Senin, 21 November 2011

Saat JSC Mulai Menjadi Tempat Wisata


Oleh Agus Harizal Alwie Tjikmat

CITA-CITA dari Gubernur Sumsel H Alex Noerdin menjadikan Jakabaring Sport Center (JSC) sebagai arena dan lokasi SEA Games 2011 mulai terasa manfaat luasnya. Tak hanya itu harapan lokasi olahraga terpadu dan terlengkap di Asia Tenggara sebagai tempat wisata olahraga juga mulai terlihat.
Apa yang terjadi saat ini adalah tuaian cita-cita dari Gubernur Alex Noerdin sebagai sasaran antara SEA Games. Pernah dikatakan Gubernur, di lokasi JSC akan dibangun water theme park dan 4 kilometer arah Ogan Ilir akan dibangun Taman Safari. Nantinya JBC memang akan diproyeksikan menjadi obyek wisata olahraga, apalagi di Palembang dan Sumsel memang belum banyak obyek wisata.
Selama SEA Games berlangsung sudah ribyan orang datang ke JSC untuk menyaksikan langsung beragam pertandingan. Rata-rata yang baru berkunjung semua kagum dengan JBC dan Stadion Gelora Sriwijaya, apalagi mereka melihat langsung stadion yang kini makin dipercantik.
Bangunan yang berkelas dan berstandar internasional tersebut sangat wajar dikagumi. Apalagi di lokasi ini dibuat sangat lengkap, mulai dari taman-taman cantik. JSC akan diproyeksikan menjadi obyek wisata olahraga dan pembinaan olahraga setelah SEA Games selesai. JBC menempati areal 325 hektar dibantu pemerintah pusat untuk membuat ruang terbuka hijau. (***)

Puskesmas di Pagaralam Sering Kehabisan Obat


Pagaralam, SN
DPRD Kota Pagaralam, mendapati empat pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), yang sering mengalami kehabisan stok obat-obatan untuk pelayanan kepada pasien saat berobat.
"Memang berdasarkan laporan masyarakat ada empat layanan kesehatan di kecamatan sering mengalami kehabisan stok obat, yaitu Puskesmas Dusun Sandaraging, Kecamatan Dempo Tengah, Puskesmas Dusun Pagardin, Kecamatan Dempo Tengah, Puskesmas Dusun Badar Kecamatan Dempo Selatan dan Puskesmas Perandonan, Kecamatan Pagaralam Utara," kata Ketua Fraksi Gunung, DPRD Kota Pagaralam, Alpian, Minggu (20/11).
Alpian mengaku tidak mengetahui mengapa hanya empat puskesmas ini yang sering mengalami kehabisan stok obat, padahal jumlah pasien juga tidak terlalu banyak.
"Belum pernah terjadi ada puskesmas mengalami kehabisan stok obat, karena suplay dari Dinas Kesehatan setempat juga lancar," ungkap dia.
Menurutnya, pemerintah daerah setiap tahun sudah menganggarkan dana miliaran untuk pengadaan obat, namun kebanyakan Puskesmas di Pagaralam, sebelum tanggal 10 setiap bulan sudah habis.
"Cukup berbahaya jika ada pusat layanan kesehatan sering mengalami kehabisan stok obat dan hal ini bisa menimbulkan keresahan," ungkap dia. Ia mengaku, perlu pemantauan lapangan untuk mengetahui alasan mengapa puskesmas sering kehabisan obat.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan, Kota Pagaralam, dr Rasidi Amri, mengatakan akan dilakukan pemeriksaan dan pengecekan langsung terhadap beberapa puskesmas yang sering mengalami gangguan dalam pelayanan karena kehabisan stok obat.
"Kami dari Dinas Kesehatan menyuplay obat untuk setiap puskesmas dalam waktu tiga bulan sekali dan biasanya saat pembagian jarang ada yang sudah habis, pasti berlebih stoknya," ungkap dia.
Ia mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan dibeberapa puskesmas yang sering mendapat keluhan warga saat berobat karena kehabisan obat, kalau ada indikasi penyimpangan akan diberikan sanksi bagi pegawainya. (asn)

Mulai Hari Ini, Para Pejabat di MURA Dilarang Pakai Mobil Dinas


Musi Rawas, SN
Hari ini, Senin (21/11) para pejabat Musi Rawas (Mura) mulai 'ngantor' menggunakan sepeda motor. Hal ini sesuai dengan instruksi Bupati Musi Rawas yaitu semua pejabat dilarang menggunakan kendaraan dinas untuk ke kantor, apalagi digunakan untuk kepentingan pribadi.
Instruksi di tujukan kepada seluruh pejabat, mulai dari Kepala Bagian, Camat, Kepala Kantor, Badan, Kepala Dinas, Asisten, Sekretaris Daerah, serta pejabat-pejabat lainnya yang selama ini dipercaya memegang kendaraan atau mobil dinas.
“Pelarangan bagi seluruh pejabat menggunakan mobil merupakan instruksi bupati,” kata Sekda Musi Rawas H. Sulaiman Kohar, kemarin.
Bukan hanya pejabat instansi tapi instruksi ini juga berlaku untuk Bupati Musi Rawas H. Ridwan Mukti sendiri. Mulai hari ini juga bupati menuju kantornya menggunakan kendaraan roda dua dan tidak lagi menggunakan kendaraan roda empat atau mobil dinas yang selama ini digunakan.
“Seluruh pejabat yang selama ini dipercaya untuk memegang kendaraan dinas roda empat, mulai senin (hari ini, red) kendaraan tersebut di parkir di rumah masing-masing, dan tidak digunakan,” jelasnya
Sementara Sekretaris Gerakan Sumpah Undang – Undang (GSUU) Musi Rawas, Kurniawan Azhari menilai, instruksi bupati yang melarang pejabat menggunakan kendaraan dinas untuk ke kantor apalagi untuk kepentingan pribadi sangat perlu di apresiasi.
Hanya saja hal ini harus betul – betul dijalankan dan tidak hanya sebatas instruksi, artinya semuanya harus berjalan dan tidak terkecuali.
“Instruuksi ini dinilai tepat apabila berjalan sebab hal ini memberikan contoh bagi masyarakat ditengah keprihatinan sulit dan malahnya harga BBM, tentu kebijakan ini akan sangat didukung apabila dijalankan dengan tegas,” demikian tandasnya. (fik)

* Foto : Bupati Mura

Harga Cabai Capai Rp 60 Ribu


Prabumulih, SN
Setelah Hari Raya Idul Adha 1432 H, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok (sembako, red) dan sayuran di sejumlah pasar tradisional Kota Prabumulih, masih tetap tinggi. Bahkan harga salah satu komoditi sayuran jenis cabai rawit mengalami kenaikan hingga tembus Rp 60 ribu perkilo dari harga sebelumnya Rp 40 ribu perkilo.
Naiknya harga cabai tersebut, menurut salah satu pedagang sayuran di Pasar Inpres Prabumulih bernama Yudi (38), disebabkan sedikitnya pasokan jenis sayuran tersebut di pasaran. Sementara permintaan dari konsumen meningkat, khususnya selama beberapa minggu terakhir.
“Ini be sudah duo hari pasokan cabai rawit itu dak masuk, mano nak tinggi hargonyo. Sementara yang nak beli berebut, maklum caro banyak nak ngadoke acara perkawinan di bulan haji ini,” ungkap Yudi, ditemui di lokasi jualannya, Minggu (18/11) pagi.
Kenaikan harga cabai rawit itu pun ditambahkannya, merupakan yang kedua kalinya terjadi selama dua pekan terakhir. Namun kenaikan masih rata–rata berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu perkilonya. “Sebelumnyo jugo sudah naik jadi Rp 30 ribu perkilonyo,” sambung Yudi.
Kenaikan harga cabai juga terjadi pada jenis cabai keriting hijau yakni dari Rp 25 ribu naik menjadi Rp 30 ribu perkilonya. Sementara harga cabai merah tidak mengalami perubahan yakni masih Rp 36 ribu perkilo. ”Hargo cabe rawit tula yang naek nian, kalo cabe laen hargonyo masih relatif normal,” jelasnya lagi.
Pernyataan serupa juga dikatakan Wak Bay (55), pedagang sayuran Pasar Inpres. Namun dia tambahkan, kenaikan harga cabai rawit itu diperoleh sudah dari harga pemasoknya sehingga pedagang terpaksa kembali menjualnya dengan harga tinggi. “Hargo dari agen tinggi, jadi terpakso kito jual tinggi. Kalu idak, rugi kito,” aku Wak Bay.
Namun lain halnya dengan pedagang makanan seperti bakso dan mie ayam, kenaikan sejumlah harga cabai itu justru membuat mereka kesulitan. Sehingga tidak sedikit diantara pedagang makanan ini terpaksa mencampur cabai tersebut dengan produk penyedap rasa lainnya. Namun ada juga yang terpaksa mengurangi jumlah pedas cabai tersebut saat mencampurkannya ke makanan.
"Kalau lagi mahal begini, terpaksa cabai itu kita campur. Biar konsumen masih bisa memakai sambal saat menikmati hidangan makanan mie kita,” cetus salah satu pedagang makanan mie keliling ini. (and)

