Kamis, 01 Desember 2011
Polres ME Dapat Bantuan 9 Motor
Muara Enim, SN
Bupati Muara Enim Ir Muzakir Sai Sohar menyerahkan 9 unit sepeda motor operasional Kepolisian Resor (Polres) Muara Enim. Kendaraan tersebut diharapkan nantinya dapat membantu kinerja dilapangan anggota.
Penyerahan kendaraan operasional tersebut secara simbolis diterima, Kapolda Sumsel, Irjen Pol DR Dikdik M Arief Mansur SH MH, disela-sela acara Tatap Muka Kapolda Sumsel dengan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat,Tokoh Adat, dan FKPD Muara Enim yang dilangsungkan di
Balai Agung Serasan (BAS), Selasa (29/11) sekitar pukul 20.00 WIB.
Bupati, Muzakir, mengatakan, bantuan operasional yang diserahkan ke Polres tersebut merupakan wujud partisipasi dan dukungannya atas eksistensi Polres Muara Enim demi menjaga cipta kondusif.
“Mudah-mudahan, kendaraan operasional motor ini nantinya dapat membantu anggota Polres Muara Enim dalam menjalankan tugasnya di lapangan serta pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Muzakir.
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Dikdik M Arief Mansur, menyambut baik atas diterimanya kendaraan operasional tersebut. Bahkan, dia menyampaikan terima kasihnya kepada Bupati Muara Enim yang mendukung eksistensi Polres Muara Enim hingga kedepannya.
Ditambahkan Kapolres Muara Enim, AKBP Budi Suryanto, kendaraan operasional itu nantinya akan disebar ke polsek-polsek yang belum memiliki kendaraan operasional sepeda motor.
“Kendaraan ini, sangat membantu anggota demi menjalankan tugasnya di lapangan,” pungkas Kapolres. (yud)
Bupati Muara Enim Ir Muzakir Sai Sohar menyerahkan 9 unit sepeda motor operasional Kepolisian Resor (Polres) Muara Enim. Kendaraan tersebut diharapkan nantinya dapat membantu kinerja dilapangan anggota.
Penyerahan kendaraan operasional tersebut secara simbolis diterima, Kapolda Sumsel, Irjen Pol DR Dikdik M Arief Mansur SH MH, disela-sela acara Tatap Muka Kapolda Sumsel dengan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat,Tokoh Adat, dan FKPD Muara Enim yang dilangsungkan di
Balai Agung Serasan (BAS), Selasa (29/11) sekitar pukul 20.00 WIB.
Bupati, Muzakir, mengatakan, bantuan operasional yang diserahkan ke Polres tersebut merupakan wujud partisipasi dan dukungannya atas eksistensi Polres Muara Enim demi menjaga cipta kondusif.
“Mudah-mudahan, kendaraan operasional motor ini nantinya dapat membantu anggota Polres Muara Enim dalam menjalankan tugasnya di lapangan serta pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Muzakir.
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Dikdik M Arief Mansur, menyambut baik atas diterimanya kendaraan operasional tersebut. Bahkan, dia menyampaikan terima kasihnya kepada Bupati Muara Enim yang mendukung eksistensi Polres Muara Enim hingga kedepannya.
Ditambahkan Kapolres Muara Enim, AKBP Budi Suryanto, kendaraan operasional itu nantinya akan disebar ke polsek-polsek yang belum memiliki kendaraan operasional sepeda motor.
“Kendaraan ini, sangat membantu anggota demi menjalankan tugasnya di lapangan,” pungkas Kapolres. (yud)
Jukir-Pengusaha Tolak Larangan Parkir Jalan Sudirman
Palembang, SN
Rencana Dinas Perhubungan Kota Palembang mempermanenkan pelarangan parkir di kawasan Jalan Sudirman ditentang juru parkir dan para pengusaha di Kota Palembang.
Salah seorang juru parkir, Idin mengatakan, pelarangan parkir selama SEA Games saja telah menyebabkan pendapatan mereka turun drastis.
”Kalau tidak boleh lagi parkir, terus kami mau makan dari mana,” ujarnya, kemarin.
Pemerintah memang berencana menetapkan pelarangan parkir di Jalan Sudirman. Pada tahap awal, dimulai dari Internasional Plaza hingga bundaran air mancur, dekat Masjid Agung.
Idin mengaku pendapatan dari parkir tak tentu. Jika sedang ramai, warga 15 Ulu tersebut mampu mengantongi duit sekitar Rp 100-120 ribu/hari. Kalau sedang apes, kadang hanya mampu mengantongi sekitar Rp 60-70 ribu. Dari jumlah itu, sebagian mesti disetorkan lagi ke Dinas Perhubungan.
“Untuk hari biasa, target setoran parkirnya sebesar Rp 60 ribu/hari,” ujar Idin.
Jumlah tersebut naik sebesar Rp 20 ribu dibandingkan sebelum kenaikan retribusi parkir dari Rp 500 menjadi Rp 1000 untuk motor dan Rp 1000 menjadi Rp 2.000 untuk mobil.
”Kalau lagi sepi, kadang hanya dapat uang untuk ongkos pulang,” kata Idin, yang mengaku selain membiayai kebutuhan sehari-hari, juga untuk biaya sekolah kedua cucunya.
Idin meminta pemerintah mempertimbangkan ulang rencana pelarangan parkir di kawasan Sudirman. Ia menilai, kepadatan dan kemacetan lalu lintas dari IP hingga bundaran tak parah-parah amat.
”Coba lihat saja sendiri. Sekarang kan banyak bus kota yang berhenti lalu lintas lancar-lancar saja,” ujarnya.
Menurut dia, penerapan larangan parkir permanen lebih tepat dilaksanakan di ruas jalan mulai dari Pasar Cinde hingga ke simpang lampu merah Charitas.
”Disitu yang sering terjadi kepadatan dan kemacetan lalu lintas,” sebutnya.
Anton, juru parkir di Jalan Sudirman, juga menyatakan keberatan jika pemerintah memberlakukan pelarangan parkir di IP-bundaran air mancur.
”Yah, kalau bisa janganlah (larangan parkir dipermanenkan, red),” ujarnya.
Rencana pemerintah membangun tempat parkir khusus di ruas Jalan Letkol Iskandar, menurut Arif kurang tepat. Soalnya tempat itu tidak cukup menampung kendaran yang biasa parkir di kawasan Sudirman.
Hal senada dikatakan Acing, pemilik toko Matahari, yang menjual sparepart mobil. Penerapan larangan parkir bisa berdampak pada pelaku usaha.
Ia menyebutkan, saat pelarangan parkir selama SEA Games saja penjualannya merosot hingga 90 persen. ”Kadang sehari seadanya saja bisa jual,” tutur Acing.
Bila ada pembeli, terangnya, biasanya transaksi dilakukan terburu-buru. Pasalnya, konsumen khawatir kendaraan yang diparkir bakal dikunci gembok oleh petugas patroli Dishub.
”Jadi seperti orang nodong saja baik pembeli dan penjual, mau cepat-cepat,” ujarnya.
Tidak sedikit konsumen yang akhirnya hanya berhenti sebentar di dekat lahan parkir, tapi begitu melihat ada petugas patroli Dishub yang datang, akhirnya pergi lagi sebelum berbelanja.
Ia khawatir jika larangan parkir dipermanenkan. Bisa-bisa usaha yang dikelolanya tutup karena sepi pembeli. (**)
Rencana Dinas Perhubungan Kota Palembang mempermanenkan pelarangan parkir di kawasan Jalan Sudirman ditentang juru parkir dan para pengusaha di Kota Palembang.
Salah seorang juru parkir, Idin mengatakan, pelarangan parkir selama SEA Games saja telah menyebabkan pendapatan mereka turun drastis.
”Kalau tidak boleh lagi parkir, terus kami mau makan dari mana,” ujarnya, kemarin.
Pemerintah memang berencana menetapkan pelarangan parkir di Jalan Sudirman. Pada tahap awal, dimulai dari Internasional Plaza hingga bundaran air mancur, dekat Masjid Agung.
