Jumat, 03 Februari 2012

220 Pekerja PT Baturona Lanjut Mogok Kerja

* Ajukan Empat Tuntutan

Sekayu, SN
Hingga hari ketiga, aksi mogok kerja 220 pekerja PT Baturona Adimulya terus berlanjut. Ratusan pekerja yang merupakan subkontraktor PT Alas Watu Utama (AWU) meminta pihak perusahaan untuk memenuhi empat tuntutan mereka.

Tuntutan yang pertama pekerja menginginkan teman mereka yang dipecat tanpa alasan yang jelas dipekerjakan kembali. Pekerja juga tidak ingin dipimpin oleh empat tenaga asing yang berasal dari Malaysia (2 orang) dan Singapura (2 orang). Yang ketiga pekerja subkon tersebut ingin adanya persamaan gaji, karena selama ini gaji yang mereka terima belum standar untuk operasi dipertambangan.

“Masa gaji operator disini sama dengan helper yang non skill,” ungkap salah seorang pekerja berinisial N di lokasi tambang Baturona, Kamis (2/2).

Pekerja juga mengeluhkan sistem pengajian tidak sesuai dengan masa kerja sehingga pekerja yang baru masuk sama dengan pekerja yang sudah berkerja bertahun-tahun. Disamping itu para pekerja juga meminta struktur organisasi yang baru dari pihak manajemen. Sebab selama ini stuktur organisasi yang ada terkesan hanya rekayasa.

Sedangkan aksi mogok kerja itu dipicu dipecatnya salah seorang foreman tambang berinisial H secara sepihak oleh manajemen perusahaan. Alasannya masih belum jelas. Namun manajemen perusahaan terutama owner beranggapan bahwa ia bekerja tidak mencapai target. Sedangkan target yang diminta sangat tidak masuk akal karena harus mengeluarkan batubara diatas 100 ribu ton sedangkan kapasitas tidak memungkinkan. Untuk itu H menilai alasan pemecatannya sengaja dibuat-buat.

Dan mata rekan-rekan pekerjalainnya, H bekerja sangat baik dan dianggap mematuhi semua instruksi pimpinan. Namun kenyataan di pecat begitu saja oleh perusahaan. Para pekerja lainnya khawatir nasib mereka bisa sama seperti itu. Sebab, pekerja yang berkerja dengan baik saja mudah dipecat apalagi pekerja yang melakukan kesalahan kecil.

Menurut H saat dikonfirmasi menegaskan, dirinya dengan ratusan pekerja subkontraktor PT AWU ada semacam ikan emosional yang baik. Dan hal itu tanpa disadarinya sebab aksi spontan pekerja terjadi ketika dirinya mendapat surat pemberhentian dari perusahaan. Dengan kondisi itu, H sudah mengingatkan para temannya agar tetap bekerja sebab jika tidak pekerja yang rugi sendiri. “Namun nyatanya pekerja tetap mogok kerja dan minta saya dipekerjakan kembali,” tandasnya.
Menurut H, dirinya tidak bisa melarang ratusan pekerja yang merupakan buruh PT AWU Kaltim dan AWU Sumsel untuk melakukan mogok kerja. Dia pun tak kuasa jika 220 pekerja sepakat untuk menerima jika perusahaan mem-PHK ratusan pekerja tersebut. Sedangkan dilokasi sendiri, suasana PT Baturona yang berada di desa Supat Barat Kecamatan Babat Supat tampak sepi. Tidak terlihat aktivitas pekerja tambang begitu juga alat berat mulai dari eksvator, truk pengangkut batubara terpajang di areal tambang.

Sementara itu, HRD PT AWU, Rudi mengatakan jika akibat aksi mogok kerja yang terus berlanjut pihak perusahaan mengalami kerugian. “Tentu kita rugi namun jumlah belum bisa dipastikan,” jelasnya. Kerugian juga dikarenakan kegiatan pertambangan lumpuh total. Sebab pengerukan batubara dan pengangkutan nya stop total.

Rudi menjelaskan, pihak perusahaan mengandalkan system bukan figur sehingga bila pekerja menginginkan foreman mereka yang dipecat bekerja kembali. Hal itu sangat tergantu pimpinan tertinggi. Namun jelasnya proses pemecatan sudah sesuai prosedur.

GM PT Baturona, Nur Hadi saat dihubungi kerugian perusahaan mencapai ratusan juta rupiah perhati. Untuk itu pihaknya tengah melakukan pendekatan dengan pekerja agar dapat bekerja kembali. “Ini sudah tiga hari pekerja mogok. Kita segera cari solusi yang terbaik,” ujarnya. (her)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.