Jumat, 18 November 2011

Edisi Cetak 502, Jumat 18 November 2011

Mantan Gubernur Syahrial Oesman Bawa Investor ke Muba


* Dukung Pembangunan Wisata Ulaklia

Sekayu, SN
Halaman rumah Dinas (Pendopoan) Bupati Musi Banyuasin (Muba), di Jalan Kol Wahid Udin, Sekayu, Kamis (17/11) siang mendadak ramai. Ratusan pasang mata tertuju pada sosok tujuh pria yang memarkir motor gede (Moge) jenis Harley Davidson persis di depan pendopoan.
Salah satu pengendara Moge ini ternyata mantan Gubernur Sumsel, Ir Syahrial Oesman (SO) yang sengaja datang berkunjung ke Muba bersama club Moge-nya. Kehadiran mereka disambut Bupati Muba H Pahri Azhari bersama sang istri Hj Lucianty Pahri bersama unsur muspida.
Syahrial Oesman mengatakan, ini salah satu cara yang dilakukannya untuk mengisi waktu luang, terlebih sudah pensiun sebagai Gubernur Sumsel. Menurut dia, berdiam diri di rumah pada usia yang tidak mudah lagi cepat terkena struk. Karena itu, perlu ada aktivitas untuk memacu adrenalin agar tetap fit.
“Kalau sudah pensiun seperti saya ini, memang harus banyak bergerak. Kalau di rumah terus bisa stress dan struk. Saya pilih Moge karena memang sejak kuliah saya doyan maen motor,” kata SO.
SO mengakui, kedatangannya ke Muba kali ini tidak hanya sekadar mampir atau pamer Moge yang dikendarainya dari Kota Bogor beberapa hari lalu. Tapi lebih dari itu, ada misi penting untuk mewujudkan rencana pembangunan wisata yang direncanakan Pemkab Muba.
“Sembari keliling, saya juga mengajak empat investor bersama saya untuk menjajaki kemungkinan investasi di Muba. Apalagi ada rencana Pemkab Muba ingin menjadikan Danau Ulaklia menjadi pusat rekreasi di Muba,” terangnya.
Apa yang dikatakan SO mungkin tidaklah berlebihan. Karena memang Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dengan luas lebih dari 14 ribu kilometer persegi menyimpan potensi wisata alam yang indah. Salah satunya, Danau Ulaklia yang terletak di seberang Sungai Musi, Sekayu. Sayangnya selama ini kawasan tersebut belum dikelola dengan baik, sehingga terbengkalai dan kerap dijadikan tempat bekule (pacaran) oleh warga setempat.
Menyadari hal ini, Pemkab Muba akhirnya tergerak untuk menjadikan Danau Ulaklia ini sebagai pusat rekreasi terbesar di wilayah Muba. Awal 2012 mendatang, danau yang menempati lahan sekitar 16 hektare ini akan dibangun dan diprediksi selesai akhir 2013.
“Sudah saatnya kita memiliki pusat rekreasi atau kawasan pariwisata. Dengan begitu, warga kita tidak perlu lagi keluar kota untuk rekreasi. Sebaliknya, kita harapkan yang dari luar datang kemari,” ujar Bupati Muba H Pahri Azhari saat meninjau langsung kawasan Danau Ulaklia dimaksud, Rabu (16/11).
Pahri mengatakan, langkah awal menjadikan Ulaklia sebagai pusat rekreasi, dimulai dengan membangun sejumlah fasilitas di sekeliling danau. Fasilitas dimaksud mencakup sarana permainan, outbond, kolam pemancingan, kuliner, tempat bersantai dan lainnya. Tidak kalah penting, pihaknya juga akan membangun jalan sebagai akses menuju kawasan wisata tersebut.
“Kita akan berupaya maksimal membangun fasilitas menggunakan APBD. Untuk selanjutnya, jika memungkinkan kita undang investor untuk membuat tempat ini menjadi lebih wah,” katanya.
Perhatian terhadap pentingnya fasilitas rekreasi ini, menginspirasi Pahri untuk mempercantik pinggiran Sungai Musi di sekitar Pasar Perjuangan Sekayu. Rencananya di sini, akan dibangun fasilitas taman dan sentra kerajinan dan kuliner khas Muba.
“Ulaklia dan bantaran Sungai Musi ini akan kita bangun dalam waktu bersamaan. Insya Allah 2013, warga Muba sudah bisa menikmatinya,” tambahnya. (her)

Penampungan Batubara Ilegal Disegel


Muara Enim, SN

Tim Gabungan (kepolisian resort) Polres Muara Enim dan Polsek Lawang Kidul berhasil mengendus keberadaan penampungan batubara (stok file) diduga ilegal di Desa Keban Agung Kecamatan Lawang Kidul. Diperkirakan batubara yang siap diangkut tersebut ditaksir ratusan ton.
Kapolres Muara Enim AKBP Budi Suryanto melalui Kapolsek Lawang Kidul AKP Tommi Bambang Souissa SIK didampingi Kasat Reskrim AKP Tri Wahyudi yang dikonfimasi, Rabu (15/11), membenarkan telah mem police line penampungan batubara ilegal yang diperkirakan ratusan ton di Desa Keban Agung.
Dikatakan Kapolsek, penyegelan penampungan batubara tersebut,
Selasa (15/11) sekitar pukul 17.00 WIB, di lokasi pihaknya mendapati para pekerja yang diperkirakan sebanyak 6 orang sedang istrihat. Lalu, anggota mengamankan satu karung batubara sebagai sampel untuk dijadikan barang bukti.
“Aktivitas penampungan batubara itu aktif sejak 3 bulan terakhir, namun, sejak setahun tahun lalu, penampungan batubara itu telah ada,” jelas Kapolsek.
Kemudian, di TKP juga pihaknya mengamankan barang bukti 2 unit mobil Fuso yang bermuatan penuh sekitar 24 ton, dan satu unit lagi masih bermuatan setengah fuso sekitar belasan ton. Rencananya, fuso yang bermuatan batubara tersebut akan dikirimkan ke Jakarta.
“Sore itu juga, Tim langsung mem-police line (segel), penampungan batubara (stok file), lalu, satu karung berisi batubara kita jadikan barang bukti, dan 2 unit fuso bermuatan batubara sementara ini kita titipkan di PTBA,” ungkap Kapolsek Lawang Kidul seraya menyebutkan kalau batubara tersebut berasal dari masyarakat.
Dilanjutkan Kapolsek, setelah menyegel penampungan batubara
tersebut, terungkap dari keterangan para pekerja kalau pengawasnya
adalah Sopian. Lalu, pada malamnya, Sopian diambil keterangannya untuk mengetahui pemodal dari usaha tersebut.
“Sopian adalah pengawas dari penampungan batubara yang mendapat upah sekitar 1 juta/perbulan dari pengusaha asal Surabaya yakni Doni,” beber Kapolsek Lawang Kidul.
Ditegaskan Kapolsek, setelah mendapat keterangan yang cukup dari saksi-saksi dilapangan, pihaknya akan mengejar pengusaha asal
Surabaya, Doni untuk dimintai keterangannya. “Kita akan menjeratnya
dengan pasal 158 Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Minerba dengan ancaman 10 tahun penjara," kata dia.
Ditambahkan, Kasat Reskrim AKP Tri Wahyudi, pihaknya dalam hal ini sebatas memback up polsek Lawang Kidul dalam penyegelan penampungan batubara illegal tersebut. Selanjutnya, setelah mendapatkan barang bukti dan saksi-saksi yang cukup akan dikembangkan lebih lanjut guna menetapkan para tersangkanya. (yud)

Listrik Masih Sering Padam, Dewan Akan Panggil GM PLN


Palembang, SN

Komisi IV DPRD Sumsel akan menjadwalkan pemanggilan GM PLN WS2JB terkait masih adanya pemadaman listrik selama pelaksanaan SEA Games XXVI. Sebelumnya, PLN menjanjikan tidak akan ada pemadaman saat even dua tahunan tersebut.
Hal ini dikatakan Sekretaris Komisi IV DPRD Sumsel, Yudha Rinaldi, Rabu (16/11). ”Rencananya kami akan panggil setelah SEA Games, sebab saat ini banyak agenda yang harus kami selesaikan mulai dari kunjungan kerja dan pembahasan anggaran 2012,” katanya.
Politisi PDI Perjuangan ini menjelaskan, pada 21 November mendatang dewan akan menggelar rapat Banmus (Badan Musyawarah), kemudian dilanjutkan dengan KUA dan PPAS.
Sekedar mengingatkan, sebelumnya GM PLN WS2JB menyatakan tidak akan ada pemadaman listrik selama SEA Games, khususnya di kawasan Jakabaring. Janji ini tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Pasalnya, sebelum pelaksanaan opening SEA Games listrik justru sempat padam selama satu jam.
”Kami akan panggil lagi dan kita catat pemadaman sudah terjadi berapa kali. Kalau kemarin sebelum pelaksanaan SEA Games padam, kita masih maklum sebab masih menyelesaikan proses interkoneksi dari seluruh gardu. Tapi kalau sekarang tidak boleh ada pemadaman dong,” katanya. Gedung Food & Souvenir di Jakabaring Sport Centre (JSC) sempat padam lebih dari satu jam pada Jumat (11/11) lalu.
Tidak hanya di gedung Food & Souvenir di Jakabaring yang sebelum opening SEA Games mati lampu, tetapi sejumlah lokasi di Palembang pun masih mengalami mati lampu. Seperti disebagian kawasan Sukarame, Tangga Buntung, Poligon, Plaju dan Kawasan Bukit yang juga ikut mati lampu. (awj)

Panjat Dinding Kembali Sumbang Emas


Palembang, SN
Atlet panjat dinding Indonesia kembali menyumbangkan dua medali emas bagi Indonesia dihari ketujuh pelaksanaan SEA Games XXVI, Kamis (17/11) di venue Panjat Dinding Jakabaring Sport City (JSC).
Medali emas datang dari nomor speed relay putra/putri. Atlet Indonesia yang diturunkan dalam nomor ini tampak perkasa dan unggul jauh dari lawan-lawannya.
Dari nomor speed relay putra, Indonesia menurunkan tiga atletnya, Abudzar Yulianto, Hermawan dan Galar Pandu Asmoro. Ketiga atlet ini memastikan emas setelah pada partai final mengalahkan tim dari Malaysia yang berisikan Khaerul Hafiz, Mohd Redha, dan Soeng Yi Hwa, dengan catatan waktu 27,01 detik. Sementara Malaysia tertinggal jauh dengan catatan waktu 38,56 detik.
Sedangkan medali perunggu diraih tim Singapura yang pada nomor ini menurunkan, Mohd Faizee, Mohd Zaki dan Weng Kit Adriel dengan catatan waktu 32,88. Singapura mengalahkan tim Philipina dalam perebutan tempat ketiga.
Sementara dari nomor speed relay putri, Indonesia yang menurunkan, Tri, Fia Lia, dan Evi Neliwati, tanpa ada halangan berarti juga berhasil mempersembahkan emas.
Indonesia tampil sebagai yang terbaik dengan catatan waktu 39,24 detik, mengalahkan tim Thailand yang hanya mampu membukukan waktu 43,63 detik.
Sedangkan medali perunggu kembali direbut Singapura, yang pada partai perebutan tempat ketiga mengalahkan tim speed relay Malaysia.
Pelatih speed timnas panjat dinding Indonesia, Triyanto Budi mengatakan, dengan tambahan dua emas ini, berarti tim panjat dinding Indonesia berhasil mengumpulkan tujuh medali emas dan tiga perak. Hasil ini melampaui target yang dibebankan kepada tim yakni enam emas.
"Dengan raihan tujuh emas, artinya kita sudah over target. Capaian emas ini masih sangat mungkin bertambah karena besok (hari ini, red) masih ada dua medali emas yang akan diperebutkan yakni dari nomor speed record," kata Triyanto.
Di nomor speed record ini kata Triyanto, diatas kertas Indonesia akan kembali menambah emas baik dari putra maupun putri. atlet putra yang diturunkan Tony Mamiri dan Galar Pandu Asmoro, sementara dibagian putri Indonesia menurunkan Evi Neliwati dan Pita Puspita.
"Diatas kertas kita akan memenangkan nomor ini, karena atlet speed kita baik di tingkatan asia maupun dunia sudah punya nama, namun lawan yang perlu kita waspadai adalah atlet-atlet Singapura," tutupnya.
Sementara Galar Pandu Asmoro yang turun sebagai pemanjat pertama pada nomor speed relay mengaku puas dengan capaian yang diraih ia dan rekan-rekannya.
"Harapannya, dengan raihan ini, Indonesia dapat lebih maju lagi kedepan," kata dia. (awj)