Idin mengaku pendapatan dari parkir tak tentu. Jika sedang ramai, warga 15 Ulu tersebut mampu mengantongi duit sekitar Rp 100-120 ribu/hari. Kalau sedang apes, kadang hanya mampu mengantongi sekitar Rp 60-70 ribu. Dari jumlah itu, sebagian mesti disetorkan lagi ke Dinas Perhubungan.
“Untuk hari biasa, target setoran parkirnya sebesar Rp 60 ribu/hari,” ujar Idin.
Jumlah tersebut naik sebesar Rp 20 ribu dibandingkan sebelum kenaikan retribusi parkir dari Rp 500 menjadi Rp 1000 untuk motor dan Rp 1000 menjadi Rp 2.000 untuk mobil.
”Kalau lagi sepi, kadang hanya dapat uang untuk ongkos pulang,” kata Idin, yang mengaku selain membiayai kebutuhan sehari-hari, juga untuk biaya sekolah kedua cucunya.
Idin meminta pemerintah mempertimbangkan ulang rencana pelarangan parkir di kawasan Sudirman. Ia menilai, kepadatan dan kemacetan lalu lintas dari IP hingga bundaran tak parah-parah amat.
”Coba lihat saja sendiri. Sekarang kan banyak bus kota yang berhenti lalu lintas lancar-lancar saja,” ujarnya.
Menurut dia, penerapan larangan parkir permanen lebih tepat dilaksanakan di ruas jalan mulai dari Pasar Cinde hingga ke simpang lampu merah Charitas.
”Disitu yang sering terjadi kepadatan dan kemacetan lalu lintas,” sebutnya.
Anton, juru parkir di Jalan Sudirman, juga menyatakan keberatan jika pemerintah memberlakukan pelarangan parkir di IP-bundaran air mancur.
”Yah, kalau bisa janganlah (larangan parkir dipermanenkan, red),” ujarnya.
Rencana pemerintah membangun tempat parkir khusus di ruas Jalan Letkol Iskandar, menurut Arif kurang tepat. Soalnya tempat itu tidak cukup menampung kendaran yang biasa parkir di kawasan Sudirman.
Hal senada dikatakan Acing, pemilik toko Matahari, yang menjual sparepart mobil. Penerapan larangan parkir bisa berdampak pada pelaku usaha.
Ia menyebutkan, saat pelarangan parkir selama SEA Games saja penjualannya merosot hingga 90 persen. ”Kadang sehari seadanya saja bisa jual,” tutur Acing.
Bila ada pembeli, terangnya, biasanya transaksi dilakukan terburu-buru. Pasalnya, konsumen khawatir kendaraan yang diparkir bakal dikunci gembok oleh petugas patroli Dishub.
”Jadi seperti orang nodong saja baik pembeli dan penjual, mau cepat-cepat,” ujarnya.
Tidak sedikit konsumen yang akhirnya hanya berhenti sebentar di dekat lahan parkir, tapi begitu melihat ada petugas patroli Dishub yang datang, akhirnya pergi lagi sebelum berbelanja.
Ia khawatir jika larangan parkir dipermanenkan. Bisa-bisa usaha yang dikelolanya tutup karena sepi pembeli. (**)
Pembangunan BBI Ogan Ilir Telan Rp 2 M Lebih
Indralaya, SN
Pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) milik Pemkab Ogan Ilir seluas 4 hektar yang sebelumnya sempat terhenti pembangunannya, dipastikan kembali berlanjut pada tahun 2012, setelah memperoleh suntikan dari dana Alokasi Khusu (DAK) Rp 2,3 Miliar.
“Kepastian itu karena teranggarnya dana sebesar Rp 2,3 Miliar yang bersumber dari dana alokasi khusus pusat serta sharing 10% dari APBD OI,” kata Kadinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) OI Noorman Yusalwan baru-baru ini.
Menurut Noorman, anggaran ini ditujukan untuk melanjutkan pembangunan fisik BBI, seperti pembangunan talud dari batu kali sepanjang kolam, agar tanah tidak turun. Selain itu kalau anggaran tersebut masih memadai akan dilanjutkan dengan penimbunan pada bagian tanah yang mengalami penurunan.
“Untuk dana BBI fisik diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 17 miliar lagi. Dana itu antara lain untuk melakukan pengedaman sekeliling BBI dan penimbunan lahan,” ungkapnya.
Sementara itu Kabid Perikanan Kabupaten Ogan Ilir Rokayah mengatakan, penambahan dana untuk kelanjutan pembangunan BBI memang sangat diperlukan, mengingat saat ini fasilitas BBI memang belum sempurna. “Ada kolam indukan yang sudah selesai dan telah dimanfaatkan utuk lele, gurami, nila dan patin namun ada juga kolam yang belum selesai pengerjaannya,” ujarnya.
Ditambahkannya, mengingat keterbatasan BBI baik fasilitas maupun sumber daya manusia (SDM), pembibitan ikan untuk komersial belum dilakukan, baru terbatas memenuhi kebutuhan petani lokal. “Keinginan kita apabila semua fasilitas telah memadai disertai SDM yang cukup,
disnakkan menargetkan pembibitan 1 juta ekor ikan pertahunnya,” paparnya. (man)
Pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) milik Pemkab Ogan Ilir seluas 4 hektar yang sebelumnya sempat terhenti pembangunannya, dipastikan kembali berlanjut pada tahun 2012, setelah memperoleh suntikan dari dana Alokasi Khusu (DAK) Rp 2,3 Miliar.
“Kepastian itu karena teranggarnya dana sebesar Rp 2,3 Miliar yang bersumber dari dana alokasi khusus pusat serta sharing 10% dari APBD OI,” kata Kadinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) OI Noorman Yusalwan baru-baru ini.
Menurut Noorman, anggaran ini ditujukan untuk melanjutkan pembangunan fisik BBI, seperti pembangunan talud dari batu kali sepanjang kolam, agar tanah tidak turun. Selain itu kalau anggaran tersebut masih memadai akan dilanjutkan dengan penimbunan pada bagian tanah yang mengalami penurunan.
“Untuk dana BBI fisik diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 17 miliar lagi. Dana itu antara lain untuk melakukan pengedaman sekeliling BBI dan penimbunan lahan,” ungkapnya.
Sementara itu Kabid Perikanan Kabupaten Ogan Ilir Rokayah mengatakan, penambahan dana untuk kelanjutan pembangunan BBI memang sangat diperlukan, mengingat saat ini fasilitas BBI memang belum sempurna. “Ada kolam indukan yang sudah selesai dan telah dimanfaatkan utuk lele, gurami, nila dan patin namun ada juga kolam yang belum selesai pengerjaannya,” ujarnya.
Ditambahkannya, mengingat keterbatasan BBI baik fasilitas maupun sumber daya manusia (SDM), pembibitan ikan untuk komersial belum dilakukan, baru terbatas memenuhi kebutuhan petani lokal. “Keinginan kita apabila semua fasilitas telah memadai disertai SDM yang cukup,
disnakkan menargetkan pembibitan 1 juta ekor ikan pertahunnya,” paparnya. (man)
DBD Serang Warga Banyuasin
Banyuasin, SN
Demam berdarah dengue(DBD) menyerang beberapa daerah di wilayah Kabupaten Banyuasin di Pangkalan Balai, Sedang, Air Sangris, dan Taja raja II, Talang Kelapa, Banyuasin III, Banyuasin I, Tanjung Lago, Betung dan Rambutan beberapa hari terakhir. Keteledoran warga dalam menjaga kesehatan lingkungannya dinilai menjadi penyebab munculnya kedua penyakit ini.
Berdasarkan pendataan Kepala Dinas Kesehatan dr Ayuhana Awam menjelaskan, peningkatan DBD di Banyuasin lebih cenderung karena perubahan iklim, dari musim panas ke musim hujan. Pihaknya pun sudah melakukan upaya pencegahan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Dinas kesehatan juga menetapkan 10 daerah endemis DBD, masing-masing di Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin III, Banyuasin I, Tanjung Lago, Betung dan Rambutan. “Daerah endemis tersebut sudah kita antisipasi dengan cara penyuluhan lingkungan sehat dan perilaku sehat kepada masyarakat, termasuk penyuluhan PSN, baik dengan cara 3M, Fogging maupun abate," tuturnya.
Dalam radius 25 meter, kata Ayuhana, Dinas Kesehatan melakukan penyelidikan, ternyata memang didekat sana terdapat genangan air sehingga menimbulkan jentik, dilokasi tersebut juga sudah dilakukan double cycle fogging.
