Rabu, 21 Desember 2011

Edisi 520, Rabu 21 Desember 2011

Sejarah Palembang Akan Ditelusuri di Belanda


Palembang, SN
Kepala Badan Arsip, Perpustakaan, dan Dokumentasi Kota Palembang Tabrani Moehsin mengatakan, pihaknya akan menelusuri peninggalan dokumen sejarah bangunan Jembatan Ampera.
Menurut Tabrani, sekitar 40 % spesifikasi atau data-data datail terkait pendirian Jembatan Ampera ada di museum Negeri Kincir Angin itu. Spesifikasi itu misalnya soal material, konstruksi Ampera.
“Kami juga akan menelusuri sejarah zuriat Kesultanan Palembang Darussalam di museum Belanda itu. Ini untuk melengkapi dokumen yang berkaitan dengan sejarah Kota Palembang,” ujar Tabrani, kemarin.
Diterangkannya, di Badar Arsip dan Dokumentasi, berbagai arsip pemerintah dan Satuan Kerja Perangkat Daerah semuanya tersedia. Salah satunya arsip Surat Izin Mendirikan Bangunan yang dikeluarkan Dinas Tata Kota, tahun 1928.
“Untuk arsip SKPD lumayan lengkap. Hanya saja kami masih terus mengumpulkan dokumen, terutama terkait dengan sejarah Palembang,” kata Tabrani.
Ditambahkannya, terkait rencana penelusuran ke mesuem di Belanda, pihaknya akan meminta fasilitasi dari Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI).
“Kalau dana mencukupi 2012 bisa saja kita berangkat ke Belanda, untuk melihat secara langsung cerita-cerita yang berkaitan dengan kejayaan Palembang tempo dulu di museum Belanda,” ujar Tabrani.
Walikota Palembang, Eddy Santana Putra menyambut baik kehadiran website Badan Arsip, Perpustakaan, dan Dokumentasi.
“Dengan adanya website ini, pencarian buku dan arsip tidak lagi harus dilakukan manual. Cukup cari di Internet, hanya butuh waktu beberapa menit. Ini terobosan yang bagus,” kata Eddy sembari mengatakan, website Badan Arsip bisa dibuka di barpusdok.palembang.go.id.
Ia menilai arsip di Badar Arsip sudah tergolong lengkap. Hanya saja ruangan penyimpanan arsip belum mencukupi.
Disinggung soal dokumen di museum di Belanda, wali kota mengatakan, “Sebagian besar dokumen yang ada di museum di Belanda itu milik kita,"ujarnya. (***)

Bencana Terus Melanda, Semua Harus Waspada


Oleh Agus Harizal Alwie Tjikmat

KONDISI cuaca saat ini yang tidak menentu membuat siapa saja menjadi resah. Curah hujan yang tiba-tiba sangat tinggi dengan intensitas yang rutin telah mengacaukan banyak siklus dan rencana manusia.
Bukan hanya itu, bencana alam juga menjadi sering datang karena hujan yang sangat deras. Efek buruk lainnya di kalangan petani banyak lahan pertanian, perkebunan, perikanan yang rusak. Kemudian masa bercocok tanam yang tertunda, sehingga akan berdampak pada ketersediaan pangan.
Seperti saat ini, dalam satu hari saja kita rakyat yang berdiam di Bumi Pertiwi harus mendengar kejadian bencana alam yang membuat saudara dan teman kita menjadi korban. Dalam musim hujan ini seperti tak henti bencana alam datang menimpa.
Untuk kondisi bencana alam yang disebabkan aktivitas alam yang makin tak ramah, usaha yang dilakukan paling hanya melakukan cara agar korban tak semakin luas. Kemudian sebagai umat beragama, tak bisa tidak kita harus terus berdoa agar badai yang menimpa Negeri ini segera berlalu.
Dalam beberapa tahun ini memang tak habis derita Bumi Pertiwi ini. Secara kontinyu jutaan rakyat di Bumi Pertiwi harus melihat petaka yang menghampiri. Mulai dari bencana alam, banjir, gunung meletus, tanah langsor, banjir bandang dan beragam bencana yang datang dari alam. Karena saat ini musim penghujan, dimana-mana terjadi banjir yang membuat aktivitas manusia menjadi terganggu.
Tetapi untuk kondisi ini sebenarnya tak akan terjadi, bila sebelumnya kita ramah dengan alam dan lingkungan. Saat ini alam memang marah dan tak ramah untuk rakyat Bumi Pertiwi.
Untuk kondisi yang pertama disebabkan karena banyak oknum yang selama ini terus merusak alam, hal ini membuah ketidakseimbangan alam. Sedangkan untuk bencana karena aktivitas alam yang diluar perkiraan manusia, sebagai manusia yang terus berpikir dan punya keyakinan dengan Tuhan, hendaknya dijadikan renungan bahwa kita manusia sangat kecil jika dibandingkan dengan kuasa-Nya. Karena saat seperti sekarang ini, kita begitu kecil dan lemah di depan-Nya. Saat bencana alam meluluntahkan semuanya, dengan sekejap Tuhan Yang Maha Esa memusnahkanya semuanya tanpa terkecuali. Semoga badai ini segera berlalu.
Tanah Indonesia memang sangat rawan bencana, hal ini disebabkan banyak faktor. Untuk faktor geografi dan topografi sangat jelas, karena kita ketahui Bumi Pertiwi ini dilalui dua lempeng tektonik aktif hingga membuat banyak daerah rawan gempa.
Kemudian Indonesia juga banyak gunung berapi aktif, yang sewaktu-waktu dapat meletus. Faktor lainnya, Tanah Nusantara yang digugusi ribuan pulau-pulau ini dikeliling lautan yang luas, hingga tak heran faktor ini juga membuat banyak wilayah menjadi rentan bencana, mulai besarnya terjangan ombak sampai tsunami.
Hal lain yang membuat Indonesia sering diterpa bencana karena kelalaian dan ketamakan oknum yang merusak banyak kekayaan alam di Bumi Pertiwi. Kondisi ini juga bertambah parah karena hukum masih bisa dipermainkan dan penguasa tidak tegas.
Di tengah kondisi Nusantara yang memang rawan bencana ini, pemerintah masih kurang tanggap. Untuk faktor alam, masih saja penguasa tidak berkaca dari pengalaman yang menyakitkan di tahun-tahun sebelumnya. (***)