Pemilik Lahan Tolak Kompensasi SUTT 150 KV


Prabumulih, SN
Memasuki minggu ketiga bulan ini, proses negosiasi kompensasi pembangunan proyek rerounting jalur transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 KV Simpang Tiga Sindur Kecamatan Cambai, Kota Prabumulih, sepanjang 1200 meter, masih menemui jalan buntu. Hal itu dikarenakan sebagian pemilik lahan yang tanahnya masuk jalur Right of Way (ROW) proyek bernilai Rp 10, 8 miliar tersebut menolak kompensasi yang ditawarkan Pemkot Prabumulih.
“Kami menolaklah, selain ganti rugi tidak sesuai. Juga membuat lokasi tanah kami itu jadi mati dan tidak memiliki nilai jual,” ungkap Abak, salah satu pemilik lahan ketika berhasil ditemui, dengan nada khawatir.
Kekhawatiran pengusaha ternak ayam ini cukup beralasan, selain pekerjaan pemasangan tower SUTT sebanyak enam unit berikut konduktor itu akan memengaruhi perkembangan usaha ternak ayam ke depan. Juga proses penawaran ganti rugi yang dilakukan tim 9 bentukan Pemkot Prabumulih dinilai tidak transparan dan jauh dari harga kelayakan.
“Harganya yang tidak pas, bahkan makin murah dari sebelumnya. Bayangkan sebelumnya ditawarkan harga Rp 115 ribu permeter, kemudian turun menjadi Rp 105 ribu, gimana saya mau menolaknya. Sementara diatas tanah saya itu ada usaha ternak ayam dan sudah lama ada bahkan jauh sebelum dibangunnya gedung perkantoran Pemkot itu,” ulang pria ini tetap menolak.
Penolakan itu pun diungkapkannya, bukan untuk menghalangi dan tidak mendukung pembangunan di Kota Prabumulih. Namun lebih dikarenakan belum ada kesepakatan antara dirinya dengan pihak Pemerintah Kota, terhadap ganti rugi yang ditawarkan. Pihaknya pun bahkan sudah memberikan solusi dengan menawarkan seluruh tanah miliknya seluas 4 hektar tersebut. “Sebenarnya itu sudah saya berikan jalan tengah dengan mengambil seluruh tanah saya, cuma tanah saja tanpa bangunan dan aset–asetnya dengan harga Rp 200 ribu permeter. Tapi mereka (tim 9) tidak mau, jadi ya sama–sama bertahan,” tukas Abak.
Penolakan serupa juga disampaikan pemilik lahan dan bangunan yang ada di lingkungan RT 02, RW 03, Kelurahan Sindur. Dari enam Kepala keluarga (KK) yang tercatat lahannya terkena jalur pemindahan tower SUTT tersebut, semuanya menolak kompensasi ganti rugi yang ditawarkan Pemerintah Kota Prabumulih. “Keenam warga ini sampai sekarang masih menolak, bahkan harga Rp 300 ribu permeter yang ditawarkan Pemkot pun mereka tetap tidak mau,” imbuh salah seorang tokoh masyarakat di lingkungan tersebut.
Perbandingan harga jual tanah permeter dulu dan sekarang, ia jelaskan menjadi alasan penolakan keenam warga tersebut. Keenam warga itu ia sebutkan antara lain, Bakar, Pak Yong, Mak Nani, Mat Sili, dan Cilong. “Keenam warga itu sudah beberapa kali dipanggil tim 9 untuk negosiasi, tapi tetap tidak ada jalan temu. Karena mereka mengukur harga beras dan harga tanah permeter saat ini,” terangnya.
Sementara itu, terkait penolakan beberapa pemilik lahan yang berada dalam jalur proyek rerounting transmisi tower SUTT 150 KV, disikapi santai oleh salah satu anggota tim 9 Alfian. Menurutnya, itu merupakan hak pemilik lahan. Pemkot dalam hal ini tetap mengacu kepada prosedur dan aturan yang sudah ada. Namun demikian pihaknya masih tetap berupaya melakukan pendekatan dan bernegosiasi sampai ada kesepakatan.
“Proses negosiasi masih kita lakukan, dan kita tetap mengacu pada NJOP dan harga pasaran sekarang. Penyelesaiannya pun kita tidak sembarang, Pemerintah Kota melibatkan tim independen dari Palembang karena mereka lebih paham dan ahli masalah hitung–hitungan ini,” jelas Alfian.
Dia sebutkan, dari jumlah keseluruhan pemilik lahan yang berada dalam jalur ROW sekitar 70 persen sudah sepakat dan tinggal menunggu pembayarannya saja. Sementara selebihnya masih tahap negosiasi. “Kalu ganti rugi untuk lahan tapak pondasi tower, sudah selesai dibayar semuanya. Tinggal membayar kompensasi untuk lahan jalur ROW, dan siap untuk dibayarkan, ya sekitar 70 persen sudah sepakat. Sisanya masih proses negosiasi,” terang pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Pemerintahan (Tapem) Pemkot Prabumulih.
Dalam proses negosiasi itu pihak Pemkot bersama tim independen yang ditunjuk tetap berpatok pada aturan yang ada yakni sekitar Rp 100 ribu – Rp 120 ribu permeter nilai ganti rugi yang harus diikuti, lebih dari itu mereka tidak berani dan sudah diluar kebijakan.
Kepala Dinas Pertambangan Energi dan Lingkungan Hidup (DPELH) Kota Prabumulih Ir Dani Fachri, ketika dikonfirmasi mengaku pihaknya tidak memiliki kewenangan dalam masalah penyelesaian ganti rugi lahan proyek rerounting jalur transmisi tower SUTT 150 KV Simpang Tiga Sindur Kecamatan Cambai tersebut.
Pihaknya sendiri hanya bertanggungjawab masalah teknis pekerjaan. Soal sebagian pemilik lahan masih menolak ganti rugi itu pun tidak menggangu agenda jadwal pekerjaan yang sudah dibuat. “Ya kita bekerja sesuai aturan yang ada ok,” kata Dani. (and)

Kamis, 17 November 2011

Anak di Bawah 17 Tahun Dilarang Kendarai Motor

Sungai Lilin, SN

Maraknya tingkat kecelakaan yang terjadi diwilayah hukum Polres Musi Banyuasin (Muba) terutama dikalangan pelajar mendapat perhatian dari Kapolres Muba AKBP Toto Wibowo dalam Kunjungan Kerja (Kunker) dan tatap muka dengan tokoh masyarakat (tomas) bertempat dimapolsek Sungai Lilin Kamis (16/11) pukul 10.00 WIB Kemarin dihadiri unsur tripika, Tomas, Toga, Kades serta dinas instansi terkait dalam lingkungan pemerintah Kecamatan SungaiLilin.
Dalam sambutannya kemarin, Kapolres meminta kepada pelajar khusunya yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) maupun remaja yang belum genab berusia 17 tahun untuk ditidak mengendarai sepeda motor, upaya ini mengingat sebagai bentuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan dijalan raya.
“Karena kecelakaan dan pembunuh yang banyak terjadi adalah kecelakaan sepeda motor. Maka itu diharapkan kepadda masyarakat maupun orang tua agar dapat melarang anak-anak mereka untuk tidak sembarangana mengendarai sepeda motor terlebih lagi usia belum genap 17 tahun,” ujar Kapolres.
Selain itu juga dalam kesempatan yang sama, orang nomor satu dikepolisian Resort Muba ini, juga membahas keamanaan dan ketertiban di Kecamatan Sungai Lilin, dengan acara mengalakan kembali kegiatan poskamling ditingkat desa.
Langkah ini dilakukan guna meningkatkan keamaan sekaligus upaya mengantisipasi berbagai tindak kriminalitas yang dapat meresahkan masyarakat. untuk itu Kapolres mengharapkan adanya kerjasama yang kokoh antara aparat kepolisian dan masyarakat mengingat selama ini diketahui polisi sebagai mitra masyarakat.
“Jika masyarakat menemukan kejangalan yang mencurigakan segeralah menghubungi polisi terdkat dan jangan main hakim sendiri karena hukum tetap akan ditegakan. Biarlah aparat penegak hukum yang akan mengurusnya,” jelas Toto Wibowo.
Sementara Camat Sungai Lilin, Sunaryo SSTP MM menyambut baik kunjungan yang dilakukan Kapolres Muba di Kecamatan Sungai Lilin, maka itu dirinya bersama degan unsur tripika bersama-sama perangkat desa serta tomas dapat mensosialisasikan apa yang telah disampaikan dalam pertemuan tersebut.
“Pemerintah Kecamatan menyambut baik adanya tatap muka Kapolres dengan tokoh masyarakat di Kecamatan Sungai Lilin, untuk itu kita harapkan seluruh komponen masyarakat terutama UPTD Dinas Pendidikan dapat giat melakukan penyuluhan, sedangkan untuk dipedesaan kita juga mengharapkan kades dan perangkat desa untuk turut mensosialisasikan dengan apa yang telah disampaikan Kapolres tersebut,” ungkap Sunaryo. (her)

Warga Dihimbau Segera Vaksinisasi Hepatitis


Palembang, SN
Dinas Kesehatan Kota Palembang mengimbau masyarakat agar segera melakukan vaksinisasi hepatitis, terutama kepada bayi.
Imbauan ini terkait adanya wabah penyakit hepatitis A yang melanda sejumlah daerah di Pulau Jawa. untuk menjaga kebersihan terutama kebersihan sanitasi.
“Vaksinisasi adalah satu-satunya cata mencegah penyebaran penyakit hepatitis tersebut,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang Gema Asian, Rabu (16/11).
Ia mengatakan hingga saat ini belum ada laporan Palembang dijangkiti penyakit hepatitis A. Gema menyebut, meski tergolong penyakit ringan, hepatitis A bakal lebih berbahaya jika sudah masuk ke golongan hepatitis B dan C. Adapun masa inkubasi penyakit tersebut, mulai bisa dirasakan 2 sampai 6 minggu setelah tubuh terinveksi virus.
“Gejalanya sama seperti flu biasa. Badan demam, letih lesu, dan pada beberapa kasus penderita akan mengalami mual dan muntah-muntah. Penyakit ini termasuk penyakit menular,” kata Gema.
Ia mewanti-wanti masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar terhindari dari penyakit ini. “Sebaiknya selalu mencuci tangan dengan bersih setiap beraktivitas di lapangan,” ujarnya.
Gema menambahkan, vaksinasi dapat diperoleh masyarakat secara gratis di puskesams-puskesmas terdekat.
“Kita sudah imbau, setiap klinik, puskesmas dan bidan yang membantu persalinan agar langsung memberikan vaksin ini dengan gratis,” pungkas Gema. (ria)

Duel maut di SPBU Simpang Sender, Penyalur BBM Putus Tangan


Muaradua,SN

Naas menimpa kakak beradik warga Kelurahan Simpang Sender kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah Kabupaten OKU Selatan bernama Hamka bin Bintang (35) seorang penyalur BBM mengalami luka putus pergelangan tangan kiri dan sang adik Dedi (30) yang berprofesi sama mengalami beberapa luka tusuk dibagian punggung lantaran keduanya terlibat duel maut dengan karyawan SPBU Simpang Sender. Akibat luka yang diderita keduanya mengalami kritis dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum ( RSUD) Liwa Lampung Barat , Kasus ini sekarang ditangani Polsek Banding Agung .