Diakui Ayuhana, fogging memang bukan pemecah permasalahan DBD yang tepat, sebab fogging yang dilakukan hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telur nyamuk sama sekali tidak dapat dibunuh.
“Bisa dibayangkan satu ekor nyamuk bisa menelurkan 200 ekor jentik, dan telur-telur mereka bisa bertahan meski tidak dalam kondisi digenangi air. Karenanya selain fogging kami juga berharap massyarakat bisa menciptakan hidup sehat, dengan menjaga lingkungannya. Kemudian kami juga menghimbau untuk melakukan 3 M, mengubur, menguras dan menutup wadah-wadah air," terangnya.
Ditambahkannya, penyebaran penyakit ini, karena kurangnya kepedulian warga dalam menjaga kebersihan lingkungan pada saat musim hujan.
Peningkatan kasus DBD ini sendiri diakui oleh Kepala RSUD Banyuasin, dr Syaumaryadi MEpid. Menurutnya, hampir setiap bulan ia menerima pasien dengan keluhan seperti DBD. Seperti M.Ilham ,Ikba warga pangkalan balai(18), Anisa Air sangris,Nuzuli Taja Raya,Dina Air Sangris dan Dina (20)Pangkalan Balai,yang di rawat di RSUD Banyuasin Sekarang.
“Untuk keluhannya memang penyakit DBD menjadi penyakit nomor satu yang ada di Rsud Banyuasin tersebut apalagi satu bulan ini saja ada sekitar 30 orang,Tanda tanda penyakit DBD adalah pasien mengeluarkan bintik merah, namun untuk kepastiannya memang harus dilakukan tes laboratorium. Positif atau tidaknya hasil test ditentukan oleh kandungan trombosit dalam darah. Untuk pasien baru mengalami gr I belum berbahaya. Tetapi kami akan bertindak cepat untuk pengobatan DBD yang makin membahayakan,” jelasnya. (sir)
Demam berdarah dengue(DBD) menyerang beberapa daerah di wilayah Kabupaten Banyuasin di Pangkalan Balai, Sedang, Air Sangris, dan Taja raja II, Talang Kelapa, Banyuasin III, Banyuasin I, Tanjung Lago, Betung dan Rambutan beberapa hari terakhir. Keteledoran warga dalam menjaga kesehatan lingkungannya dinilai menjadi penyebab munculnya kedua penyakit ini.
Berdasarkan pendataan Kepala Dinas Kesehatan dr Ayuhana Awam menjelaskan, peningkatan DBD di Banyuasin lebih cenderung karena perubahan iklim, dari musim panas ke musim hujan. Pihaknya pun sudah melakukan upaya pencegahan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Dinas kesehatan juga menetapkan 10 daerah endemis DBD, masing-masing di Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin III, Banyuasin I, Tanjung Lago, Betung dan Rambutan. “Daerah endemis tersebut sudah kita antisipasi dengan cara penyuluhan lingkungan sehat dan perilaku sehat kepada masyarakat, termasuk penyuluhan PSN, baik dengan cara 3M, Fogging maupun abate," tuturnya.
Dalam radius 25 meter, kata Ayuhana, Dinas Kesehatan melakukan penyelidikan, ternyata memang didekat sana terdapat genangan air sehingga menimbulkan jentik, dilokasi tersebut juga sudah dilakukan double cycle fogging.
Diakui Ayuhana, fogging memang bukan pemecah permasalahan DBD yang tepat, sebab fogging yang dilakukan hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telur nyamuk sama sekali tidak dapat dibunuh.
“Bisa dibayangkan satu ekor nyamuk bisa menelurkan 200 ekor jentik, dan telur-telur mereka bisa bertahan meski tidak dalam kondisi digenangi air. Karenanya selain fogging kami juga berharap massyarakat bisa menciptakan hidup sehat, dengan menjaga lingkungannya. Kemudian kami juga menghimbau untuk melakukan 3 M, mengubur, menguras dan menutup wadah-wadah air," terangnya.
Ditambahkannya, penyebaran penyakit ini, karena kurangnya kepedulian warga dalam menjaga kebersihan lingkungan pada saat musim hujan.
Peningkatan kasus DBD ini sendiri diakui oleh Kepala RSUD Banyuasin, dr Syaumaryadi MEpid. Menurutnya, hampir setiap bulan ia menerima pasien dengan keluhan seperti DBD. Seperti M.Ilham ,Ikba warga pangkalan balai(18), Anisa Air sangris,Nuzuli Taja Raya,Dina Air Sangris dan Dina (20)Pangkalan Balai,yang di rawat di RSUD Banyuasin Sekarang.
“Untuk keluhannya memang penyakit DBD menjadi penyakit nomor satu yang ada di Rsud Banyuasin tersebut apalagi satu bulan ini saja ada sekitar 30 orang,Tanda tanda penyakit DBD adalah pasien mengeluarkan bintik merah, namun untuk kepastiannya memang harus dilakukan tes laboratorium. Positif atau tidaknya hasil test ditentukan oleh kandungan trombosit dalam darah. Untuk pasien baru mengalami gr I belum berbahaya. Tetapi kami akan bertindak cepat untuk pengobatan DBD yang makin membahayakan,” jelasnya. (sir)
Puluhan Rumah Warga Tungkal Jaya Terendam Banjir
Tungkaljaya, SN
Sedikitnya 51 rumah warga di Desa Peninggalan,Kecamatan Tungkaljaya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) sejak empat hari lalu terendam banjir akibat luapan Sungai Peninggalan. Banjir
diperkirakan akan semakin meluas, jika dalam beberapa hari kedepan turun hujan.
Memasuki musim penghujan kali ini, rasa cemas memang tengah melandawarga yang bermukim di bantaran sungai. Terutama mereka yang tinggal di sekitar bangunan Jembatan Peninggalan. Di sini, luapan sungai sudahmerendam beberapa pekarangan rumah warga. Akibatnya, aktivitas merekasehari-hari terhambat dan warga terpaksa membuat jembatan darurat menuju rumah atau menggunakan perahu bagi yang punya.
"Banjir sudah terjadi sejak Jumat lalu. Yang kita takutkan ada hujandi bagian hulu sungai ini, sehingga luapan air bertambah. Kalau itu terjadi, kami terpaksa mengungsi," ujar Sulaiman, salah seorang warga yang rumahnya juga terkena banjir.
Hal senada dikatakan Pendi, warga lainnya. Dia mengatakan banjir
melanda tiga Rukun Tetangga (RT). Di RT 02 ada 33 buah rumah, RT 03 15dan tiga lagi di RT 04.
"Semua rumah di sini umumnya panggung. Ada yang sejengkal lagi airmenyentuh lantai," katanya.
Meski air dengan kedalaman sekitar satu meter ini nyaris masuk rumahwarga, namun sejauh ini pemiliknya masih bertahan. Sebagian hanyabersiap-siap untuk mengungsi jika memang situasi kedepan semakinmemburuk lantaran hujan deras.
Terkait hal ini, Camat Sugeng melalui Sekretaris Camat (Sekcam) Tungkaljaya Firman Irawansaat disambangi koran ini kemarin mengatakan, pada dasarnya banjir sepertiini sudah biasa terjadi di sana. Hal itu disebabkan bagian sungai didekat pankal jembatan terbilang dangkal. Karena itu saat turun hujandi hulu sungai, airnya meluap ke pemukiman penduduk di sekitar.
Meburutnya, karena sudah terbiasa warga pun sudah cukup maklum. "Yang kita khawatirkan dalam beberapa hari kedepan masih hujan deras,ya terpaksa warga kita ungsikan. Satu lagi anak-anak. Karena air disekitar rumah itu cukup dalam, tentu kita khawatir terhadapkeselamatan mereka," tandasnya. (her)
Sedikitnya 51 rumah warga di Desa Peninggalan,Kecamatan Tungkaljaya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) sejak empat hari lalu terendam banjir akibat luapan Sungai Peninggalan. Banjir
diperkirakan akan semakin meluas, jika dalam beberapa hari kedepan turun hujan.