PT BPP Menbuka Akses Jalan Desa Sako Suban

Sekayu, SN
Musyawarah bersama antara Pemkab Musi Banyuasin (Muba), PT Bumi Persada Permai (BPP), PT Sentosa Bahagia Bersama (SBB) dan warga dusun III dan IV Desa Sakosuban, Kecamatan Batangharileko terkait pemblokiran jalan oleh BPP, Selasa (20/12), menuai kesepakatan. Kesediaan BPP membuka akses jalan dengan ketentuan hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan roda empat kecil, dan membentuk tim pengamanan terpadu yang melibatkan BPP dan SBB untuk mengantisipasi illegal logging.
Musyawarah ini dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Muba, HM Hanafi dan dihadiri sejumlah perwakilan dari pihak PT BPP M Amin Cs, PT SBB Maman Cs, Camat Batanghari Leko Iskandar, Kapolsek Batanghari Leko AKP Edy, Kaur Pemerintahan Desa Sakosuban Karnadi, beberapa warga dan unsur terkait lainnya.
Mengawali pembicaraan, Camat Batangharileko Iskandar melaporkan, kondisi terkini di wilayah Sakosuban sehubungan dengan pemblokiran jalan minggu lalu cukup berpengaruh terhadap aktivitas warga. Khususnya, menyangkut semangat pembuatan e-KTP.
“Nah jika ini dibiarkan, tentu kita sangat mengkhawatirkan lunturnya semangat itu. Sebab jika warga harus menggunakan jalan alternatif lainnya, akan menempuh jarak ratusan kilometer,” kata Iskandar.
Menanggapi hal ini, Humas BPP M Amin menjelaskan, keputusan untuk membuat kanal pada jalan itu semata-mata untuk mengantisivasi maraknya illegal logging. Menurut dia, dengan menutup akses jalan kendaraan besar tidak bisa lewat dan memperkecil peluang penjarahan hutan di wilayah mereka. “Jujur saja kami tidak menganggap ada masalah soal ini. Silahkan saja warga mau pakai jalan itu. Cuma khsusus kendaraan besar tidak bisa,” ujarnya.
Selanjutnya, Sekda Muba H M Hanafi menegaskan, agar persoalan ini segera diselesaikan. Beberapa solusi yang ditawarkan pun mendapat respon positif oleh peserta rapat, hingga muncul beberapa kesepakatan. “Jadi, saya tidak mau dengar ada rakyat saya tidak bisa lewat gara-gara perusahaan menutup jalan. Jika itu terjadi, saya juga akan menutup jalan kami,” tegasnya. (her)

Kasus DBD Mulai Serang Kota Sekayu


Sekayu, SN
Semenjak diguyur hujan selama dua bulan terakhir Kabupaten Musi Banyuasin dan sekitarnya terutama Kota Sekayu kasus penyakit demam berdarah (DBD) mulai merebak menyerang warga.
Penyebaran penyakit ini salah satunya diakibatkan disekitar rumah warga dan pusat perkantoran di Kota Sekayu banyak tergenang air hujan. Tergenangnya air dilingkungan warga diakibatkan sistem drainase yang tidak sesuai dengan perencanaan, sehingga disaat hujan turun air yang menggenangi selokan tidak bisa mengalir dengan baik karena tidak terdapat saluran pembuangan air khusus.
Merebaknya kasus demam berdarah yang sudah menyerang warga membuat sebagian besar kepala keluarga merasa prihatin dan meminta kepada pihak terkait untuk segera melakukan pencegahan berupa Fogging sebelum kasus tersebut menelan korban jiwa.
Berdasarkan pengamatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekayu, terdapat beberapa korban terserang penyakit demam berdarah yang dirawat di Ruangan Medang Kamar 5 D terbaring lemah akibat mengindap penyakit DBD.
Seperti yang diungkapkan orangtua Aldi Candra (16) warga Komplek DC Kecamatan Sekayu yang dirawat di RSUD Sekayu menjelaskan, anaknya selama empat hari telah dirawat akibat mengidap penyakit demam berdarah. Kemungkinan besar, merebaknya kasus tersebut diakibatkan mandegnya aliran drinase sehingga menggenangi lingkungan warga. Dengan banyaknya air tergenang, membuat perkebangan nyamuk demam berdarah semakin banyak. Hingga saat ini, sejak adanya pergantian musim, pihak terkait terutama dinas Kesehatan Kabupaten Muba belum pernah melakukan tindakan pencegahan berupa Fogging. Dan untuk mencegah semakin meluasnya berkembang penyakit demam berdarah, warga sekitar telah berupaya melakukan pencegahan seadanya berupa membersihkan sumabat air di selokan.
Diharapkan jelasnya, pemerintah harus proaktif menerjunkan tim guna mencegah beredarnya penyakit yang sangat dikhawatirkan warga. Sementara itu, menindaklanjuti keluhan warga, Kabit Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Muba Candra SKM Msi saat dikonfirmasi tidak bisa memberikan komentar. (her)