Informasi yang dihimpun wartawan koran ini dari warga setempat, selasa (15/11) menyebutkan, Hamka putus pergelangan tangan kiri dengan sejumlah luka di bagian kepala dan tubuhnya setelah duel maut terkena tebasan pedang oleh karyawan SPBU setempat. Demikian pula sang adik Dedi yang juga mengalami bacokan bagian punggung di lokasi kejadian lingkungan SPBU saat mengecor BBM pukul 8.30 wib.

Menurut sumber dilapangan kejadian duel itu berlangsung saat keduanya mengecor BBM seperti biasanya. Saat itu, kedua korban terjadi selisih paham dengan pihak pelaku Rohim bin Mat Basri (38) warga kelurahan Simpag Sender yang merasa terganggu ulah korban, pelaku yang juga karyawan SPBU, langsung menegur korban dan tiba-tiba duel mautpun terjadi

Saat dikonfirmasi Kapolsek Banding Agung AKP Mulyadi mendampingi AKBP Mohammad Aris, SIK belum dapat memberikan keterangan lebih rinci," Masih dalam penyidikan polisi. Tunggu hasil autopsi korban, saat ini kedua korban dirawat di RSUD Liwa. sementara pelaku melarikan diri dan masih pengejaran aparat. terhadap pelaku yang masih diperkirakan pelaku masih di wilayah hukum Polres OKU Selatan.”tegasnya. Rabu (16/11)

Lanjut Mulyadi,”Sejumlah barang bukti telah diamankan petugas, di antaranya satu buah sarung pisau golok. Sementara Pasal anirat (penganiayaan berat) yang akan dijeratkan terhadap pelaku, kami himbau pelaku segera menyerahkan diri agar tidak mempersulit diri ,”Pungkasnya. (dan)

Razia Motor, 2 Warga Ditangkap Bawa Narkoba

Kayuagung, SN

Zainal Sobri (21) dan Mat Akep (38) keduanya warga Desa Tebing Suluh Kecamatan Lempuing Kabupaten OKI ditangkap polisi karena membawa Narkoba saat digelar razia motor di wilayah hokum Polsek Lempuing, Selasa (15/11) malam.

Selain membekuk kedua tersangka yang berprofesi sopir ini, petugas menyita BB 1 butir ineks seharga Rp 150 ribu dan sabu-sabu seharga Rp1,7 juta. Kini kedua tersangka dan BB diamankan di Mapolres OKI untuk proses lebih lanjut.

Kapolres OKI AKBP Agus F SIK diwakili Kabag Humas Iptu A Halim saat ditemui di ruang kerjanya kemarin siang menerangkan, saat dilakukan razia keduanya mengendarai mobil dan BB disimpan di bawah jok sopir dan ineks di selipkan di sepatu Zainal.

Razia ini dilakukan rutin di daerah tersebut yang melibatkan banyak personil. Kedua tersangka ditangkap saat razia digelar di Unit Vll Desa Bumiarjo Lempuing sekitar pukul 23 00 WIB.

Halim menambagkan, kedua tersangka terjerat UU Narkoba Pasal 114 Ayat 1 Junto 112 Ayat 1 UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukumannya 4 tahun.(iso)

Rabu, 16 November 2011

8 PNS Banyuasin Di Pecat


* Satu Orang Di Pecat Akibat Hilang
Banyuasin, SN

Sebanyak delapan orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Banyuasin di keluarkan (Pecat,red) secara tidak hormat. Pemecatan tersebut dilakukan oleh Inspektorat Kabupaten Banyuasin sepanjang tahun 2010 sampai tahun 2011.
Plt Inspektur Inspektorat Banyuasin Ir Supriono mengatakan, pemecatan yang dilakukan oleh inspektur Banyuasin sudah final karena ke delapan orang tersebut telah keluar SK pemecatannya secara tidak hormat oleh inspektorat.
Pelanggaran yang dilaukan dari akumulasi kasus tahun 2010 lalu dan kasus tahun 2011, ada kasus tahun 2010 ditindak tahun 2011 seperti contoh kasus PNS bernama inisial SP warga Betung hilang sejak tahun 2010 lalu dan hingga sekarang belum diketemukan.
“Kita telah melakukan pencarian dengan melaporkan orang tersebut daftar orang hilang ke kepolisian, karena setahun tak diketemukan dianggaap hilang, kita keluarkan SK pemberhentian sebagai PNS,” jelas Supriono.
Selain itu ada Sc Spd jabatan kepsek SDN Tanjung Kerang Kecamatan Rambutan, ada lagi Mar PNS dikantor Setda Banyuasin, Mel seorang dokter di puskesmas Gasing, SG PNS guru SMP negeri 1 Betung.
Lalu Ju PNS di Dinas PMD Banyuasin diberhentikan secara tidak hormat karena menggelapkan uang honor BPD, ada lagi Suparmi PNS guru SDN. “Rata-rata mereka dikeluarkan dari PNS akibat mencemarkan harga diri PNS, tidak masuk kerja lebih 46 hari, dan mencemarkan korp,” jelas Supriono.
Dijelaskan Supriono, pemecatan yang dilakukan terhadap 8 orang PNS di Banyuasin sudah sesuai dengan aturan yakni PP 53 tahun 2010 tentang penjatuhan disiplin PNS yang dilakukan melalui sidang atasannya langsung.
“Jadi yang menjatuhkan disiplin atasannya, sesuai PP diatas, artinya kalau ada bawahan melanggar sedangkan atasanya tidak melakukan sidang atasnya, lalu yang kena adalah kepala dinasanya atau atasannya.
Dikatakan Supriono, inspeksi tertutup juga sering dilakukan oleh Inspektorat terhadap PNS di Banyuasin ke kantor-kantor tertentu. Tentunya sidak tersebut yang telah dijadwal. “Dan hasilnya ada 13 PNS sepanjang 2011 yang sedang diproses kasusnya terkait peanggaran kode etik PNS.
Diketahui, hasil sidak tahun 2010 jumlah kasus PNS yang dipecat secara kuantitas lebih banyak, sedangkan tahun 2011 ini secara kualitas menurun. “Kuantitas dari segi angka memang tahun 2010 tinggi, namun dari segi bobot kasus tahun 2011 ini labih berat pelanggarannya,” jelas Supriono. (Sir)

Kepala SDN 1 Gajah Mati OKI Dilaporkan


KAYUAGUNG, SN
Dewi Asmara oknum Kepala SDN 1 Gajah Mati Sungai Menang OKI dilaporkan Adi Sucipto anggota LSM Terap ke Dinas Pendidikan OKI, Selasa (15/11) karena diduga melakukan berbagai penyimpangan dana.

Adi Sucipto usai melapor mengatakan, Kepala SDN 1 Gajah Mati melakukan penyimpangan diantaranya menghambat pembayaran gaji guru bernama Elli F yang merupakan istrinya, tidak transparan dalam menggunakan dana BOS, memotong dana tunjangan fungsional.

Kata dia alasan dihambatnya pembayaran gaji karena oknum guru bernama Elli F menolak pemotongan gaji Rp 100 ribu yang dilakukan terlapor dengan alasan untuk biaya transportasi.

Akibatnya sang guru merasa terhambat dalam mendapatkan haknya, bahkan untuk gaji bulan Oktober saja baru bisa diambil bersamaan dengan gaji bulan November, itupun baru diambil kemarin.

“Sebenarnya tunjangan fungsional juga dipotong, namun oleh kepala sekolah para guru diminta membuat surat pernyataan di atas materai 6.000 bahwa tidak dilakukan pemotongan, padahal itu ada pemotongan dan ada guru yang enggan menandatangani pernyataan,” ujar Cipto.

Lebih lanjut Cipto mengatakan, dalam hal pengelolaan Dana BOS, kepsek juga melakukannya dengan cara tidak transparan kepada para guru-guru sehingga tidak diketahui secara pasti berapa besaran dana BOS yang diterima SDN Gajah Mati.

“Tidak pernah dilakukan rapat, jadi tidak diketahui berapa dan untuk apa saja dana BOS tersebut dipergunakan, dan yang menjadi bendahara BOS itu sendiri adalah menantu Kepsek.” tukasnya seraya mengharapkan pihak dinas pendidikan untuk dapat turun ke lapangan guna mengecek kebenaran laporan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan OKI H Qomarus Zaman MSi mengatakan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan ke lapangan perihal laporan tersebut, jika memang ternyata terbukti melakukan pelanggaran maka pihaknya akan memberikan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya.(iso)

Pengaruh Cuaca, Puluhan Warga Pagaralam Alami Serangan Demam Berdarah


Pagaralam, SN
Puluhan warga Kota Pagaralam, mengalami seranga penyakit nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD), bahkan saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Daerah (RSD), Besemah. Sejumlah daerah yang cukup banyak mengalami serangan demam berdara di Dusun Nandagung, Kecamatan Pagaralam Selatan.
Menurut Kepala Rekamidik RSD Besemah, Mirza, SE mengatakan, berdasarkan data yang diperoleh dari rumah sakit di Pagaralam, Selasa, angka kejadian (insiden rate) kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di daerah itu pada Oktober 2011 mencapai 19 orang dan November ini bertambah menjadi enam orang.
Sementara data pada tahun 2009 lalu 21 pasien rawat inap DBD, tahun 2010 sekitar 33 orang pasien dan 2011 meningkat menjadi 53 orang.
"Meski cenderung mengalami peningkatan menjadi 53 orang, namun masih tidak semua pasien berasal dari Pagaralam dan ada juga rujukan dari Lahat dan Empatlawang," kata dia.
Kepala Rumah Sakir Besemah, dr H Edy Kenedi, didampingi Kepala Rekamidik menambahkan peningkatan kasus DBD tidak terlepas dari pengaruh cuaca dan masih kurangnya kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.
"Pada musim penghujan ini bila tidak dilakukan pencegahan akan menyebabkan banyak wadah yang menjadi tempat penampungan air," ungkap dia.
Bila tidak dibersihkan akan menjadi tempat bersarangnya nyamuk Aedes Aegypti yang merupakan sumber penyakit tersebut, ungkap dia.
Ia mengatakan, agar angka jangkitan tidak terus meningkat, menurut dia, diperlukan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masing-masing, terutama dalam upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
"Cara lain yang dilakukan adalah dengan melakukan pengasapan sarang nyamuk," ungkapnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan, dr H Rasyidi Amrin mengatakan, faktor cuaca sangat berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti hingga menyebabkan meningkatnya kasus DBD di Pagaralam.
"Iklim yang sebentar panas sebentar hujan akan menyebabkan banyaknya genangan air di beberapa lokasi. Ini tentunya menjadi tempat yang sangat disenangi oleh nyamuk Aedes Aegypti untuk bersarang dan berkembang biak," katanya.
Untuk itu, kata dia, masyarakat harus memperhatikan kebersihan lingkungannya terutama pada saat cuaca yang tidak menentu dan juga selalu menerapkan prinsip 3-M dalam kehidupan sehari-hari yakni menimbun, menguras dan menutup.
"Karena banyak sekali tempat atau kontainer alami dan buatan manusia yang tergenang air yang bisa menjadi tempat berkembangnya nyamuk ini. Saat cuaca hujan, nyamuk bertelur dan panas membuat telur cepat matang sehingga berkembang lebih cepat," katanya.
Menurut dia, pihaknya akan segera menerjukan petugas untuk melakukan foging atau penyemprotan jetik-jentik nyamuk terutama di sekitar tempat tinggal warga yang sudah mengalami serangan DBD, seperti Kelurahan Nendagung.
"Biasanya nyamuk yang mengandung virus DBD mutasi dari daerah lain atau ada warga yang sudah mengalami penyakit ketika berada di daerah panas seperti Lahat dan Palembang, kemudian digigit nyamuk lain sehingga virus ini bisa menyebar," ungkapnya.
Lanjutnya, kalau kondisi Pagaralam nyamuk jenis ini tidak bisa berkembang karena suhunya dibawah 20 derajatil cilcus, kecuali penyebaranya dari pasien atau nyamuk yang mutasi dari daerah lain. (ASN)