Memasuki musim penghujan kali ini, rasa cemas memang tengah melandawarga yang bermukim di bantaran sungai. Terutama mereka yang tinggal di sekitar bangunan Jembatan Peninggalan. Di sini, luapan sungai sudahmerendam beberapa pekarangan rumah warga. Akibatnya, aktivitas merekasehari-hari terhambat dan warga terpaksa membuat jembatan darurat menuju rumah atau menggunakan perahu bagi yang punya.
"Banjir sudah terjadi sejak Jumat lalu. Yang kita takutkan ada hujandi bagian hulu sungai ini, sehingga luapan air bertambah. Kalau itu terjadi, kami terpaksa mengungsi," ujar Sulaiman, salah seorang warga yang rumahnya juga terkena banjir.
Hal senada dikatakan Pendi, warga lainnya. Dia mengatakan banjir
melanda tiga Rukun Tetangga (RT). Di RT 02 ada 33 buah rumah, RT 03 15dan tiga lagi di RT 04.
"Semua rumah di sini umumnya panggung. Ada yang sejengkal lagi airmenyentuh lantai," katanya.
Meski air dengan kedalaman sekitar satu meter ini nyaris masuk rumahwarga, namun sejauh ini pemiliknya masih bertahan. Sebagian hanyabersiap-siap untuk mengungsi jika memang situasi kedepan semakinmemburuk lantaran hujan deras.
Terkait hal ini, Camat Sugeng melalui Sekretaris Camat (Sekcam) Tungkaljaya Firman Irawansaat disambangi koran ini kemarin mengatakan, pada dasarnya banjir sepertiini sudah biasa terjadi di sana. Hal itu disebabkan bagian sungai didekat pankal jembatan terbilang dangkal. Karena itu saat turun hujandi hulu sungai, airnya meluap ke pemukiman penduduk di sekitar.
Meburutnya, karena sudah terbiasa warga pun sudah cukup maklum. "Yang kita khawatirkan dalam beberapa hari kedepan masih hujan deras,ya terpaksa warga kita ungsikan. Satu lagi anak-anak. Karena air disekitar rumah itu cukup dalam, tentu kita khawatir terhadapkeselamatan mereka," tandasnya. (her)
Warga Keluhkan Jalan 108 Babat Supat Rusak
Sekayu, SN
Ruas jalan 108 yang menghubungkan wilayah Kecamatan Babat Supat ke jalan lintas timur Palembang-Jambi kian memprihatinkan. Belasan kilo meter badan jalan dipenuhi lubang berlumpur saat turun hujan dan batu koral yang bertebaran di pinggir jalan.
“Ini bukan jalan perusahaan minyak ataupun batubara. Tapi ini jalan yang dibuat Pemerintah Kabupaten Muba. Guna memperlancar akses pemerintahan dan perekonomi masyarakat membawa hasil pertanian, Kami masyarakat kecil hanya bisa berharap Pak bupati melihat kondisi ini dan menindaklanjutinya,” ujar candra warga Desa Supat.
Menurut dia, bertahun-tahun puluhan truk yang mengangkut hasil pertambangan batubara dan minyak CPO melintas di jalan kabupaten itu setiap harinya. Jika panas menimbulkan debu, dan saat musim hujan penuh lumpur dengan lubang di sana sini. Anehnya, kata candra , meski ini sudah berlangsung lama tidak ada tindakan tegas dari Pemkab Muba terhadap operasional truk-truk tersebut.
“Yang lewat di jalan ini tidak hanya truk kecil. Tidak jarang tronton melebihi tonase, namun sekarang sebatas kendaran damtruk milik perusahaan juga ikut andil dalam kerusakan,” ujarnya.
Hal senada dikatakan Mulyanto. Menurut dia, umumnya kendaraan yang melintas di wilayah itu mengangkut batubara milik PT Baturona dan Truk tengki minyak CPO dari PT MBI. Lemahnya kebijakan pemerintah ditambah kurangnya pengawasan legeslatif sebagai peran kontrol terhadap perusahan yang beroperasi mengunankan akses jalan pemerintah kabupaten, membuat akses jalan penghubung utama di kecataman tersebut rusak berkepanjangan.
“Kita tidak menapikan adanya usaha perbaikan dari pihak perusahaan. Tapi apa yang dilakukan tidak sesuai dengan dampak yang ditimbulkan. Masa Cuma ditimbun-timbun saja pakai batu koral,” ujarnya.
Informasi terkait kerusakan jalan lintas yang akrab disebut jalan 108 ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat. Dari pengamatan beberapa hari terakhir, apa yang dikeluhkan masyarakat setempat mungkin tidaklah berlebihan. Sebab faktanya, jalan tersebut memang rusak dan kurang dari sehari puluhan truk mengangkut minyak dan batubara melintas di sana.
Salah seorang sumber menyebutkan, puluhan truk ini dikoordinir pihak ketiga yang menjalankan proyek dari perusahaan terdekat. Untuk mempermudah operasionalnya, pihak ketiga menyewa beberapa truk milik warga setempat disamping truk dari daerah lainnya. Sebab dilihat dari plat atau nomor polisi kendaraan, tidak hanya BG (wilayah Sumsel) tapi juga B, E, BH, dan BE. (her)
Ruas jalan 108 yang menghubungkan wilayah Kecamatan Babat Supat ke jalan lintas timur Palembang-Jambi kian memprihatinkan. Belasan kilo meter badan jalan dipenuhi lubang berlumpur saat turun hujan dan batu koral yang bertebaran di pinggir jalan.
“Ini bukan jalan perusahaan minyak ataupun batubara. Tapi ini jalan yang dibuat Pemerintah Kabupaten Muba. Guna memperlancar akses pemerintahan dan perekonomi masyarakat membawa hasil pertanian, Kami masyarakat kecil hanya bisa berharap Pak bupati melihat kondisi ini dan menindaklanjutinya,” ujar candra warga Desa Supat.
Menurut dia, bertahun-tahun puluhan truk yang mengangkut hasil pertambangan batubara dan minyak CPO melintas di jalan kabupaten itu setiap harinya. Jika panas menimbulkan debu, dan saat musim hujan penuh lumpur dengan lubang di sana sini. Anehnya, kata candra , meski ini sudah berlangsung lama tidak ada tindakan tegas dari Pemkab Muba terhadap operasional truk-truk tersebut.
“Yang lewat di jalan ini tidak hanya truk kecil. Tidak jarang tronton melebihi tonase, namun sekarang sebatas kendaran damtruk milik perusahaan juga ikut andil dalam kerusakan,” ujarnya.
Hal senada dikatakan Mulyanto. Menurut dia, umumnya kendaraan yang melintas di wilayah itu mengangkut batubara milik PT Baturona dan Truk tengki minyak CPO dari PT MBI. Lemahnya kebijakan pemerintah ditambah kurangnya pengawasan legeslatif sebagai peran kontrol terhadap perusahan yang beroperasi mengunankan akses jalan pemerintah kabupaten, membuat akses jalan penghubung utama di kecataman tersebut rusak berkepanjangan.
“Kita tidak menapikan adanya usaha perbaikan dari pihak perusahaan. Tapi apa yang dilakukan tidak sesuai dengan dampak yang ditimbulkan. Masa Cuma ditimbun-timbun saja pakai batu koral,” ujarnya.
Informasi terkait kerusakan jalan lintas yang akrab disebut jalan 108 ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat. Dari pengamatan beberapa hari terakhir, apa yang dikeluhkan masyarakat setempat mungkin tidaklah berlebihan. Sebab faktanya, jalan tersebut memang rusak dan kurang dari sehari puluhan truk mengangkut minyak dan batubara melintas di sana.
Salah seorang sumber menyebutkan, puluhan truk ini dikoordinir pihak ketiga yang menjalankan proyek dari perusahaan terdekat. Untuk mempermudah operasionalnya, pihak ketiga menyewa beberapa truk milik warga setempat disamping truk dari daerah lainnya. Sebab dilihat dari plat atau nomor polisi kendaraan, tidak hanya BG (wilayah Sumsel) tapi juga B, E, BH, dan BE. (her)
Alex Musni Jabat Plt Sekda Pagaralam
Pagaralam, SN
Drs Alke Musni MM, Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Kota Pagaralam, dilantik Walikota Pagaralam, Drs H Djazuli Kuris, MM sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Sekda menggantikan Drs H A Fachri, di Aula SD Model, Rabu (30/11).