Usaha Galian C Ilegal di Banyuasin Makin Ramai

Banyuasin, SN
Usaha galian C tanah urug Ilegal di Kecamatan Talang Kelapa makin ramai, terbukti masuknya dua pengusaha baru Ahwad dan Ayin. Kedua pengusaha itu melakukan aktifitas penggalian tanah urug di Kelurahan Air Batu.
Dari data Distamben Kabupaten Banyuasin Desember 2011, tercatat hingga kini ada enam titik galian C illegal yang masih beroperasi, 4 titik di kelola 'orang lama' dan 2 titik galian dikelola 'orang baru'.
Kepala Seksi Trantib Kecamatan Talang Kelapa, Ujang SE mengatakan, pihaknya akan kembali melayangkan surat teguran pada 6 titik lokasi galian di dua wilayah Kelurahan Air Batu dan Kelurahan Sukomoro. Surat teguran itu intinya para pengusaha diminta agar menghentikan aktifitas pertambangan ilegal.
"Saat ini galian C bukannya berkurang jumlahnya, tetapi bertambah, malahan ada pemain baru yang mencoba mengadu nasib,” katanya.
Ujang menjelaskan, pihak Trantib akan terus berkoordinasi memberikan data dan laporan pada Distamben dan Sat Pol PP terkait semakin ramainya aktifitas ilegal galian tanah yang menimbulkan kerusakan alam.
“Bila terus dibiarkan maka galian C akan semakin ramai, bahkan bukan tidak mungkin pemodal dari luar masuk,” ujarnya.
Terpisah, Camat Talang Kelapa Yusrizal mengatakan, Kecamatan Talang Kelapa akan terus berupaya melakukan penertiban galian C ilegal, dengan melakukan koordinasi pada semua pihak.
“Ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Kecamatan Talang Kelapa, tapi menjadi tanggung jawab bersama, untuk mencegah terjadinya kerusakan alam yang di timbulkan galian C ilegal,” katanya. (sir)

Tembok Jembatan Muara Padang Mulai Retak


Banyuasin, SN
Tembok jembatan rangka baja yang dibangun tahun 2006 silam dibawah jembatan Muara Padang sepanjang 130 meter yang berfungsi sebagai pemecah ombak air sungai pasang tampak mulai ada keretakan. Patalnya lagi baut dan mur jembatan pada rangka bajanya beberapa buah lepas atau hilang.
Keretakan terjadi sejak 3 tahun lalu pada tembok penahan ombak hingga sekarang belum diperbaiki, sehingga dikhawatirkan keretakan akan semakin lebar karena kondisi jembatan semakin lama semakin padat arus kendaraan.
Warga Desa Margo Mulyo Kecamatan Muara Padang, Rohimin (45) mengatakan, jembatan Muara Padang adalah satu-satunya jembatan terpanjang saat ini, jembatan ini dibangun oleh pemerintah kabupaten dengan dana lebih dari Rp 10 milyar pada tahun 2005 lalu.
“Kondisi jembatan yang dibangun dengan menggunakan pondasi tiang pancang di tengah ditengah ada 2 titik, lalu pangkal jembatan. Masing-masing kondisi tiang pancang masih terlihat kokoh, dan tidak ada yang retak, namun sebaliknya keretakan tampak dipangkal tembok penahan jembatan," terang Rohimin ditemui, Selasa (20/12).
Rohimin mengatakan, retaknya tembok pemecah ombak air sungai jembatan Muara Padang dapat menyebabkan pergeseran jembatan apabila tidak segera diperbaiki, apalagi beberapa baut jembatan sudah berkurang entah lepas sendiri atau dicuri.
Senada dikatakan Yanto, warga Jalur 18 Desa Daya Utama Jembatan 2 Kecamatan Muara Padang, jembatan satu-satunya yang terbesar dan terpanjang terbentang di Muara Padang menjadi penghubung jalan darat antara Kecamatan Mariana dengan Kecamatan Muara Padang, Muara Sujian, dan Air Saleh.
Jembatan ini adalah jembatan kebanggaan orang tiga kecamatan yang biasa digunakan untuk rekreasi dihari libur dan hari besar lainnya untuk melihat pemandangan warga diatas jembatan sungai Muara Padang.
Yanto mengatakan, tembok jembatan yang retak akibat dari pergeseran tanah di bawah jembatan sehingga menyebabkan tembok penahan ombak retak.
“Perkiraan saya keretakan tembok pemecah ombah di bawah jembatan akibat pergesaran tanah,” kata Yanto.
Dikatakan Yanto, jembatan Muara Padang sejak dibangun tahun 2006 silam hingga saat ini belum pernah dilalui oleh truk-truk besar diatas 15 ton sehingga kondisinya memang masih kokoh dan utuh, namun disayangkan tingginya jembatan mencapai 2 meter dari jalan menyebabkan banyak pengendara roda dua yang terpeleset jatuh.
"Jalan kanan kiri jembatan belum dicor beton atau aspal sehingga jarak antara lantai jembatan dengan jalan terlalu tinggi apalagi saat hujan menyebabkan kendaraan roda dua dan roda empat sering terpeleset dan terbalik," tambahnya. (sir)

Pertanian Dapat Dana Hibah APBN Rp 245 M

Palembang, SN
Pertanian Sumsel patut bersyukur, pasalnya dana hibah dari APBN Pusat sebesar Rp 245 miliar lebih akan dikucurkan untuk memenuhi kebutuhan di bidang pertanian Sumsel tahun 2012 mendatang.
Hal ini ditegaskan oleh Ketua Komisi II DPRD Sumsel, Budiarto Marsul, ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/12). Menurutnya, dana tersebut masih ada kemungkinan untuk bertambah.
Dana hibah tersebut kata Politisi Partai Gerindra ini, akan digunakan untuk membantu kebutuhan pertanian Sumsel, diantaranya untuk membeli peralatan pertanian, pembinaan tani, pembelian pupuk dan sebagainya untuk 15 kabupaten dan kota di Sumsel.
"Dengan adanya tambahan anggaran dana dari APBN itu tentunya cukup mengembirakan petani di Sumsel khususnya, karena masyarakat bisa melakukan usaha-usaha pertanian dengan baik," katanya.
Ia menambahkan, untuk anggaran pertanian di APBD Sumsel tahun 2012 ini dianggarkan Rp 23 miliar lebih. Dana tersebut diprioritaskan untuk menunjang pertanian di Sumsel, seperti untuk membeli alat-alat produksi, mesin padi, handtraktor, dan bibit.
"Dana Rp 23 miliar di APBD Sumsel tahun 2012 ini masih minim jika untuk memenuhi kebutuhan pertanian di Sumsel, tetapi alhamdulilah ada bantuan dana hibah dari APBN, bisa untuk memenuhi kebutuhan pertanian Sumsel," pungkasnya. (awj)

