Senin, 06 Februari 2012

Wayang Cina Terkendala Bahasa

Palembang, SN
Wayang cina atau yang lebih dikenal wayang potehi merupakan salah satu budaya khas masyarakat tionghua yang saat ini sudah sering dipentaskan kembali pada momen-momen tertentu seperti perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro.

Pada perayaan tahun ini, Wayang cina ini dipentaskan selama satu hari satu malam guna menghibur para pengunjung yang datang ke Pulau Kemaro dengan menyuguhkan bebrapa cerita.

Dikatakan Pendi (42) salah seorang pemain sekalgus sutradara pementasan, pada masa sekarang ini sangat peminat wayang cina sendiri sangat minim dikarenakan terkendala bahasa yang digunakan.

"Peminatnya tetap ada, yaitu para orang tua dan yang benar-benar mengerti bahasa cina. Karena bahasa yang digunakan bukan bahasa cina sehari-hari melainkan bahasa cina yang halus seperti bahasa sangsekertanya jawa," terang Pendi.

Selain itu lanjut Pendi, para generasi muda yang sekarang ini juga mengalami kesulitan bila mereka ingin ikut bergabung karena terkendala bahasa tadi.

Selain bahasa minat para pemuda terhadap budaya leluhur mereka ini juga sangat sedikit. " Selain bahasan tadi, mereka lebih tertarik kepada hiburan jaman sekarang," keluh Pendi. " Tapi kita tetap mengajak para emuda tadi walaupun hanya sebgai figuran. Tapi nanti kita harap mereka akan benar-bear tertarik untuk mempelajarinya "harap Pendi.

Pada setiap pementasan wayang cina, cerita yang dibawakan pasti ada hal atau pesan yang disampaikan seperti tentang bagai mana seharusnya kita hidup bermasyrakat, hubungan dengan tuhan serta aturan-aturan hidup lainnya yang membuat kita bahaia dan selamat selama didunia dan akhirat. " BGanyak pesan yang disampaikan dalam tiap cerita. Baik itu tentang hidup dimasyarakat maupun tentang agama, "terangnya.

Sam Kauh Bun Gie Sia adalah nama elompok wayang yang dinaungi oleh Vihara Pehunteng yang berada di kawasan 8 ilir. Kelompok wayang ini berlatih 3 kali dalam satu minggu pada malam hari, dan akan lebih sering lagi apabila akan melakukan pentas.

Untuk satu kali pementasan sendiri kelompok ini membutuhkan orang 40 sampai 50 orang yang terbagi atas para pemeran dan pemain musik, " seluruh pemain adalah kaum laki-laki dan tidak ada perempuan," terang Pendi.

Kesempatan pentas lanjut Pendi, pada masa sekarang lebih sering dibandingkan pada masa orde baru dimana adanya larangan-larangan. Kelompok wayang cina ini telah ada sejak zaman belanda dan Pendi merupakan generasi ke tiga dari keluarganya yang ikut melestarikan budaya mereka.

Pada masa sekarang , kebanyakan yang mengundang wayang untuk pentas adalah kelenteng-kelenteng yang merayakan ulang tahun, "kita juga pernah pentas hingga kemedan dan pentas selama 10 malam dengan cerita yang bersambung tiap malamnya, "Pungkas Pendi.(win)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.