Turut hadir dalam pelantikan tersebut Ketua DPRD Pagaralam H Ruslan Abdul Gani, Wakil Walikota Pagaralam Hj Ida Firtriati dan unsur Muspida lainnya.
"Penunjukan A Musni sebagai Plt Seksa Kota Pagaralam, ini berdasarkan surat perintah Gubernur Sumatera Selatan No 821.2/215/BKD.II/2011," kata Kabag Humas, Pemkot Pagaralam, Imam Pasli, SSTP.
Menurut dia, A Fachri sudah memasuki masa pensiun mulai bulan Oktober 2011 lalu, namun pelantikan Plt baru dapat dilakukan bulan November ini.
"Sekda merupakan jabatan tertinggi dilingkungan PNS Kota Pagaralam, sehingga setelah pejabat yang lama memasuki masa pensiun harus dilakukan pergantian segera," ungkap dia.
Sementara itu A Fachri, usai pelantikan mengatakan, terima kasih kepada semua pegawai Pemkot Pagaralam dan masyarakat yang sudah mendukung dan membantu dalam mendukung tugas selama menjabt Sekda selama sembilan tahun tujuh bulan.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada semua elemen masyarakat Pagaralam dan seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah mempercayakan dan memberikan amanah serta dukungannya selama saya bertugas sebagai Sekretaris daerah," ungkapnya.
Walikota Pagaralam, Drs H Djazuli Kuris, mengatakan jabatan merupakan aman dan harus dipertangungjawabkan bukan hanya dihadapan masyarakat, namun yang paling tinggi di hadapan Allah SWT.
"Kita cukup berterima kasih kepada A Fachri yang sudah mengabdikan diri selama sembilan tahun sejak Kota Pagaralam menjadi daerah otonomi pada tahun 2001 lalu," ungkapnya. (asn)
Drs Alke Musni MM, Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Kota Pagaralam, dilantik Walikota Pagaralam, Drs H Djazuli Kuris, MM sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Sekda menggantikan Drs H A Fachri, di Aula SD Model, Rabu (30/11).
Turut hadir dalam pelantikan tersebut Ketua DPRD Pagaralam H Ruslan Abdul Gani, Wakil Walikota Pagaralam Hj Ida Firtriati dan unsur Muspida lainnya.
"Penunjukan A Musni sebagai Plt Seksa Kota Pagaralam, ini berdasarkan surat perintah Gubernur Sumatera Selatan No 821.2/215/BKD.II/2011," kata Kabag Humas, Pemkot Pagaralam, Imam Pasli, SSTP.
Menurut dia, A Fachri sudah memasuki masa pensiun mulai bulan Oktober 2011 lalu, namun pelantikan Plt baru dapat dilakukan bulan November ini.
"Sekda merupakan jabatan tertinggi dilingkungan PNS Kota Pagaralam, sehingga setelah pejabat yang lama memasuki masa pensiun harus dilakukan pergantian segera," ungkap dia.
Sementara itu A Fachri, usai pelantikan mengatakan, terima kasih kepada semua pegawai Pemkot Pagaralam dan masyarakat yang sudah mendukung dan membantu dalam mendukung tugas selama menjabt Sekda selama sembilan tahun tujuh bulan.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada semua elemen masyarakat Pagaralam dan seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah mempercayakan dan memberikan amanah serta dukungannya selama saya bertugas sebagai Sekretaris daerah," ungkapnya.
Walikota Pagaralam, Drs H Djazuli Kuris, mengatakan jabatan merupakan aman dan harus dipertangungjawabkan bukan hanya dihadapan masyarakat, namun yang paling tinggi di hadapan Allah SWT.
"Kita cukup berterima kasih kepada A Fachri yang sudah mengabdikan diri selama sembilan tahun sejak Kota Pagaralam menjadi daerah otonomi pada tahun 2001 lalu," ungkapnya. (asn)
Warga Pagaralam Temukan Keris Ratusan Tahun
![]() |
| foto net/ilust |
Warga Kota Pagaralam, menemukan keris berumur ratusan tahun peninggalan puyang "Raje Nyawe" di puncak Gunung Api Dempo. Sebetulnya ada dua jenis benda pusaka peninggalan puyang "Raja Nyawa" yang berhasil ditemukan yaitu keris dan tasbih. Demikian diungkapkan Wahadi, warga Kampung II Kelurahan Gunung Dempo, Kecamatan Pagaralam Selatan, Rabu (30/11).
Menurut dia, kedua benda pusaka ini berukuran panjang sekitar 30 centimeter dan besarnya sama dengan keris pada umumnya.
"Sedangkan tasbih berwarna putih, sementara ukuran dan bentuknya sama dengan yang sering kita lihat," ungkap dia.
Ia mengatakan namun untuk mendapatkan berbagai bendan pusaka ini dibutuhkan berbagai ritual termasuk semedi di puncak Gunung Api Dempo.
"Sebelumnya saya juga pernah mendapat tungkat naga peninggalan puyang "Raje Nyawe" di puncak Dempo," ungkap dia.
Ia mengatakan, penemuan semua benda pusaka ini dilakukan melalui berbagai ritual khusus dan pendekatan secara supranatural atau gaib.
"Kebetulan saat itu saya sedang berada di puncak Gunung Api Dempo, seperti biasa ritual yang dilakukan dengan berzikir dan melakukan sahalat malam. Ketika sedang melakukan ritual itulah muncul sinar warna putih dan setelah didekati ternyata benda pusata tersebut," ungkap dia.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Senibudaya, Sukaimi, mengatakan untuk mendukung Pagaralam, sebagai daerah cagar budaya sudah dibangun berbagai sarana pendukung, seperti musium terbuka dan termasuk rencana pembangunan musium tempat menyimpan benda pusaka.
"Kita sudah membuat musium replika megalit di halaman kantor Pemkot Pagaralam, diatas lahan seluas 1/2 hektar," ungkap dia.
Dia mengatakan, pembuatan musium ini bukan hanya untuk mendukung wisata sejarah tapi sebagai bentuk pelestarian berbagai aset budaya sejarah yang tersebar di daerah Pagaralam.
"Kita ingin bila wisatawan yang datang ke Pagaralam, tidak harus mengunjungi satu persatu lokasi megalit tapi cukup datang ke musium di Komplek Perkantoran Gunung Gare. Selain lokasinya terbuka dan keberadaan musium juga merupakan penghias keindahan taman perkantoran," ungkapnya. (asn)
Selasa, 29 November 2011
e-KTP di OKI Tidak Sesuai Target
Kayuagung, SN
Program pemerintah pusat berupa e-KTP memang ditargetkan rampung akhir tahun ini namun itu hanyalah impian belaka. Apalagi di Kabupaten OKI baru sekitar 30 ribu warga yang melakukan perekaman e-KTP, padahal wajib KTP sebanyak 500.839.800 warga.
Rasa pesimis tidak akan rampung perekaman e-KTP di OKI kian bermunculan. Banyak faktor penyebabnya seperti launching baru dilakukan Oktober lalu, wilayah OKI perairan jadi menyulitkan warga menuju kecamatan, lambatnya kedatangan peralatan dan faktor nonteknis lainnya.
Kepala Dinas Dukcapil OKI diwakili Padul Abbas yang menjabat Kabid Pendaftaran kemarin mengatakan, fakta yang ada saat ini pihaknya membenarkan sangat sulit untuk menuntaskan perekaman e-KTP hingga 31 Desember mendatang.
Keterlambatan pelaksanaan program yang dilakukan dari pusat merupakan faktor utama. Bahkan sejumlah kecamatan di OKI baru melakukan program ini sejak beberapa pekan lalu karena memang peralatan belum ada.
"Jaringan internet dan listrik juga faktor penghambatnya, keterlambatan pelayanan ini lantaran peralatan yang dikirimkan dari perusahaan konsorsium (gabungan perusahaan) yang ditunjuk pemerintah pusat dalam hal pengiriman peralatan tidak serentak.