Perkebunan Sumsel Didominasi Investor

* Sumsel Masih Rawan Konflik Lahan

Palembang, SN
Lahan perkebunan di Sumsel yang mencapai 850 ribuan hektare diketahui masih dikuasai oleh investor atau pemodal besar baik itu dalam negeri maupun asing. Kondisi ini diakui sangat rawan untuk memicu terjadinya konflik antara warga dan perusahaan.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, Singgih Himawan, Selasa (20/12). Perkebunan dimaksud mencakup perkebunan sawit, perkebunan karet dan perkebunan lainnya.
Ia mengatakan, untuk perkebunan sawit, dari luas keseluruhannya, hanya 40- 45 persennya saja yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Sementara 55 persennya dimiliki oleh para investor. "Kondisi ini tentunya sangat timpang dan rentan terjadinya konflik," katanya.
Sementara untuk perkebunan karet kata Singgih, kepemilikannya sangat bertolak belakang dengan kebun sawit. "Perkebunan karet hampir 95 persen dimiliki oleh rakyat sehingga sektor ini lebih tentram dan jauh dari konflik," ujarnya.
Sementara itu menurut Syawaludin, Staf pengajar IAIN Raden Fatah, konflik pertanahan atau agraria seperti kasus Sodong di Sumsel terjadi karena adanya ketimpangan dalam kepemilikan lahan perkebunan kelapa sawit di daerah ini.
“Kepemilikan luas lahan perkebunan kelapa sawit milik swasta lokal dan asing di Sumsel seperti tidak terbatas. Perkebunan tersebut memiliki HGU yang luasnya mencapai puluhan ribu hektar. Ini menjadi salah satu pemicu konflik di lapangan," urainya.
Sehubungan dengan ini, Anggota Komisi I DPRD Sumsel, Slamet Soemosentono mengimbau, agar pemberian izin Hak Guna Usaha (HGU) bagi perusahaan terutama dalam bidang perkebunan lebih selektif. Tujuannya, meminimalisir potensi konflik di kalangan masyarakat dengan perusahaan seperti yang terjadi di Desa Sodong, Kabupaten OKI.
"Kita tidak mau peristiwa Sodong atau Mesuji terulang kembali di Sumsel, hanya karena perebutan lahan antara masyarakat dan perusahaan," katanya.
Ia menilai, potensi konflik di Sumsel terkait masalah lahan masih tinggi, salah satunya di kabupaten Banyuasin. "Untuk itulah pemberian izin HGU harus lebih selektif, perusahaan yang tidak memenuhi syarat tidak boleh dikeluarkan izin HGU-nya," ujar dia.
Senada anggota Komisi I DPRD Sumsel lainnya, Arwani Dheni, menuturkan, soal Sumsel yang menjadi nomor 7 wilayah terkonflik pertahanan, harus menjadi warning bagi seluruh stakeholder di Sumsel.
“Memang kita sadari, permasalahan pertanahan ini tidak selesai dalam waktu singkat dan tidak ada obat yang paten untuk menyelesaikannya. Tapi kita harus sadari kalau tidak diselesaikan dari sekarang ya kapan lagi," tuntasnya. (awj)

Kejari Prabumulih Bidik Calon Tersangka Baru

* Kasus Dugaan Penyimpangan Proyek Jalan Urip dan M Yamin

Prabumulih, SN
Kejaksaan Negeri (Kejari) Prabumulih mulai membidik calon tersangka baru dalam kasus dugaan penyimpangan proyek Jalan Urip Sumoharjo dan M Yamin yang dikerjakan satu paket dengan nilai sekitar Rp 5 miliar. Penambahan calon tersangka pada kasus itu menyusul hasil pengembangan dan penyidikan yang dilakukan pihak Kejari Prabumulih terhadap beberapa saksi sebelumnya.
“Masih tahap dik (penyidikan, red), kemungkinan calon tersangkanya bisa bertambah,” ungkap Kepala Kejari Prabumulih Sri Astuti SH, melalui Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Alexander Rudy SH, ditemui diruangan kerjanya, Selasa (19/12) pagi kemarin.
Namun sama dengan sebelumnya, Alex masih enggan menyebut calon tersangka baru dalam kasus yang sempat merugikan uang negara sekitar Rp 800 juta (jumlah kerugian sebelum dilakukan perbaikan oleh BPK) tersebut. Dia sendiri hanya menyinggung calon tersangka baru itu berasal dari pihak konsultan.
Dengan bertambahnya calon tersangka baru ini, berarti sudah ada empat calon tersangka yang ditetapkan pihak Kejari Prabumulih dalam kasus dugaan penyimpangan proyek Jalan M Yamin dan Urip Sumoharjo tersebut. Penetapan para calon tersangka itu, menyusul hasil pemeriksaan ahli laboratorium Poltek Unsri yang menemukan kekurangan volume pada proyek tersebut.
Seperti pemberitaan sebelumnya, ketiga calon tersangka berasal dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan kalangan kontraktor. Alex sendiri masih enggan menyebutkan nama – nama ketiga calon tersangka tersebut. “Tunggu hasil audit BPKP Sumsel diumumkan, baru para calon tersangkanya kita beritahukan,” ujar Alex..
Mencuatnya kasus proyek Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan M Yamin, setelah proyek yang ditender pada tahun 2010 lalu itu dikerjakan ulang pada tahun 2011. Dari hasil laporan lab terdapat kekurangan volume pada pekerjaan tersebut. “Namun kembali ditegaskan, jelas nilai kerugiannya kemarin pasti berbeda dengan hasil perhitungan dari petugas BPKP nanti. Sebab pekerjaannya sudah diperbaiki,” tambahnya. (and)