Pelaku Illegal Loging Banding Agung Makin Leluasa

Muaradua,SN
Pihak terkait memberantas praktik illegal logging, tampaknya, tidak serius. Buktinya, masih ada masyarakat yang leluasa menggesek dan mengangkut kayu tenam yang paling dilarang untuk ditebang dan diperjualbelikan dari kawasan. Seperti terlihat di wilayah kecamatan Banding Agung sekitarnya, beberapa waktu lalu.
Wartawan koran ini sempat melihat sekaligus beberapa tukang ojek dan mobil bak terbuka tengah mengangkut kayu tenam dari perbatasan hutan kawasan diwilayah setempat.
Namun saat ditanya, mereka mengaku, itu bukan miliknya. ’’Kami hanya upahan mengangkut untuk diantarkan kepada yang memesan. Dari mana asalnya tidak tahu, karena kami hanya mengangkut dan mengambil kayu di sekitar hutan kawasan sudah menjadi kayu olahan,” kata salah satu pengangkut yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Serupa diungkapkan rekan pengojek kayu lainnya saat ditemui sedang beristirahat di jalan desa tersebut. ’’Sebenarnya, kak, kami juga takut mengangkutnya. Tapi bagaimana lagi, kami butuh uang demi makan anak dan istri,” ujarnya.

Ujang Badri , salah satu warga Rantau Nipis Banding agung yang peduli terhadap lingkungan, mengatakan, adanya sejumlah tukang ojek mengangkut kayu tenam membuktikan pelaku illegal logging di kawasan hutan lindung masih marak. Sekalipun lokasi penebangan itu bukan masuk wilayah OKU Selatan atau hanya perbatasan OKU Selatan dan Lampung Barat.

Sementara informasi yang berhasil dihimpunnya, kayu yang diduga hasil illegal logging tersebut masuk dari tiga titik jalan, yakni Simpang Sender Utara , Banding Agung , Mekekau Ilir dan Warkuk Ranau Selatan . ’’Ironisnya, Dinas Kehutanan Propinsi dan OKU Selatan maupun aparat penegak hukum polres OKU Selatan tidak bergerak mengambil tindakan terhadap masalah penjarahan kayu di wilayah setempat maupun daerah perbatasan dengan kabupaten lainnya minimal melakukan investigasi. (dan)

Selasa, 15 November 2011

Edisi Cetak 501, Selasa 15 November 2011

Dispora-TP PKK Sosialisasi Pornoaksi & Pornografi

Muaradua,SN
Dispora bekerjasama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) OKU Selatan menggelar sosialisasi UU no 22/2008 tentang pornoaksi dan pornografi. Dengan menghadirkan nara sumber dari institusi polres, Kementrian Agama dan Dinas Sosial di Aula Pemkab OKU Selatan dihadiri pelajar SLTP dan SLTA OKU Selatan dan perwakilan Karang Taruna, Senin (14/11)
Kepala Dispora Subagio S.Sos menjelaskan, kegiatan tersebut diselenggarakan seiring dengan globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi memberikan andil terhadap meningkatnya pembuatan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi.
"Pornografi dan Pornoaksi memberikan pengaruh buruk terhadap moral dan kepribadian bangsa yang dikenal sebagai budaya ketimuran yang memegang teguh norma kesopanan. Sehingga diharapkan adanya sosialisasi pemberlakuan undang-Undang pornografi memberikan ketentuan-ketentuan yang sejelas-jelasnya tentang batasan dan larangan yang harus dipatuhi setiap warga negara serta memberikan jenis sanksi bagi pelanggarnya," ujarnya.
Undang-undang tersebut dikatakannya, juga untuk melindungi warga negara terutama kaum wanita dan anak-anak dari pengaruh buruk Pornografi. (dan)

e-KTP di Pangkalan Lampam Terkendala Iris dan Listrik


Kayuagung, SN
Program nasional berupa pembuatan elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) di Sumsel secara umum susah berjalan baik meskipun ada beberapa kendala. Iris atau alat scan mata dan listrik yang menjadi kendala utama pembuatan e-KTP di Kecamatan Pangkalan Lampam Kabupaten OKI.
Camat Pangkalan Lampam Herliansyah H SSTP MSi ditemui di Desa Riding Kecamatan Pangkalan Lampam, Minggu (13/11) yang mengungkapkan hal tersebut. Pihaknya sudah menyampaikan kendala ini ke Disdukcapil OKI dan melakukan solusi terbaik.
Kata camat yang saat itu menghadiri pernikahan warganya di Desa Riding, launching e-KTP di wilayahnya baru dilakukan sepekan lalu karena launching bergiliran di 18 kecamatan yang ada di OKI. Hingga kini baru sekitar 500 warga yang sudah membuat e-KTP.
Desa yang warganya sudah membuat e-KTP baru Desa Deling dan Desa Pangkalan Lampam. Kecamatan ini memiliki 17 desa dengan wajib KTP belasan ribu orang. Namun demikian, pihaknya optimis pembuatan e-KTP akan selesai hingga batas waktu yang diharapkan pemerintah pusat.
Diakui Herliansyah yang sebelumnya merupakan ajudan Bupati OKI, peralatan iris atau scan mata dan listrik yang menjadi penghambat lambatnya pelayanan e-KTP. Pihaknya punya 2 perangkat peralatan namun hanya 1 peralatan yang bisa beroperasi karena 1 peralatan lagi tidak punya iris.
“Jadi satu jam hanya mampu melayani 6 orang. Kami berharap PLN menambahkan trafo agar pelayanan e-KTP bisa sampai tengah malam,” harap dia sembari mengatakan selama ini pihaknya hanya menggunakan mesin genset dengan biaya BBM Rp 100 ribu/hari. (iso)

Patok Perbatasan Bergeser 700 M


* Perusahaan Jambi Kuasai 20 Ha Lahan

Sekayu, SN
Kabar mengejutkan datang dari wilayah bagian timur perbatasan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan (Sumsel) dan Provinsi Jambi. Salah satu patok perbatasan yang terletak di Dusun VII Mingkung, Desa Muara Medak, Kecamatan Bayunglencir tiba-tiba bergeser sekitar 700 meter mulai T 24 sampai T 30. Warga setempat protes, sebab 20 hektare lahan Muba di serobot tanah dan pengerusakan PT Bahari Gembira Ria, dari Jambi.
Kepada Koran ini Senin (14/11), Kepala Desa (Kades) Muaramedak, Ujang M Amin menceritakan, tanpa disadari patok perbatasan yang terletak di Dusun VII Mingkung Desa Muaramedak sudah berpindah tempat. Sementara persis di titik koordinat patok semestinya tumbuh subur tanaman sawit milik PT Bahari Gembira Ria. Masyarakat setempat menduga, patok tersebut sengaja dipindahkan dengan misi tertentu yang berimbas pada penguasaan lahan milik Kabupaten Muba.
“Ini sudah terjadi sejak awal tahun lalu. Kami sudah melapor ke tingkat II dan I, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Menurut kami, jika ini dibiarkan berpotensi terjadinya keributan,” kata Ujang, seraya mengatakan, belakangan ada sebuah desa pemekaran dari Desa Petaling jaya dan desa ladang Panjang Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro jambi yang posisinya dalam wilayah Desa Muaramedak, Muba.
Dampaknya, kata Ujang, Muba dirugikan dengan hilangnya puluhan hektare lahan karena dibajak beberapa perusahaan yang diduga mengurus perizinan di Jambi, seperti PT Gudang Garam, PT Sedayu, dan termasuk PT Bahari Gembira Ria. Tidak hanya itu, dengan membiarkan beberapa perusahaan menjarah lahan Muba, sama dengan merelakan asset sumber daya alam dengan Cuma-Cuma. Sebab perusahaan milik Jambi, tapi pajak(PBB) dan PPHTB jenis retribusilainnya juga untuk Jambi.
“Inilah akibat kurangnya perhatian dan pembinaan pemerintah daerah kita terhadap perkembangan di wilayah perbatasan. Jangan sampai, Muaramedak yang jelas-jelas masuk kecamatan Bayunglencir, juga diambil Jambi,” tambahnya.
Ujang menambahkan, seharusnya daerah perbatasan lebih di proritaskanstruktur dan infrstruktur sehingga masyarakat yang diperbatasan merasa di perhatikan, sangat disayangkan bila aset kabupaten mubaPropinsi Sumsel Sampai masuk Propinsi jambi.
Dikonfimasi terkait hal ini, Kabag Tapal Batas Muba Sofyan SSos MSi membenarkan adanya masalah perbatan tersebut. Pihaknya sudah menurunkan tim investigasi ke lapangan, dan mendapati permasalah itu. Namun, lanjut dia, pada prinsipnya meski tugu perbatasan berpindah tempat, titik koordinat batas tidak akan berubah. Hanya saja yang menjadi persoalan saat ini adalah, ada perusahaan yang bercocok tanam di lahan milik Muba.
“Kita sudah melaporkan ini ke tingkat I (gubernur), mungkin sampai saat ini mereka masih mempelajari hal itu. Menurut saya, masalahnya adalah mengapa perusahaan Jambi bisa merambah lahan milik kita. Muncul dugaan, patok perbatasan memang sengaja dipindahkan,” pungkasnya.
Guna mengetahui titik koordinat yang benar, riil dan definitif diakui secara nasional 2012 rencananya Tapal Batas Muba akan melaksanakan program sosialisasi dan pembuatan Peta batas desa guna mengatasi dan mengurangi konflik guna mengetahui titik koordinat batas desa dan wilayah khususnya wilayah kabupaten Muba.
"Untuk mengurangi konflik dan mengetahui sebenarnya tetang titik koordinar desa dan wilyah di muba, dan membuat peta wilayah rencana 2012 jika permohonan kami di setujui oleh Bappeda Muba kami akan melaksanakan sosialisasi 2 undang undang, pertama peraturan Mendagri nomor 27 tahun 2006 tentang penetapan dan penegasan Batas Desa, kedua Paraturan Mendagri nomor 1 tahun 2006 tentang Pedoman Penegasan batas daerah. Yang paling penting lagi kami akan melalukan pengecekan dan pelacakan serta melakukan pengukuran ulang guna membuat peta wilyah yang definif yang diakui oleh nasional karena sampai sekarang peta wilayah khususny wilayah dalam kabupaten muba belum ada peta yang diakui secara nasional, untuk itu demi kelancaran program tersebut kami akan melakukan kerja sama kepada Badan Koordinasi Survei Nasional, Tofografi, BPN guna mendapatkan hasil yang maksimal," jelasnya.
Dirinya berharap jika program ini benar bisa di realisasikan mudah mudahan dapat mengurangi sedikit demi sedikit konflik permasalahan batas-batas wilayah khususnya di kabupaten muba, dan untuk desa kedapan dapat mengetahui mana-mana batas desa dan wilayah desa sesungguhnya. (her)