Perusahaan konsorsium dalam hal pendistribusian peralatan E-KTP termasuk juga persoalan tenaga teknisi yang sudah tidak ada lagi di Kabupaten OKI dengan alasan sudah habis kontrak. “Sebab jika alat-alat rusak maka harus diperbaiki sementara petugas teknis dari PT Quadran sudah habis masa kontraknya dan tidak ada lagi di OKI,” ujarnya.
Padul menambahkan, pihaknya telah mengirimkan surat ke Dirjen Adminduk Kemendagri RI terkait permintaan alat E-KTP yang moubeling atau portabel untuk daerah perairan. “ Kendala geografis OKI yang banyak daerah perairan juga menyulitkan dalam mobilitas masyarakat dalam pembuatan E-KTP,” pungkasnya.(iso)
Foto: warga Kayuagung antri merekam e-KTP di kantor camat
Hati Hati, DBD Mulai Menyerang Warga

Indralaya, SN
Memasuki musim penghujan, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang diakibatkan gigitan nyamuk Aides Aegypti mulai menyerang warga. Ini seperti dialami Honto (25), warga Desa Sri Tanjung Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir (OI) sejak dua hari terakhir. Bahkan oleh dokter yang memeriksanya, pasien DBD itu telah divonis stadium I.
Menurut Ikbal (salah seorng keluarga pasien), hingga kini pasien DBD itu masih dilakukan rawat jalan sambil menunggu kondisi trombisit. “Kata dokter puskesmas di desa ini, pasien Honto bisa sewaktu-waktu dirujuk ke rumah sakit bila kondisinya membahayakan,” ujar Ikbal kemarin.
Sementara Kepala Dinkes H Kosasi melalui Kabid Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Hendra Kudeta SKM mengatakan, penyakit DBD itu dapat menyerang siapa saja di saat terjadinya peralihan musim ini. Oleh sebab itu di setiap puskesmas sudah disebar 5 galon cairan abate (setiap galon berisi 20 kg abate) untuk membunuh jentik nyamuk yang berbahaya.
“Setiap masyarakat bisa memanfaatkannya di puskesmas secara gratis,” ujarnya.
Selain itu lanjut Hendra, pihaknya segera melakukan pengasapan bila diperlukan. Namun terlebih dahulu dilakukan pengecekan daerah mana yang perlu disemprot. “Soalnya harus fokus daerah mana yang mewabah. Jika benar di daerah Sri Tanjung sudah ada yang terjangkit, kita segera mungkin melakukan foging,” imbuhnya.
Hendra mengakui, ada tiga Kecamatan di Bumi Caram Seguguk ini sebagai tempat rawan atas penyakit yang mematikan tersebut, untuk itu pihaknya saat ini terus melakukan pemantauan terhadap daerah tersebut. Daerah itu adalah Kecamatan Tanjung Raja, Tanjung Batu, dan Kecamatan Indralaya. “Kita memang tidak mengetahui jika di Kecamatan Tanjung Batu ada yang terjangkit penyakit tersebut karena itu kita akan berkoordinasi dengan pihak Puskesmas setempat,” katanya. (man)
Operasional Radio Agropolitan Terkendala Aliran Listrik
Musi Rawas, SN
Radio Agropolitan milik Pemerintah Kabupaten Musi Rawas (Mura), hingga saat ini belum bisa mengudara karena masih terkendala aliran listrik.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Musi Rawas, Ari Narsa JS, Senin (28/11).
Dijelaskannya, radio tersebut merupakan sarana komunikasi dan informasi bagi masyarakat daerah itu, baik untuk informasi bidang pertanian, perkebunan maupun harga pasar komuditas andalan daerah ini seperti harga beras, karet dan harga jual buah sawit.
Untuk itu, keberadaan radio Agropolitan yang di dirikan pemkab daerah dengan menempati bangunan rumah toko (ruko) dikawasan Agropolitan diharapkan akan bisa secepatnya beroperasi.
“Secepatnya kita ingin radio ini beroperasi karena akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, sebab materi siarannya menyangkut informasi pertanian secara umum yang bisa membantu masyarakat petani di daerah ini,” katanya.
Ditambahkan Ari, radio Agropolitan ini bila sudah beroperasi nantinya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Kabupaten Mura di 21 kecamatan, karena daya jangkau frekuensinya hingga ke Kabupaten Empat Lawang, Lahat serta sampai ke Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu dan Kabupaten Sarolangun-Jambi.
Selain akan menyiarkan berita-berita tentang pembangunan, pertanian dan perkebunan di daerah, radio Agropolitan juga akan menyiarkan berita-berita nasional dan seputar berita daerah.
“Radio ini juga akan menjadi media pendidikan, hiburan serta menjadi pusat informasi bisnis khususnya bagi masyarakat Musi Rawas,” demikan katanya. (fik)
Radio Agropolitan milik Pemerintah Kabupaten Musi Rawas (Mura), hingga saat ini belum bisa mengudara karena masih terkendala aliran listrik.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Musi Rawas, Ari Narsa JS, Senin (28/11).
Dijelaskannya, radio tersebut merupakan sarana komunikasi dan informasi bagi masyarakat daerah itu, baik untuk informasi bidang pertanian, perkebunan maupun harga pasar komuditas andalan daerah ini seperti harga beras, karet dan harga jual buah sawit.
Untuk itu, keberadaan radio Agropolitan yang di dirikan pemkab daerah dengan menempati bangunan rumah toko (ruko) dikawasan Agropolitan diharapkan akan bisa secepatnya beroperasi.
“Secepatnya kita ingin radio ini beroperasi karena akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, sebab materi siarannya menyangkut informasi pertanian secara umum yang bisa membantu masyarakat petani di daerah ini,” katanya.
Ditambahkan Ari, radio Agropolitan ini bila sudah beroperasi nantinya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Kabupaten Mura di 21 kecamatan, karena daya jangkau frekuensinya hingga ke Kabupaten Empat Lawang, Lahat serta sampai ke Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu dan Kabupaten Sarolangun-Jambi.
Selain akan menyiarkan berita-berita tentang pembangunan, pertanian dan perkebunan di daerah, radio Agropolitan juga akan menyiarkan berita-berita nasional dan seputar berita daerah.
“Radio ini juga akan menjadi media pendidikan, hiburan serta menjadi pusat informasi bisnis khususnya bagi masyarakat Musi Rawas,” demikan katanya. (fik)
Tak Senang Ditegur, Oknum TNI Aniaya Satpam Pertamina
Prabumulih, SN
Merasa tidak senang ditegur, seorang oknum anggota TNI berinisial Prada Vct (22) mengamuk dan menganiaya seorang petugas security Kompleks Pertamina EP Region Sumatera, Kota Prabumulih, Minggu (27/11) siang sekitar pukul 13.00 WIB. Akibat pemukulan oknum TNI yang baru bertugas di salah satu kesatuan batalyon di Karang Endah, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim ini, korban Wahyudi (23) menderita luka lebam pada bagian pipi sebelah kiri.
Peristiwa pemukulan dan penganiayaan itu terjadi di Pos 6 pintu masuk pagar belakang Kompleks Pertamina EP Region Sumatera atau tidak jauh dari Kompleks Polisi Militer (PM) Kota Prabumulih. Pemukulan berawal saat pelaku bersama dua temannya bermaksud memasuki pintu penjagaan security Pos 6, menggunakan dua kendaraan sepeda motor.
Namun sebelum masuk ke pintu masuk Pos 6 (TKP), rombongan pelaku sempat ditegur korban karena tidak menggunakan helm.
“Saat itu petugas kita hanya menegur pada rombongan pelaku karena tidak memakai helm, disitu pelaku sudah menunjukkan sikap tidak senang dan berkata kasar,” kenang Suharsono, Pengawas Security Pertamina Field Prabumulih, ditemui dikantornya, Senin (28/11) pagi.
“Tidak lama kemudian mungkin sekitar 10 menitlah, pelaku yang sebelumnya masih diperbolehkan masuk ke dalam lokasi komplek Pertamina, tiba–tiba kembali lagi dan turun dari kendaraannya langsung memukul pipi sebelah kiri Wahyudi (petugas security) dan kemudian langsung kabur meninggalkan korban yang kesakitan,” lanjut Suharsono, dengan nada geram.