Selasa, 20 Desember 2011

edisi cetak 519, Selasa 20 desember 2011

Pemain SFC & Persija Tawuran di Hotel, Polisi Turun Tangan

Palembang, SN
Insiden perkelahian pemain Sriwijaya FC dan Persija Jakarta di hotel setelah mereka bertanding kemungkinan besar akan dibawa ke ranah hukum. Manajemen Sriwijaya FC akan melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.
Peristiwa itu terjadi hari Minggu (18/12/2011), setelah kedua tim berduel di lapangan dalam lanjutan Indonesian Super League (ISL) di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, yang berkesudahan 2-1 untuk tuan rumah.
Seusai pertandingan, di Hotel Swarna Dwipa, Jln. Tasik, Palembang, terjadi pertikaian antarpemain. Menurut informasi, sempat terjadi cekcok antara pemain SFC Hilton Moreira dengan pemain Persija Ismed Sofyan di lantai lobi hotel. Pemain SFC yang lain, Thierry Gathuessi, datang untuk melerai, tapi diduga melakukan pemukulan terhadap Ismed.
Ismed lalu melapor pada rekan-rekannya, dan kemudian mengeroyok Gathuessi di lantai tiga. Ofisial Persija dilaporkan turut terlibat dalam perkelahian yang membuat geger sekaligus ketakutan, penghuni lain hotel tersebut.
Versi lain dari saksi mata bernama Ozi Maulana, penyanyi kafe hotel, ia melihat Ismed dan Hilton bertengkar di lobi, lalu beradu jotos. Ofisial dan pemain Persija lain yang melihat kejadian itu pun membantu Ismed memukuli Hilton.
Menyaksikan temannya dikeroyok, Keith Kayamba Gumbs dan Gathuessi datang mencoba melerai, tapi kemudian terbawa arus tawuran. Para pemain Persija lalu mengejar-ngejar pemain SFC sampai ke lantai tiga. Kaca pintu darurat lantai tiga pecah karena terkena pelemparan yang dilakukan ofisial Persija.
Dari tawuran yang liar itu Ismed dilaporkan mengalami luka di pipinya, sedangkan Hilton di bagian wajah. Manajer SFC, Hendri Zainuddin, berniat melapor ke Polrestabes Palembang, karena merasa pemainnya dikeroyok.
"Kita akan melaporkan kejadian ini ke Polresta. Kalau ada yang bersalah, kasus ini akan dibawa ke ranah hukum," demikian Hendri saat dihubungi wartawan, Minggu malam.
Sementara itu Kasat Reskrim Polresta Palembang, Frido Situmorang, mengatakan, pihaknya sedang menyelidiki kejadian tersebut. Untuk sementara, diduga motifnya berawal dari lapangan saat kedua tim bertanding.
Untuk diketahui, partai itu dimenangkan SFC dengan skor 2-1, diwarnai tiga kartu merah: dua untuk Persija dan satu untu tim tuan rumah. Bek Persija Fabiano dan Kayamba Gumbs diusir wasit karena sempat saling dorong dan nyaris berkelahi.
"Kita masih menyelidiki kejadian ini," ujar Frido Situmorang. "Berdasarkan olah TKP, kaca di lantai2 pintu darurat hotel pecah akibat lemparan benda tumpul."
Sementara itu Pelatih Persija Iwan Setiawan mengaku tidak melihat kejadian tersebut, tapi berharap ada penyelesaian secara baik-baik di antara orang-orang yang terlibat. ( a2s / mfi )

Hari Ini, 5 Terdakwa Kasus Sungai Sodong Disidang

Kayuagung, SN
Hari ini Selasa 20 Desember, 5 terdakwa kasus bentrok berdarah antara warga Desa Sungai Sodong Kecamatan Mesuji Kabupaten OKI dengan pihak keamanan PT Sumber Wangi Alam (SWA) akan menjalani sidang di Pengadilan Negeri Kayuagung.
Demikian ditegaskan Husaeni SH MH selaku Ketua Pengadilan Negeri Kayuagung didampingi Bupati OKI Ir H Ishak Mekki MM, Wakapolres OKI, Dandim, Kejari Kayuagung, Ketua PA Kayuagung, Sekda OKI dan sejumlah pejabat di jajaran Pemkab OKI, Senin (19/12) di ruang rapat bupati.
Dijelaskan Husaeni, kelima terdakwa tersebut yakni Tarjo, Suprianto, Muhammad Idris, Muhammad Ridwan dan Heri Supriansyah. Semuanya terdakwa dari pihak sekuriti PT SWA ini dijerat dengan pasal primer 338 KUHP, subsider 170 KUHP dan 351 KUHP ayat 1.
“Besok (hari ini,red) pemeriksaan terhadap para terdakwa,”kata Husaeni menjawab pertanyaan wartawan tentang sejauh mana proses hukum dan penanganan yang dilakukan pihaknya terhadap kasus bentrok di Desa Sungai Sodong yang terjadi 21 April silam.
Sedangkan untuk persidangan terdakwa dari pihak warga sudah selesai dilakukan beberapa waktu lalu. Terdakwanya hanya 1 orang atas nama Goni, didakwa karena memiliki dan membawa senjata tajam di tempat umum. Goni dihukum 5 bulan kurungan penjara namun sekarang pihak jaksa mengajukan kasasi sehingga perkaranya masih berlangsung.
Sedangkan Wakapolres OKI Kompol Indra D SIK menjelaskan, setiap perusahaan punya hak dan kewajiban membentuk dan memiliki tim keamanan perusahaan baik yang dibentuk dari intern perusahaan maupun menggunakan jasa keamanan dari ekstern perusahaan.
Seperti diberitakan sebelumnya, bentrok berdarah antara warga Desa Sungai Sodong dengan sekuriti PT SWA ini terjadi 21 April 2011 lalu. Pemicunya karena kedua belah pihak saling mengklaim lahan perkebunan sawit di desa tersebut.
Kronologis bentrok bermula adanya seorang warga yang memanen kelapa sawit di lahan yang bersengketa, namun yang dilakukannya ini dilihat pihak keamaman perusahaan sehingga terjadilah keributan dan menewaskan warga tersebut.
Tewasnya seorang warga ini dilihat seorang warga lainnya yang mencoba melakukan pembelaan, namun nasibnyapun sama yakni tewas dianiaya pihak keamanan. Informasi meninggalnya 2 orang warga ini diketahui warga setempat.
Jelas saja, pihak keluarga korban dibantu ratusan wargapun langsung emosi dan mendatangi basecamp PT SWA untuk balas dendam. Emosi yang tidak terkendali ini berakhir anarkis dengan merusak sejumlah asset perusahaan dan bentrok dengan puluhan pihak sekuriti sehingga 5 orang sekuriti akhirnya tewas dianiaya warga.(iso)