Ketika Moral Wakil Rakyat Kita Makin Memprihatinkan


Oleh Agus Harizal Alwie Tjkmat

SELAMA ini sudah sangat banyak sikap dan tingkah pola anggota dewan yang sangat memprihatinkan.
Bila kita mulai dari penyetujuan gedung mewah DPR, hingga kelakuan Arifinto dari PKS yang sedang nonton video porno saat sidang. Memang gedung mewah tersebut tak jadi dibangun dan oknum wakil rakyat yang nonton film porno tersebut sudah dikenakan sanksi. Tetapi semua itu tak menghilangkan pandangan sinis rakyat kepada wakil rakyat, karena apa yang mereka jauh dari cita-cita.
Kini muncul kritisi yang cukup pedas dari
Ketua KPK Busyro Muqoddas, yang melontarkan kritik kepada politisi dan pemerintah. Dia kali ini mengkritik buruknya moral para politisi dan pemimpin negara yang dianggapnya berkorelasi dengan kemiskinan rakyat.
Dikatakannya semuanya disebabkan moralitas politikus dan elite bangsa hingga menyebabkan rakyat semakin miskin dan terus dimiskinkan.
Banyak yang yang pedas telinganya gara-gara komentar ini, hingga wakil rakyat di parlemen semuanya bersuara membela diri. Tak terkecuali Ketua DPR Marzuki Ali.
Dapat dikatakan DPR dan wakil rakyat di dalamnya saat ini mengalami krisis moralitas. Rakyat saat ini tidak ada lagi tauladan. Sangat wajar khalayak bertanya bagaimana mereka akan bekerja dan berpolitik dengan integritas bekerja bertika. Sangat menyedihkan saat rakyat susah, Negeri terus ditimpa bencana, rezim yang tak tegas, kini DPR terus menampilkan prestasi buram setiap tahunnya. Wajah wakil rakyat di Senayan makin buruk di mata masyarakat.
Lalu di saat keberpihakan ke rakyat yang makin mengecil dan moral yang dipertanyakan, dimanakah cita-cita luhur sebagai penyambung hati nurani rakyat selama ini. Karena mereka makin lama makin jauh.
Gaya hidup mewah dengan menaiki mobil mewah kini dikritisi banyak orang. Rakyat jelas sudah muak melihat perilaku anggota DPR dan pejabat negara yang hidup bermewah-mewahan. Sangat wajar bila banyaj yang mendesak Anggota dewan bertobat sebelum kerusakan Bangsa makin parah.
Penampilan para pejabat yang cenderung hedon dan perlente bisa jadi akar korupsi. Memang untuk membuktikan semua itu perlu dilakukan juga verifikasi ulang terhadap laporan kekayaannya.
Saat ini gaya hidup mewah seolah sudah menjadi tradisi di DPR. Bahkan sejumlah anggota DPR tak membantahnya. Mobil Toyota Alphard dengan kisaran harga Rp 1 miliar menjamur di Kompleks Parlemen, Senayan.
Bila saat ini semua partai bicara citra yang baik, semua telah menyalahi etika sosial. Semuanya berbalik arah, mestinya ada perubahan mendasar untuk kondisi ini. Kekuatan utama untuk mengawasi agar kondisi Bangsa tetap terjaga, adalah dengan mengajak rakyatuntuk jangan berhenti mengkritik dan terus meneriakkan seruan moral. (***)

Warga Kesal Polindes Empat Lawang Terbengkalai

Empat Lawang, SN
Pondok Bersalin Desa (Polindes) di Desa Lubuk Ulak Kecamatan Muara Pinang Kabupaten Empat Lawang sampai kini masih terbengkalai. Hingga kini belum juga ditinjau langsung oleh pemerintah ke lapangan. Hal tersebut membuat warga kesal, karena warga masih berharap adanya solusi yang terbaik dari pemerintah terhadap Polindes yang terbengkalai hingga setahun lebih itu.
“Sejak dibangun kira-kira tahun 2009 hingga sekarang Polindes didesa kami tak pernah digunakan. Bahkan kondisinya sudah tidak layak huni lagi,”kata Kadir salah satu masyarakat desa Lubuk Ulak Kecamatan Muara Pinang..
Dikatakannya, pusat pelayanan sekaligus perumahan bagi bidan desa ini terdapat di lokasi yang dekat dengan areal pemakaman umum, apalagi lokasinya berada di belakang pemukiman warga. Seyogyanya bangunan fasilitas umum seperti polindes ini didirikan di tempat yang strategis. Misalnya dipinggir jalan, di dekat kantor kades ataupun dilokasi pemukiman penduduk. Jadi warga yang mau berobat bisa langsung menuju lokasi tersebut.
“Lokasinya sih tak strategis, jadi wajar masyarakat tuh enggan untuk berobat ke polindes,”imbuhnya seraya menambahkan padahal setahu dirinya bidan polindes tersebut sudah ada, namun tak juga tinggal di tempat polindes itu.
Solusi yang ditawarkan, sambungnya, masyarakat siap untuk memberikan secara hibah kepada pemerintah untuk Polindes yang baru. Tentunya lokasi tersebut dekat dengan pemukiman warga sehingga jarak tempuh dipastikan lebih dekat.
“Lokasi yang dipersiapkan dulunya merupakan mushola. Karena mushola ini tidak lagi digunakan bahkan sudah rata dengan tanah, maka warga berinisiatif untuk hibah kepada pemerintah dengan catatan dibangun Polindes yang baru,”tukasnya seraya berharap penuh kepada pemerintah kiranya meninjau ke lapangan agar bisa mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Sementara itu, Kades Lubuk Ulak Kecamatan Muara Pinang Anton membenarkan bahwa Polindes di desa setempat terbengkalai hingga setahun lebih. Dan memang masyarakat berharap kepada pemerintah kabupaten Empat Lawang untuk meninjau langsung ke lapangan dan memberikan solusinya.
“Kalau keinginan warga sih Polindes itu direlokasi, warga juga telah mempersiapkan lokasi yang sangat strategis dekat dengan masyarakat umum,”katanya.(eko)

Indonesia Sapu Bersih Nomor Speed Track


Palembang, SN
Atlet panjat dinding Indonesia berhasil menyapu bersih dua emas yang diperebutkan di nomor speed track putra/putri yang berlangsung di venue Panjat Dinding Jakabaring Sport City, Senin (14/11).
Dua emas tersebut disumbangkan atlet andalan Indonesia di nomor speed track, Abudzar Yulianto dan Fitriyani.
Abudzar berhasil meraih emas setelah pada final speed track berhasil membukukan waktu 8.65 detik. Ia mengungguli atlet panjat dinding Vietnam Thanh Nhie Phan yang finis di tempat kedua dengan 11.37 detik.
Sedangkan medali perunggu diraih atlet asal Singapura, Weng Khit Adriel Choo dengan catatan waktu 11.38 detik.
Abudzar yang ditemui usai lomba terlihat tegang dan seakan tak percaya sudah berhasil menyumbang medali emas bagi Indonesia. SEA Games 2011 ini adalah keikut sertaannya yang pertama dan langsung menyumbang medali.
"Medali ini saya persembahkan untuk semua bangsa Indonesia dan keluarga tercinta," kata Abudzar.
Ia mengaku mempersiapkan diri hampir selama satu tahun. Dan lawan terkuat yang dirasakan datang dari atlet Vietnam dan sesama atlet Indonesia.
"Sebenarnya semua lawan disini sama kuatnya. Pertandingan ini tidak hanya mengandalkan otot tapi juga otak dan nasib. Alhamdulilah, ini emas pertama saya di SEA Games," katanya.
Soal bonus Rp 200 juta yang akan didapatnya. Abudzar mengaku belum terpikir. "Soal bonus belum kepikiran, tapi kalau dapat ya yang pasti di tabung dulu," tutup atlet kelahiran Gresik, 30 Juli 1985 ini.
Sementara, di nomor speed track putri, atlet andalan Indonesia, Fitriyani berhasil menyumbang emas dengan catatan waktu 9.36 detik, unggul atas atlet sesama Indonesia Santi Welyanti yang harus puas dengan medali perak. Di partai final Santi finish dua detik lebih lambat dari Fitriyani dengan 9.39 detik.
Sedangkan medali perunggu diraih atlet asal Singapura, Judith Ming Xin Sim dengan catatan waktu 14.46 detik.
Hari ini, Selasa (15/11) Cabor panjat dinding akan memperebutkan satu emas di nomor women's lead. Babak kualifikasi dimulai pukul 08.30 WIB. Sementara babak final akan dilangsungkan mulai pukul 15.00 WIB. (awj)

Jembatan Penghubung Antar Desa Memprihatinkan


Muara Enim, SN

Warga yang mendiami Desa Hidup Baru Kecamatan Benakat Kabupaten Muara Enim dibuat khawatir, dengan kondisi jembatan penghubung antar desa yang memprihatinkan.
Jika tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan jembatan penghubung itu akan ambruk. Bahkan, pengendara, harus ekstra hati-hati jika melintas kalau tidak, bisa terjungkal ke dalam sungai yang cukup dalam.
Menurut salah satu warga desa Hidup baru, Andi (45), kondisi kedua jembatan tersebut butuh perbaikan. Jembatan itu merupakan jalur transportasi ke beberapa desa yang lain.
“Kami setiap hari selalu melewati jembatan penghubung ini, dan kami harus berhati-hati ketika menyeberang, jika tidak bisa celaka,” ujar Andi ditemui, Senin (14/11).
Kondisi yang lebih parah lagi kata Andi, ketika musim penghujan, jalan menjadi licin, bahkan sebagian ruas jembatan lantai kayunya telah patah dan menghilang.
”Jadi, kami ekstra hati-hati, sebab kendaraan mobil atau motor bisa terjungkal dalam sungai,” jelasnya.
Kerusakan tersebut diduga karena dilintasi kendaraan yang bermuatan berat oleh perusahaan yang berada di wilayah tersebut. Sehingga, beban jembatan tak mampu bertahan lama.
Oleh sebab itu, dia berharap kepada Pemerintah daerah Muara Enim melalui instansi terkait segera turun ke lapangan untuk memantau kondisi jembatan.
Sementara itu Kades Hidup Baru, Andi B kepada wartawan, membenarkan, kondisi jembatan tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah dan butuh perbaikan.
"Jika jembatan tersebut ambruk, ditakutkan akses menuju jalan desa lain akan terhambat. Jembatan ini adalah jalan vital baik dari sisi sosial maupun perekonomian desa," katanya. (yud)