Asistant Manager Security PT Pertamina EP Region Sumatera Rachman, melalui Pengawas Utama Security Field Pertamina Abdul Kanan, ketika dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. Salah satu anggotanya, dipukul salah seorang oknum TNI saat sedang menjalankan tugasnya di Pos 6 pintu masuk pagar belakang Kompleks Pertamina.
Pelaku memukul korban karena tidak senang ditegur gara–gara tidak memakai helm saat memasuki kawasan Kompleks Pertamina. “Jadi sangat banyak kesalahan oknum anggota TNI ini, sudah memasuki kawasan tertib kompleks Pertamina tanpa menggunakan helm. Kemudian memukul petugas kita dan melanggar forbodden perboden karena keluar lewat pintu masuk Pos 6,” terang Kanan, ditemui diruangannya, kemarin pagi.
Selain sudah dilaporkan ke Detasemen POM Prabumulih, pihaknya juga sudah mengirimkan surat pemberitahuan ke Komandan Batalyon tempat pelaku bertugas. "Bagaimana sanksi atau hukuman apa yang bakal diterima oknum ini, kita serahkan ke Danyonnya. Jelas kalau sempat bertemu dengannya saat kejadian, mungkin saya tonjok ia karena hal itu tidak dibenarkan dalam aturan TNI,” tandas purnawirawan TNI berpangkat terakhir Kapten ini, kesal. (and)
Merasa tidak senang ditegur, seorang oknum anggota TNI berinisial Prada Vct (22) mengamuk dan menganiaya seorang petugas security Kompleks Pertamina EP Region Sumatera, Kota Prabumulih, Minggu (27/11) siang sekitar pukul 13.00 WIB. Akibat pemukulan oknum TNI yang baru bertugas di salah satu kesatuan batalyon di Karang Endah, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim ini, korban Wahyudi (23) menderita luka lebam pada bagian pipi sebelah kiri.
Peristiwa pemukulan dan penganiayaan itu terjadi di Pos 6 pintu masuk pagar belakang Kompleks Pertamina EP Region Sumatera atau tidak jauh dari Kompleks Polisi Militer (PM) Kota Prabumulih. Pemukulan berawal saat pelaku bersama dua temannya bermaksud memasuki pintu penjagaan security Pos 6, menggunakan dua kendaraan sepeda motor.
Namun sebelum masuk ke pintu masuk Pos 6 (TKP), rombongan pelaku sempat ditegur korban karena tidak menggunakan helm.
“Saat itu petugas kita hanya menegur pada rombongan pelaku karena tidak memakai helm, disitu pelaku sudah menunjukkan sikap tidak senang dan berkata kasar,” kenang Suharsono, Pengawas Security Pertamina Field Prabumulih, ditemui dikantornya, Senin (28/11) pagi.
“Tidak lama kemudian mungkin sekitar 10 menitlah, pelaku yang sebelumnya masih diperbolehkan masuk ke dalam lokasi komplek Pertamina, tiba–tiba kembali lagi dan turun dari kendaraannya langsung memukul pipi sebelah kiri Wahyudi (petugas security) dan kemudian langsung kabur meninggalkan korban yang kesakitan,” lanjut Suharsono, dengan nada geram.
Asistant Manager Security PT Pertamina EP Region Sumatera Rachman, melalui Pengawas Utama Security Field Pertamina Abdul Kanan, ketika dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. Salah satu anggotanya, dipukul salah seorang oknum TNI saat sedang menjalankan tugasnya di Pos 6 pintu masuk pagar belakang Kompleks Pertamina.
Pelaku memukul korban karena tidak senang ditegur gara–gara tidak memakai helm saat memasuki kawasan Kompleks Pertamina. “Jadi sangat banyak kesalahan oknum anggota TNI ini, sudah memasuki kawasan tertib kompleks Pertamina tanpa menggunakan helm. Kemudian memukul petugas kita dan melanggar forbodden perboden karena keluar lewat pintu masuk Pos 6,” terang Kanan, ditemui diruangannya, kemarin pagi.
Selain sudah dilaporkan ke Detasemen POM Prabumulih, pihaknya juga sudah mengirimkan surat pemberitahuan ke Komandan Batalyon tempat pelaku bertugas. "Bagaimana sanksi atau hukuman apa yang bakal diterima oknum ini, kita serahkan ke Danyonnya. Jelas kalau sempat bertemu dengannya saat kejadian, mungkin saya tonjok ia karena hal itu tidak dibenarkan dalam aturan TNI,” tandas purnawirawan TNI berpangkat terakhir Kapten ini, kesal. (and)
KPK Dilemahkan Dengan Banyaknya Kepentingan
Oleh Agus Harizal Alwie Tjikmat SAAT ini seleksi untuk calom pimpinan KPK terus dilakukan. Tetapi kalau kita lihat dan dengar, seleksi capim komisi ini terjadi tarik ulur yang sangat tampak. Hal ini jelas karena banyaknya kepentingan yang ingin masuk. Ditambah lagi gaung dan taring komisi ini terus hilang, yang disebabkan banyaknya kasus korupsi yang tak selesai.
Kelemahan KPK sekarang belum bisa fokus dan masih berpihak ke penguasa. Harusnya hindari konflik, berpolitik, banyak bicara dan bersinergi. Pimpinan KPK yang terlalu banyak komentar di media membuatnya kehilangan makna.
Kinerja KPK selama ini sangat tak sebanding dengan anggaran yang disedotnya. Dari data tahun ini saja KPK belum bisa maksimal mengembalikan uang negara yang dimaling para koruptor. Setahun belakangan KPK hanya bisa mengembalikan Rp 500 miliar, sedangkan anggaran untuk sistem kerjanya bisa puluhan kali lipat.
mata anak panah KPK kini tak setajam dulu, semasa Antasari Azhar menjadi ketua. Kini KPK harus disibukkan dengan banyak kasus sendiri yang mendera, hal ini membuat KPK seperti 'dilemahkan'. Ingat saat akan digelar dengar pendapat KPK dengan DPRRI, pertemuan harus bubar karena status dua ketua KPK yang masih dianggap tersangka.
Sebenarnya bukan hanya faktor itu yang membuat KPK makin tarik ulur menyelesaikan kasus dan tak segarang dulu lagi.
Sangat terlihat banyak kepentingan yang masuk ke tubuh komisi ini. Mulai dari aroma politik, kekuasaan, atau kepentingan kelompok. Kondisi tersebut membuat KPK nampak sangat hati-hati untuk menangani kasus.
Kita ingat kasus Bank Century. Sangat mustahil KPK yang katanya punya peralatan sadap super canggih, tak bisa membuka kasus tersebut. Untuk masalah ini, tergantung dengan niat dan kepentingan yangs secara sadar melingkar di perangkat pemerintahan. Kasus Bank Century yang sudah menelan energi sangat banyak, akhirnya harus hilang ditepis isu lain yang lebih panas.
Tak hanya itu, ada beberapa kasus yang penangangananya sangat lama dan berlarut-larut. Ini kan memunculkan banyak pertanyaan dan dugaan miring.
Kasus Agus Condro yang akhirnya menyeret banyak politisi PDIP, terkuak tiga tahun yang lalu. Tetapi baru ada tindak lanjutnya di tahun 2011. Penyelesaian kasus inipun sangat tidak adil, karena sampai sekarang sang pemberi suap ternyata aman-aman saja.
Kondisi KPK hanya sebagai pelengkap juga nampak saat penanganan kasus Gayus Tambunan. Khusus untuk desakan agar KPK menangani kasus Gayus, terjadi adu argumen yang menghabiskan banyak energi. Disebut demikian karena ternyata penguasa seperti buta-tuli tak menggubris alasan utama mengapa desakan itu terus muncul.
Dari seleksi capim KPK ini nantinya sangat diharapkan muncul nama yang disegani. Bukan nama yang dikendalikan rezim agar bisa aman dan nyaman untuk menyelamatkan sisa masa kekuasaan. (***)
Pemindahan SUTT Prabumulih Terancam Tidak Selesai
Prabumulih, SN
Pelaksanaan proyek Rerounting (pemindahan, red) Jalur Transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV Simpang Tiga Sindur, Kecamatan Cambai, Kota Prabumulih terancam tidak selesai. Dari 16 pemilik lahan yang tanahnya terkena jalur Right Of Way (ROW), tujuh diantaranya tetap menolak ganti rugi yang ditawarkan Pemkot Prabumulih.