300 Pegawai HL PT SSG Tak Ada Jamsostek

*DP Siregar: Perusahaan
Harus Bertangung Jawab


Banyuasin, SN

Permasalahan yang dihadapi oleh sekitar 16 pekerja di PT Sukses Sawit Gasing (SSG) bukan hanya permasalahan keracunan tetapi salah satu pegawai harian lepas dari PT SSG datang ke kantor perkantoran Pemkab Banyuasin di Dinas Tenaga Kerja (Disnakertrans) untuk meminta pertangung jawaban dari PT SSG akibat diberhentikan dari tempat dia bekerja tanpa ada surat peringantan.
Yuliana (31 thn) pekerja harian lepas PT SSG menjelaskan, ia diberhentikan dari PT SSG tanpa ada surat peringatan dan hanya melalui sms saja.
“Pada saat saya datang mau bekerja saya sudah tidak boleh lagi bekerja tanpa ada pemberitahuan kepada Saya padahal sudah bekerja di PT SSG sebagai pegawai harian lepas sudah bekerja selama 2 tahun. Tanpa ada surat peringatan saya langsung diberhentikan dan ,saya mau menuntut untuk agar saya diberikan pesangon selama saya bekerja,” ujarnya.
Adi Kurniawan, salah satu staf tata usaha PT SSG membantah kalau dirinya telah memberhentikan pekerja yang bernama yuliana. "Dari perusahaan sendiri sampai saat ini belum mengeluarkan surat pemberhentian kepada saudara Yuliana,dan kami dari PT SSG. Jika memang saudara yuliana masih ingin bekerja kami masih menerima dan jika mau berhenti kami dari PT SSG akan memberikan pesangon,"ujarnya.
Kasi Hubungan Industrial dan Jamsostek DP Siregar SH MH mengatakan, bila permasahan yang dihadapi oleh pekerja harian lepas yang bernama yuliana hanya permasalahan yang dilakukan oleh oknum perusahaan saja.
Menurutnya, hal tersebut mungkin hanya dilakukan oleh oknum yang bekerja di PT SSG. Jika memang pekerja yang bernama yuliana ini mau berhenti maka harus diberikan pesangon.
Ditanyakan permasalahan yang menyangkut ke 16 pekerja yang mengalami keracunan beberapa hari yang lalu di PT SSG ke-16 pekerja harian lepas tersebut tidak memiliki jamsostek Siregar juga mengatakan jika prusahaan tersebut mampu dan mau bertanggung jawab maka perusahaan tidak perlu lagi memberikan jamsostek.
“Untuk pegawai tenaga harian lepas tersebut jika perusahaan mampu dan mau bertangung jawab maka prusahaan tidak perlu memberikan jamsostek. Tetapi jika prusahaan tersebut tidak bertangung jawab,dan tidak memberikan jamsostek kepada pekerja,maka perusahaan tersebut salah dan akan di berikan sanksi serta di laporkan karena tidak memberikan kewajibannya kepada perusahaan nya,” jelasnya.(sir)

Pengurus Ranting PMI Dilantik

HBA: Anggota PMI Harus Peduli Lingkungan

Empat Lawang, SN
Sebanyak 40 anggota Palang Merah Indonesia (PMI) pengurus ranting kecamatan, masa bakti 2011 - 2013 resmi dilantik oleh Ketua PMI cabang Empat Lawang Ny HjSuzanah Budi Antoni. Senin (19/12).
Acara yang dipusatkan di halaman Puskemas Pendodpo tersebut juga dihadiri bupati Empat Lawang H Budi Antoni Aljufri (HBA) yang juga sebagai pembina PMI Empat Lawang, serta pejabat pemkab Empat Lawang,
Pada acara Pelantikan pengurus ranting PMI kabupaten Empat Lawang yang dilantik langsung ketua PMI cabang kabupaten Empat Lawang ini, diisi juga kegiatan bakti sosial, sepeti sunatan masal, donor darah, dan KB gratis, serta pelayanan kesehatan masyarakat lainnya.
Ketua PMI Cabang Empat Lawang Ny Hj Suzana Budi Antoni, mengharapkan agar pengurus yang dilantik untuk segera menyusun program kerja yang mampu dilaksanakan secara tepat guna, tepat sasaran, efisien dan membantu program Pemkab Empatlawang.
"Selamat kepada pengurus yang dilantik untuk periode 2011-2013. Diharapkan pengurus ranting dapat bekerjasama dengan PMI Kabupaten Empatlawang,"terangnya.
Lebih lanjut Suzana mengatakan, agar pengurus ranting PMI dapat bekerja secara maksimal dan bersinergi membangun dan pengembangan Palang Merah diseluruh Kecamatan.
"Kami harapkan organisasi PMI ini terutama di kabupaten Empat Lawang dapat Saling besinergi dan bersama membangun organisasi ini. Sehingga dapat dinikmati masyarakt luas khususnya masyarakat Bumi Saling Keruani Sangi Kerawati,"imbuhnya.
Sementara Bupati Empat Lawang H Budi Antoni Aljufri (HBA), organisasi ini merupakan kegiatan positif sebab dengan adanya organisasi ini tentunya diharapkan dapat dijadikan sarana membentuk karakter jiwa sosial yang tinggi, dan semangat kebersamaan.
”Sebaiknya anggota PMI haruslah memiliki jiwa kesetiakawanan sosial serta kepekaan dan kepedulian lingkungan sosial masyarakat ataupun sekolah,”ujarnya.
Mantan Ketua DPRD Lahat ini juga mengharapkan, dengan kegiatan ini bagi anggota PMI pengurus ranting semakin dapat meningkatkan rasa persaudaraan diantara sesama serta semakin memperkukuh tujuh prinsip dasar PMI yaitu kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, serta kesatuan dan kesemestaan.
“Harapannya saya dengan bertumbuhnya PMI ini dapat bersinergi bersama membangun daerah dan dapat melayani masyarakat luas," harap HBA.(Eko)