Dua Pelajar Babak Belur Diamuk Massa

Muara Enim, SN
Nekat menjambret, dua pelajar SMK Kecamatan Benakat babak belur diamuk massa. Beruntung, petugas Polres Muara Enim yang sedang patroli berhasil mengamankannya, jika tidak nyawa dua remaja tersebut tak akan tertolong.
Dari informasi yang dihimpun dilapangan, kejadiannya, Minggu (13/11) sekitar pukul 17.00 WIB, kedua tersangka yang mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter MX profit melaju dari arah Muara Enim menuju Gunung Megang.
Tepat berada di jembatan dua Desa Muara Gula Kecamatan Ujan Mas, tersangka Rojiun bin Yamin (17) yang berboncengan dengan rekannya, Joni Iskandar, keduanya warga Benakat, mengintai dan memepet sepeda motor bebek korban yang disopiri, Ahmad Sepniyandi (24) berboncengan dengan istrinya, Sherly Meliskah (21), warga Jalan Palembang-Muara Enim Kecamatan Muara Enim.
Sesaat kemudian, tersangka Joni Iskandar merampas dompet warna merah milik korban yang diapit ditengah-tengah tempat duduk motor. Sontak, korban kaget dan nyaris terbalik. Lalu, korban pun berteriak meminta pertolongan warga.
Beruntung, dari arah yang sama, melaju adik korban yang sama-sama mengendarai sepeda motor. Kejar-kejaran pun terjadi, hingga akhirnya laju kendaraan kedua tersangka dapat dihentikan di Desa Penanggiran Kecamatan Gunung Megang.
Warga yang kesal dan geram mengetahui ulah tersangka, melampiaskannya dengan menghujani bogem mentah, hingga keduanya terkapar di bibir aspal. Beruntung, ada petugas Polres Muara Enim yang sedang patroli mengamankan keduanya, jika tidak bukan tak mungkin nyawa tersangka tak terselamatkan.
"Kemudian, petugas melakukan penggeladahan, ternyata, berhasil menemukan sebilah pisau cap garpu bersarung kulit milik Rojiun. Lalu, keduanya digiring ke Mapolres Muara Enim untuk diproses lebih lanjut untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya karena menjambret.
Kapolres Muara Enim AKBP Budi Suryanto melalui Kasat Reskrim AKP Tri Wahyudi yang dikonfirmasi di Polres Muara Enim, Senin (14/11) membenarkan telah mengamankan kedua tersangka penjambretan sekaligus mengamankan sebila pisau cap garpu bersarung kulit.
Selain itu, barang bukti dompet milik korban yang berisi uang sebanyak, Rp 112 ribu, kartu identitas seperti KTP, dan kartu ATM BRI, serta lainnya.
“Kini tersangka masih dalam pemeriksaan intensif penyidik untuk diambil keterangannya. Kemudian akan kita kembangkan lebih lanjut, guna mengetahui dugaan keterkaitan dengan kejadian yang serupa di
wilayah hukum Muara Enim,” pungkas Tri Wahyudi. (yud)

Senin, 14 November 2011

edisi cetak 500, Senin 14 November 2011

Timbangan Senawar Tidak Jalankan Perda


Bayunglencir, SN
Jembatan Timbang Senawar yang terletak di Jalan Lintas Timur, Bayunglencir, Musi Banyuasin (Muba) semakin kehilangan fungsi. Keberadaannya untuk mengantisivasi atau mengontrol muatan berlebih/ tonase kendaraan, kini terkesan tak berarti. Seharusnya kendaran yang melebihi tonase harus dibongkar, Sebaliknya justru menjadi ladang subur pungutan liar (pungli) yang kabarnya dibagi-bagi untuk sejumlah pejabat tinggi.
Membicarakan peran dan fungsi jembatan ini, jelas tidak terlepas dari dampak aturan yang tidak terealisasi. Peraturan Daerah (Perda) yang memuat ketentuan terkait hal ini, kini tinggal naskah basi. Nyatanya sebagian besar kendaraan sarat muatan yang melintas bisa melenggang, cukup dengan Pungli yang terkoordinasi.
Jika ini terus dibiarkan, maka tidak hanya negara yang rugi, tetapi masyarakat lainnya juga akan terkena imbasnya. Sebab, meloloskan kendaraan dengan kelebihan tonase atau beban muatan berpotensi merusak jalan, dan rawan kecelakaan. Sementara setoran denda kelebihan muatan didistribusikan melalui calo, dan tidak jelas pembukuannya.
Terdengar isu, jika jembatan timbang ini menjalin kerja sama dengan sejumlah preman dan rumah makan yang ada di sekitar untuk menutupi sistem pungli agar dimaklumi. Isu yang tak kalah menghebohkan lagi, jutsru menyeret beberapa unsur pejabat tinggi Sumsel yang menerima upeti. Benarkah demikian?
Untuk memastikan hal ini, dalam dua hari terakhir (11-12 November) koran ini menggali informasi di sekitar lokasi. Investigasi pun dimulai dengan ngobrol santai bersama para sopir truk di salah satu rumah makan dekat timbangan. Beberapa sopir menyebutkan, saat ini mereka tidak perlu lagi antre dan berurusan langsung dengan petugas timbangan. Sebab, ada pihak rumah makan langganan yang ambil bagian. Konsekwensinya, para sopir memberikan uang “terimakasih” sekitar RP 30 ribu-Rp 50 ribu, selain denda kelebihan muatan dengan kisaran Rp 200 ribu-700 ribu tergantung beban yang dibawa.
“Kalau dulu, kelebihan muatan kita kena tilang, dan harus ke Sekayu untuk mengurusnya. Tapi sekarang tidak lagi, karena kita dibantu “pengurus”. Jadi ke timbangan sekadar menyerahkan denda kelebihan muatan tanpa harus diperiksa lagi,” tutur manurung, salah seorang sopir fuso ekspedisi dari Jakarta tujuan medan.
Dengan sistem yang diterapkan saat ini, kata dia, para sopir umumnya cukup terbantu. Sebab tanpa harus antre menunggu pemeriksaan dan membayar denda berdasarkan aturan Perda jika kelebihan muatan, mereka bisa lewat dengan aman.
“Kapasitas muatan truk yang saya bawa sekitar 13 ton. Tapi setiap kali operasi, biasanya muatan hingga 16-17 ton. Kalau mengikuti aturan, saya mesti bayar denda sekitar Rp 800 ribu. Tapi karena sekarang ada teman yang ngurus, cukup keluar uang Rp 250 ribu,” ujar manurung, seraya menyebutkan yang Rp 50 ribu untuk pengurus.
Hal senada dikatakan fendi sopir tronton dari Jambi. Menurut dia, tidak ada masalah dengan sistem di luar aturan yang berlaku di timbangan tersebut. Sebab, lanjutnya, tidak hanya di Senawar, di jembatan timbang Pematangpanggang, OKI pun demikian. Sekali jalan, dirinya cukup menyiapkan sekitar 400-700 ribu untuk membayar denda kelebihan muatan melalui calo. Sistem ini dinilai meringankan pekerjaan, sehingga tidak perlu antre dan diperiksa di timbangan.
“Kalau kita menerapkan denda berdasarkan peraturan sebenarnya, biayanya justru lebih besar. Untungnya ada sudah ada yang ngurus. Cuma yang kadang memberatkan kita justru di kawasan Tempino, Jambi. Di sana kalau jam 12 malam aparat di sana suka minta jatah juga,” terangnya.
Salah seorang calo yang dikenal dengan istilah “pengurus” ini umumnya para pemilik rumah makan sederhana (tidak besar dan tidak juga kecil) yang ada di kawasan Bayunglencir dan Senawarjaya. Satu di antaranya, MJ yang sudah menggeluti sistem percaloan ini sejak enam tahun lalu.
MJ mengatakan, saat ini berlaku kerjasama antar petugas timbangan dengan sejumlah rumah makan di sekitar. Antara kedua belah pihak sudah saling mengerti dan memaklumi. Caranya, pihaknya menyiapkan amplop dengan cap khusus dari rumah makan bersangkutan.
Saat sopir kendaraan memerlukan bantuan, untuk mengurus pembayaran kelebihan muatan, mereka membayar sesuai beban yang dibawa. Rata-rata setoran berkisar Rp 200 ribu truk - Rp 700 ribu untuk tronton per tiga ton kelebihan muatan. Uang tersebut dimasukan ke dalam amplop berstempel rumah makan tersebut, kemudian dibawa dan diserahkan sopir kepada petugas di timbangan.
“Kalau sudah bawa amplop dari kita, petugas di timbangan sudah maklum dan kendaraan itu tidak akan diperiksa lagi. Mereka udah ngerti, ooo berarti ini dari rumah makan itu atau ini,” terang MJ.
Dia menambahkan, meski namanya denda. Setoran dalam amplop tersebut bisa dipastikan tidak masuk pembukuan. Itu artinya, uang tersebut tidak kembali kepada negara melainkan para petugas dan lainnya. Setahu dia, penerapan Perda hanya diberlakukan pada kendaraan yang kelebihan muatannya sedikit, dan dendanya baru masuk pembukuan.
“Kita tidak tahu persis uang itu kembalinya kemana. Tapi bisa dipastikan setoran itu tidak masuk catatan, apalagi dilaporkan. Sebab kalau menurut aturan pembayaran denda dibuktikan dengan tiga rangkap kwitansi. Sedangkan, khusus yang ini tidak. Selesai menyerahkan amplop, kendaraan bisa langsung pergi,” jelasnya.
Dalam dua hari terakhir, aktivitas di jembatan timbang ini nampak seperti biasanya. Dalam waktu satu jam, terpantau sekitar 75 unit lebih truk engkel, Fuso dan tronton fil-up sarat muatan yang keluar masuk secara bergantian. Tanpa terkecuali, baik kendaraan yang datang dari arah Palembang menuju arah Jambi, maupun sebaliknya dari arah Jambi menuju arah Palembang.
Persis di timbangan, nampak belasan petugas dengan seragam dinas dari Dinas Perhubungan. Beberapa di antaranya khusus mengawal kendaraan yang masuk dan keluar, sementara seorang lagi stabay di dalam loket pembayaran tiket atau karcis. Hingga sejam berakhir, tidak terlihat adanya antrean panjang atau penumpukan kendaraan di jembatan timbang. Sebab, rata-rata kendaraan yang masuk hanya numpang lewat saja. (her)