Ketujuh pemilik lahan ini antara lain, enam pemilik kapling dikawasan Desa Pangkul dan satu pemilik usaha ternak ayam petelur di Kelurahan Sindur, Kecamatan Cambai. Alotnya proses negosiasi itu pun, diakui salah satu anggota Tim 9 bentukan Pemkot Prabumulih dalam menyelesaikan proses pembebasan lahan dan kompensasi ganti rugi pemindahan SUTT, Alfian.
"Proses negosiasi masih kita lakukan, dari 16 pemilik lahan yang masuk jalur pelaksanaan proyek SUTT ini tujuhnya masih belum ada titik temunya. Selebihnya sudah tidak ada masalah lagi, tinggal menunggu pencairan,” ungkap Alfian, ditemui di ruangan kerjanya, Jumat (25/11) lalu.
Menurut Kabag Tata Pemerintahan Pemkot Prabumulih ini, pihaknya tetap melakukan pendekatan terhadap ketujuh pemilik lahan tersebut. Andaipun mentok, Pemkot sendiri tetap membayarkan uang ganti rugi itu melalui jalur pengadilan. “Pemerintah sendiri tidak akan semena–mena, uang kompensasi ganti rugi tetap dibayarkan tapi lewat pengadilan. Namun hal itu sangat tidak kita harapkan, pemerintah tetap berusaha,” lanjut mantan Kabag Humas dan Protokoler Pemkot Prabumulih ini, bijak.
Disinggung apakah pekerjaan pemindahan dan pemasangan tower SUTT baru sebanyak enam unit berikut konduktor dan aksesorisnya itu tetap dilaksanakan pelaksana kontraktonya PT Gema Swastika Dinamika (GSD), seandainya proses negosiasi ganti rugi tetap menemui jalan buntu. Alfian menolak berkomentar, disamping bukan kapasitas dia, pihaknya juga masih menunggu hasil negosiasi tersebut.
“Kalau itu bukan kewenangan kita menjawabnya, kita hanya bertanggung jawab pada pembebasan lahan dan ganti rugi lahan. Soal itu kepada DPELH saja karena mereka teknisnya,” tukas Alfian, singkat.
Sementara dari pantauan dilapangan, akhir pekan lalu pelaksana kontraktor terlihat sudah mendatangkan sejumlah peralatan dan bahan material pemasangan tiang tower SUTT. Namun meskipun demikian, dari sejumlah pekerja dan pegawai PT GSD ini belum memastikan kapan material kerangka ericson tersebut akan dipasang.
“Betul pak, ini material untuk kerangka tower SUTT. Kemarin datangnya, tapi kita belum tahu pak kapan mulai dipasangnya karena masih menunggu petunjuk pihak DPELH. Kalau pak Gufi (Manager PT GSD) masih di Palembang pak, mungkin besok datang,” jawab salah satu pekerja SUTT, ketika ditemui dilokasi pengumpulan barang SUTT, sambil sibuk menyusun material tersebut. (and)
Senin, 28 November 2011
Warga Kurang Mampu OKI Operasi Katarak Gratis

Kayuagung, SN
Kegiatan Coorporate Social Responsibility (CSR) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Unit Regional Risk Management (RRM) Palembang bekerjasama dengan Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) melakukan operasi katarak gratis kepada warga OKI beberapa hari lalu.
Kegiatan sosial bertema ”Kemilau Mata Mandiri” ini pelaksanaannya di Puskesmas Tugujaya Desa Tugumulyo Kecamatan Lempuing selama dua hari dari tanggal 25 hingga 26 Nopember 2011. Sekitar kurang lebih 100 penderita yang rata-rata sudah lanjut usia (lansia) ini dengan didampingi sanak keluarganya mendatangi Puskesmas Tugujaya untuk mendapatkan penanganan operasi katarak gratis.
Senior Vice President PT Bank Mandiri M Sigit Pambudi dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat, khususnya masyarakat penderita yang telah hadir dalam ‘Kemilau Mata Mandiri’.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan bapak-bapak dan ibu-ibu dalam kegiatan bhakti sosial berupa operasi katarak gratis yang kami selenggarakan selama dua hari ini,” ujarnya.
Lanjut Sigit, Bank Mandiri akan selalu berkomitmen kepada masalah kesehatan masyarakat, termasuk penanganan penyakit katarak ini.
“Kenapa kami memilih pada kegiatan operasi katarak, karena kami yakin, akibat katarak yang diderita masyarakat, maka hal itu sangat berpengaruh pada kegiatan rutin si penderita, sehingga dengan adanya operasi katarak gratis ini, kami sangat berharap dapat membantu si penderita untuk kembali melakukan aktivitas rutinnya seperti sedia kala,” jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) OKI, dr H Mgs M Hakim Mkes dalam kesempatannya mengatakan, Insya Allah dengan kegiatan bhakti sosial seperti ini diharapkan dapat mensinergikan kembali si penderita untuk hidup normal dan dapat melanjutkan aktivitasnya kembali. (iso)
Foto: Kadinkes OKI didampingi pihak Bank Mandiri melihat pasien yang dioperasi.
Dranase Kelurahan Betung Rawan Banjir
Betung, SN
Untuk mewujudkan program Kabupaten bersih tahun 2012, sesuai pencanangan Bupati Banyuasin, H Amiruddin Inoed, maka Sekretaris Kelurahan Betung, M Sobir SSos langsung turun kelokasi mengajak warganya guna melakukan pembersihan lingkungan untuk bergotong-royong dengan membersihkan berbagai lingkungan permukiman masyarakat yang dianggap sudah menganggu kenyamanan dalam kehidupan masyarakatnya dan dranase Kelurahan Betung ini rawan banjir.
Kesempatan Minggu (27/11) ini dimulai pukul 08.00 wibhingga pukul 11.00 wib, Seklur mengajak warga dari 3 RT yakni RT,22, 25 dan 28 untuk bergotong-royong dengan membersihan saluran air yang tersumbat berbagai kotoran atau pendangkalan yang membuat air meluap dan mengalir dipermukaan badan jalan lintas timur kota Betung ini. Hal ini perlu dilakukan kata Sobir, jika menunggu adanya proyek propinsi maupun pusat entah kapan terealisasinya. Untuk itu yang setiap hari kita sendiri yang memanfatkan jalan ini, tak ada salahnya sebagai warga Negara yang baik kita lakukan terlebih dahulu.
"Mungkin dengan kepedulian kita ini akan menjadi perhatian pemerintah baik dari Kabupaten atau dari Tingkat Provinsi bahkan pemerintah Pusat. Memang kata Sobir, sebenarnya untuk penanganan pembangunan serta pemeliharaan pada jalan ini kewenangan pemerintah pusat, tetapi tehnisnya mungkin dari kabupaten atau provinsi.
Kita membersihkan saluran air yang terdapat di Jalan Dewaruci yang tersumbat kotoran dan pendangkalan serta aliran air pada dranase yang mengalami pendangkalan," terangnya.
Dengan dirinya turut langsung kelokasi ikut terjun dalam gotong royong ini, masyarakat pun semangat dan figur seperti Seklur yang satu inilah yang patut dijadikan panutan, sanjung warga saat diminta komentarnya.
Sadimin salah satu ketua RW setempat menambahkan, dengan gotong royong serta ikut turun langsung kelokasi seperti yang dilakukan oleh Seklur inilah masyarakat bersemangat melakukan berbagai kegiatan sosial seperti kali ini dan seperti ini perlu dilanjutkan, sebab manfaatnya sangat positif. Untuk itu Seklur meminta kepada warga Kelurahan Betung untuk melakukan kebersihan setiap hari Minggu pagi dan dia akan memandu langsung disetiap lokasi gotong-royong diselenggarakan.
Bukan hanya itu kata Sadimin, jika system kehidupan masyarakat selalu didahului oleh pimpinannya turut serta kelokasi. "Seperti ini, warga tidak akan malas justru sebaliknya bersemangat untuk menciptakan lingkungan sehat dan bersih sesuai semboyan Bupati Banyuasin itu yang mentargetkan mulai tahun 2012 bersih akan mudah wujudkan," katanya. (sir/her)
Langganan:
Postingan (Atom)
Press
My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.