Mobil Karyawan BUMN Raib Didepan Rumah

Muara Enim, SN

Sial menimpa, Sohirin bin Darmo (36) karyawan BUMN yang tinggal di Dusun II Desa Ujanmas Baru Kecamatan Ujanmas, mobil Suzuki pick up BG Nopol BG 9898 XT miliknya, lenyap digondol maling, Minggu (19/12) sekitar pukul 02.00 WIB.
Atas kejadian tersebut korban melaporkannya ke Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Muara Enim. Dalam pengakuannya dihadapan petugas, mobil pick up miliknya di parkir di halaman depan rumahnya.
Keesokan paginya, dia kaget mengetahui kalau mobilnya tersebut sudah raib. Bahkan dia telah berusaha mencari dan menanyakan kepada para tetangganya perihal kejadian tersebut, tetapi tak ada yang mengetahui ataupun mengenali ciri-ciri pelakunya.
Diakuinya, kalau malam tersebut, dia tak mendengar ada suara
mencurigakan yang masuk ke halaman rumahnya, meskipun pagarnya telah terkunci rapat. Padahal, mobilnya tersebut telah terkunci dengan pengaman kunci stir mobil.
Kapolres Muara Enim AKBP Budi Suryanto melalui Kasat Reskrim AKP Tri Wahyudi, Senin (19/12), membenarkan kejadian tersebut, saat ini kasus tersebut masih dalam penyelidikan petugas. (yud)

Dana BOS Triwulan IV Cair

Prabumulih, SN

Setelah sempat mengalami keterlambatan hingga dua bulan lamanya, akhirnya Pemkot Prabumulih melalui Dinas Pendidikan (Disdik), Senin (19/12), mulai melakukan pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Triwulan (tahap) IV bagi SD dan SMP di lingkungannya.
Tercatat sebanyak 91 Sekolah Dasar (SD), dan 19 Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdiri dari sekolah negeri dan swasta mendapat bantuan tersebut.
Kepala Disdik Kota Prabumulih, Rasyid SAg melalui Kepala Bidang Sekolah Menengah, Irawan Supmidi SPd MM, menyebutkan pencairan dana BOS Triwulan IV sudah dilakukan sejak Jumat (16/12).
Ia menambahkan, cara pencairan seperti biasa, dari rekening penampungan Disdik langsung ke rekening sekolah masing – masing. Keterlambatan turunnya dana BOS Triwulan IV 2011, diakui Irawan disebabkan kurangnya anggaran dana BOS yang diterima dengan jumlah sekolah.
“Keterlambatan terjadi karena anggaran tidak cukup sehingga terpaksa alokasinya dikurangi untuk masing – masing sekolah (dibagi rata). Jadi memang prosesnya agak lama, karena melihat jumlah siswa sekolah itu,” ungkap Irawan lagi.
Masing – masing SD menerima sekitar Rp 400 ribu persekolah, dan Rp 575 ribu bagi SMP. Pengurangan alokasi dana BOS bagi sekolah itu, dilakukan setelah terdapat selisih atau penambahan jumlah siswa pada sekolah tersebut.
Irawan menambahkan, agar pengurangan dana BOS tidak terulang sesuai dengan Keputusan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) sekarang ini, pihaknya kedepan hanya bertugas mengontrol dan mendata penggunaan dana BOS di sekolah.
“Kalau sekarang masih dari Bendahara Negara, di transper ke Bendahara Umum Daerah (BUD) kemudian ke rekening penampung Disdik, baru masuk ke rekening sekolah penerima dana BOS,” urai Irawan.
Sistem pencairan dana BOS tahun 2012 itu juga, menurut Irawan, selain lebih ringkas dan mudah juga mengurangi resiko terjadinya penyimpangan dalam penyampaiannya. “Sebab dari Bendahara Negara langsung ke Bendahara Umum Daerah Pro