Anggaran Sport Center Rp 250 Miliar

Pagaralam, SN
Pemerintah Kota Pagaralam, menganggarkan pembangunan sport center atau sarana olahraga terlengkap, senilai Rp 250 milliar.
Kepala Dinas Pendidikan Nasional, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Pagaralam, Drs H Akmaludin, Minggu (13/11) mengatakan anggaran Rp 250 miliar tersebut untuk pembangunan fisik, sementara untuk lanclering Rp7 miliar, dan dana desain Rp5 miliar.
Dikatakanya, lahan yang sudah disiapkan seluas 10 hektare di Dusun Keban Agung, Kelurahan Ulu Rurah, Kecamatan Pagaralam Selatan.
"Kita sudah melakukan study kelayakan dan pembebasan lahan yang akan digunakan untuk membangun fasilitas olahraga terlengkap tersebut," ungkap dia.
Dia mengatakan, sport center nantinya akan dilengkapi dengan berbagai sarana, seperti stadion sepak bola, bulutangkis, tenis, renang dan termasuk perkantoran.
"Kita akan tempatkan semua perkantoran yang membidangi berbagi tangkai olahraga, seperti kantor pengurus cabang tangkai olahraga, KONI dan termasuk Kantor Pemuda dan Olahraga," kata dia.
Ia mengatakan, selama ini meskipun dengan keterbatasan sarana olahraga, atlet Pagaralam sudah cukup banyak yang mampu mengukir prestasi diberbagi even, baik tingkat Sumsel dan nasional. Contohnya, kata dia, atlet asal Kota Pagaralam pernah meraih juara di PON ke XVI Palembang, kejurnas whusu, kejurnas senam dan beberapa tangkai olahraga lainnya.
Ketua KONI Kota Pagaralam, Hendri Ganesa, mengatakan untuk meningkatkan prestasi bidang olahraga tidak cukup dengan mengandalkan atlet, tapi harus didukung dengan sarana pendukung yang lengkap, seperti sport center.
"Kita kesulitan untuk melakukan pembinaan dengan optimal karena belum ada sarana olahraga yang representatif, seperti stadion, kolam renang, lapangan tenis dan berbagai sarana pendukung lainnya," ungkap dia.
Dia mengatakan, ditargetkan tahun 2013 sport center akan selesai dibangun. "Mengingat diperlukan dana cukup besar maka Pemkot Pagaralam juga harus meminta dukungan pemerintah pusat dan Provinsi Sumsel," kata dia pula. (asn)

Danau Ranau Tercemar, Pemkab Didesak Lakukan Restoking


Muaradua,SN

Sebagian nelayan di Kabupaten OKU Selatan resah karena hasil tangkapan ikan menurun. Hal tersebut diduga disebabkan Danau
Ranau tercemar belerang sehingga berdampak pada puluhan ton mati mendadak beberapa bulan lalu. Terkait hal tersebut nelayan di Kabupaten OKU Selatan mendesak pemerintah setempat melakukan Restoking (Penebaran benih ikan).
Minimnya hasil tangkapan menurut Risdianto selaku Ketua Pemuda Desa Way Wangi semenjak beberapa tahun terakhir terlebih lagi setelah Danau Ranau tercemar belerang Gunung Seminung puluhan ton ikan mati mendadak. "Sangat disayangkan pemerintah setempat tidak terpikirkan melakukan normalisasi dengan melakukan restocking. Sudah lama tidak diadakan penebaran benih ikan di Danau Ranau. Kalau dulu pernah dilakukan beberapa kali tapi kenapa sekarang tidak lagi,”kata Risdianto dengan nada kecewa
saat di bincangi beberap waktu lalu.
Terpisah Anggota DPRD OKU Selatan Dapil dua (II), Irawan Abizar mengatakan, kebutuhan akan konsumsi ikan khususnya untuk memenuhi kebutuhan lokal yang selama ini adalah hasil yang dilakukan nelayan. Melalui penangkapan ikan di perairan umum Danau Ranau menggunakan jenis alat tangkap yang bersifat tradisional .
"Hal ini perlu diupayakan pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan dan Peternakan jangan tutup mata perlu dilakukan tindakan bijak dengan adanya pengelolaan dalam Bentuk Restocking
. Sebagai salah satu upaya kegiatan perikanan dalam memanfaatkan
sumber daya secara berkesinambungan,” tandasnya.
Menurutnya, sumberdaya perairan umum Danau Ranau sebagai akibat terjadinya penurunan tingkat produktifitas perairan dan produksi ikan. Serta hilangnya beberapa spesies endemik sehingga sebagai dampak negatif lanjutannya adalah menurunnya daya dukung perairan.
"Karena itu perlu mendapat perhatian yang serius oleh
pemerintah untuk segera melakukan suatu tindakan. Dengan melakukan restocking. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengendalian utamanya menambah produktifitas tani nelayan setempat,”pungkasnya. (dan)

Warga Protes Galian Kabel Telkom


* Hanya Diperbaiki Seadanya

Prabumulih, SN
Pelaksanaan pekerjaan galian penanaman kabel optik untuk jaringan speedy Telkom di wilayah Kota Prabumulih, belakangan ini mulai menuai protes warga. Aksi protes warga timbul, menyusul banyaknya bekas galian di sejumlah titik lokasi galian yang hanya diperbaiki seadanya oleh pekerja perusahaan kontraktor PT Deta Kreasi dari Jakarta, bahkan badan jalan aspal ada yang rusak.
Menurut Mufit (51), warga Jalan Arimbi Kecamatan Prabumulih Timur, pelaksana kontraktor dinilainya hanya bekerja mengambil mudahnya saja dan terkesan asal–asalan. Selain tanpa memerhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat pelaksanaan galian tersebut, juga menghambat program Pemerintah Kota Prabumulih dalam mewujudkan meraih Piala Adipura tahun 2012.
Sebab lingkungan disekitar jalan yang sudah tertata rapi dan indah, menjadi rusak akibat bekas galian mereka yang tidak diperbaiki seperti semula,” kritik bapak empat anak ini.
Dia menyebutkan, dari pelaksanaan pekerjaan galian penanaman kabel sepanjang sekitar 5 kilometer dalam wilayah Kota Prabumulih, banyak ditemukan sengaja ditelantarkan dan andaipun diperbaiki hanya ditutupi dari bekas tanah galian kabel optik itu sendiri. Kondisi itu justru dikhawatirkannya dapat mengancam keselamatan para pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor.
{ernah kejadian beberapa tahun lalu, di Jalan Tampomas akibat bekas galian kabel seperti itu juga dan hanya diperbaiki dengan menutup bekas tanah galian tersebut hampir mencelakakan pengendara motor yang terpental dari bangku jok motornya setelah roda ban depan kendaraannya terjebak dan terperosok amblas masuk ke dalam lubang bekas galian kabel itu,” kenang Nasir, khawatir peristiwa tersebut terulang kembali dan membahayakan pengguna jalan.
Kecemasan serupa juga dikatakan Sugeng (34), warga Jalan Gunung Kemala, Kecamatan Prabumulih Barat. Kendaraan motornya pernah hampir terbalik karena sempat kehilangan keseimbangan setelah ban sepeda motor yang dikemudikannya masuk ke dalam lubang bekas galian kabel serat optik tersebut.
Namun beruntung dikatakannya, saat kejadian kondisi lalu lintas di jalan itu masih sepi sehingga dirinya dan motornya selamat. “Yo untung be dak katek mobil dan motor lain lewat. Kalu idak, itu gara–gara ban motor aku masuk lubang bekas galian yang aku kiro sudah dibeneri dan padet,” ujarnya.
Sebelumnya, Manager PT Deta Kreasi Tonius mengatakan, pihaknya sudah memberikan keterangan kepada Wakil Walikota Prabumulih Ir Ridho Yahya MM, terkait keluhan masyarakat dan sejumlah Kecamatan yang wilayahnya terkena proyek pemasangan kabel optik speedy Telkom tersebut.
“Tidak benar itu pak, boleh bapak cek di lapangan yang mana bekas galian pekerjaan kami yang tidak diperbaiki. Bahkan hal ini juga sudah kami beritahukan langsung kepada bapak Wakil Walikota Prabumulih, bapak Ridho Yahya, siang tadi di ruangannya,” ungkap Tonius. (and)

Pembangunan Fly Over Simpang Jakabaring Tertunda


Palembang, SN

Rencana pembangunan fly over atau jembatan layang di simpang Jakabaring pada 2012, dipastikan tertunda. Pasalnya, dalam RAPBD Sumsel 2012, pembangunan fly over itu tidak dianggarkan.
Hal ini diungkapkan Anggota Komisi IV DPRD Sumsel, M F Ridho, kemarin (10/11). Menurutnya, salah satu penyebab tidak dianggarkannya pembangunan fly over simpang Jakabaring adalah berkurangnya anggaran di Dinas PU Bina Marga, dari yang diusulkan Rp 800 miliar, yang terealisasi di APBD 2012 hanya Rp 512 miliar.
“Awalnya pada 2012 ada rencana buat Fly Over, khususnya di daerah Seberang Ulu mengarah ke Ampera. Bahkan sudah masuk dalam program PU BM. Bahkan DED-nya sudah siap. Sayangnya saat pembahasan program tidak dialokasikan sebab dana jauh berkurang dari 800 miliar jadi 512 miliar,” kata Ridho.
Namun demikian, pihaknya sedang mengusahakan, agar hal yang menunjang pembangunan fly over simpang Jakabaring dipersiapkan dahulu di 2012, kendati pembangunannya belum dimulai.
“Jalur alternatif juga harus disiapkan, jangan sampai pada pelaksanaanya nanti bingung mau lewat mana, Itu sebabnya kami berharap ada anggaran untuk persiapan utilitas dan pekerjaan pendahuluan dan jalur alternatif,” kata dia.
Sementara Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumsel, Ahmad Yani mengatakan pada saat pembangunan nanti pasti akan menimbulkan kemacetan. Itu sebabnya, pihaknya berharap tahun 2012 ini bisa dilakukan persiapan dan 2013 sudah bisa dikerjakan dan tanpa hambatan.
“Kita tahu lalulintas di simpang jakabaring sangat padat, itu sebabnya kita punya waktu satu tahun untuk menyelesaikan masalah pengalihan rute alternatif saat pembangunan mulai berjalan. Selain itu yang tak kalah penting yakni menyelesaikan masalah utilitas terlebih dahulu, seperti memindahkan pipa PDAM, tiang listrik, kabel provider telpon, atau apapun yang nantinya menghambat pembangunan jalan layang,” katanya.
"Kita akan mengusahakan agar biaya persiapan seperti itu, dapat dianggarkan di APBD Sumsel 2012," tambah dia. (awj)

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.