilakukan penyelidikan, kalau memang menggunakan mitan oplosan tentu sudah masuh ke ranah hukum. “Tapi setidaknya harus diselidiki dahulu, bisa saja factor kesengajaan atau ketidak sengajaan. Misalnya pembelian mitan dimaksud, pada dirigen bekas bensin dan tercampur,” imbuh Indera.
Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop dan UKM) Empat Lawang Nudrin Djauhari melalui Kabid Perindag Irhan Ghofar mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum mendapat laporan adanya peredaran mitan oplosan. “Kami belum dapat laporan,” ujar Irhan. (eko)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.