Ratusan Bangunan Terancam Longsor

Pagaralam, SN
Ratusan bangunan rumah, dan perkantoran di Kota Pagaralam, terancam longsor akibat runtuhnya beberapa titik di lereng Gunung Dempo, Kampung I, Kelurahan Dempo Makmur, Kecamatan Pagaralam Utara.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kota Pagaralam, Ir H Edi Thamrin, Senin (19/12) mengatakan hujan deras yang mengguyur Pagaralam, mendorong beberapa titik terjadi longsor sekitar 10 meter hingga 20 meter dengan ketinggian sekitar 50 meter.
"Bencana alam susulan bisa saja terjadi karena hujan lebat dalam beberapa hari ini terus terjadi," katanya.
Dia menyebutkan, meskipun hanya menimbun beberapa sudut jalan, namun areal longsor cukup luas dan berada di kawasan pemukiman padat penduduk.
"Ratusan rumah di daerag Gunung Dempo itu sebagian besar berada di bawah tebing dan di lereng perbukitan. Tentunya jika terjadi longsor semuanya akan ikut menjadi korban," ungkap dia.
Diakuinya, banyak fasilitas warga yang saat ini terancam longsor, di antaranya perumahan milik karyawan PTPN VII dan Pustu Gunung Dempo.
Edi Thamrin menyebutkan, antisipasi untuk menanggulangi longsor susulan akan dilakukan pemasangan tembok penahan dari semen.
"Sebetulnya kalau musim hujan daerah Gunung Dempo, mulai dari perkebunan teh di ketinggian 1.900 dpl hingga Kampung I kawasan pabrik PTPN VII cukup sering terjadi longsor, hanya saja kapasitasnya kecil," ungkapnya.
Sementara itu Wakil Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati mengatakan, pemerintah kota sudah melakukan berbagai upaya pencegahaan dan pengendalian dalam menanggulangi bencana alam, seperti membentuk satuan kerja khusus menangani pesolan ini hingga tingkat kelurahan.
"Kalau kondisi darurat kita sudah siapkan semua, mulai dari peralatan dan personel siapa diterjunakan untuk mengatasi berbagai situasi," ungkap dia.
Dia juga meminta agar instansi terkait dapat menyediakan anggaran untuk mendukung upaya penanggulangan bila bencana alam yang banyak menimbulkan korban terjadi.
Ida juga mengatakan, antisipasi pertama yakni dengan mengurangi upaya perluasan pembukaan hutan di daerah pergunungan yang merupakan hulu sungai. Karena hal itu juga bisa memicu tidak terjadinya penyerapan air saat hujan deras, sehingga banjir kiriman muncul.
"Longsor terjadi karena air yang tidak mampu lagi diserap secara maksimal oleh tanah, belum lagi kondisi alam sudah banyak mengalami kerusakan, seperti tandus," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pos Pemantau Gunung Api Dempo, Slamet mengatakan, kalau hujan deras akan timbul kekhawatiran, karena perubahan di daerah itu semuanya di lereng bukit.
"Kalau disekitar kantor kami tidak terlalu berbahaya, namun longsor bisa saja mengancam disekitar bangunan wisata antan delapan," ungkapnya.
Namun demikian, kata Slamet, kewaspadaan akan tetap dilakukan, karena bencana alam yang bisa saja muncul secara tiba-tiba bukan hanya longsor dan banjir bandang saja, bahkan termasuk Gunung Dempo meletus. (asn)

17 Warga Pagaralam Digigit Anjing Gila

Pagaralam, SN
Berdasarkan data dari rumah sakit daerah (RSD), Besemah Kota Pagaralam, sebanyak 17 warga menjadi korban gigitan anjing gila, dan rentan terhadap penularan rabies, bahkan dalam satu hari bisa delapan orang menjadi korban gigitan anjing gila tersebut.
"Hingga 3 Desember 2011 ini, korban gigitan anjing gila sudah mencapai 17 orang. Semua korban gigitan anjing penular rabies ini hanya dilakukan rawat jalan dan suntikan anti penularannya," demikian diungkapkan Direktur RSD dr H Edy Kenedy, didampingi Kepala Rekamidik RSD Besemah, Mirza SE, Senin (19/12).
Dikatakannya, adapun pasien yang menjadi korban gigitan anjing gila hingga Senin (19/12), yaitu Mely (28), warga Indragiri, Kelurahan Giri Indah, Kecamatan Pagaralam Selatan, M Jari (60) warga Karang Caya, dan Udiono (60), Dusun Kabu Rejo, Kecamatan Pagaralam Utara, dan Canda Hanang (5) warga Dusun Talang Jengkol, Kelurahan Sokorejo, Kecamatan Pagaralam Utara.
"Kemudian Yuliana (55) warga Dusun Sumberjaya, Kecamatan Dempo Tengah, dan Rita (25) warga Bimagung, Kecamatan Dempo Utara, Wahyuni (28) Dusun Keburejo, Kelurahan Beringinjaya, Raka (6) Dusun Talang Jeruk, Kelurahan Sokrejo, Kecamatan Pagaralam Utara," ungkap dia.
Sebagian besar korban, kata dia, mengalami luka di kaki bagian atas atau betis dengan satu gigitan dan beberapa lubang gigi.
Sedangkan korban lainnya, yaitu Abdul Azi (8) Dusun Indragiri, Kelurahan Giri Indah, Kecamatan Pagaralam Selatan, Dimas (4), Dusun Demporiokan, Kelurahan Beringinjaya, Kecamatan Pagaralam Utara, Ayung Anungrah (7) Dusun Alun Dua, Herlina (35) warga Mekaralam, Sumiyati (50) Desa Rambai Kaca, Dedek Agung (18) warga Nendagung, Irwan (41) warga Tebad Baru, dan Reva (36) warga Jarai, Kecamatan Pagaralam Selatan.
Peristiwa ini, kata dia, sudah merupakan kejadian luar biasa (KLB), karena hanya dalam waktu beberapa hari saja sudah lebih dari puluhan warga di gigit anjing gila.
"Memang kita baru dugaan karena masih harus dilakukan karantina terhadap anjing tersebut selama sepuluh hari. Kalau dalam batas waktu tersebut anjing yang sudah mengigit korban tadi langsung mati, dapat dipastikan sudah tertular rabies," kata dia, sembari mengatakan untuk saat ini baru bisa diketahui melalui ciri-ciri saja, seperti gigitan hanya satu kali, dan siapapun yang ditemui akan digigit.
"Kami sudah membuat surat resmi kepada instansi terkait, seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan dan Perikanan, untuk melakukan pencegahan," ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Pagaralam, drh Syukri menanggapi persoalan ini mengatakan, sebelumnya sudah melakukan pemusnahan ratusan ekor anjing liar untuk mengantisipasi penularan penyakit rabies.
"Namun kita belum mendapat laporan jika saat ini sudah belasan warga menjadi korban digigit anjing gila. Langkah pencegahan kita akan kembali melakukan pemusnahan hewan sejenis yang hidup liar dibeberapa tempat, dan termasuk melakukan pencarian terhadap anjing yang sudah banyak melukai korban," ungkap dia.
Sementara bagi hewan peliharaan, kata dia, akan dilakukan penyuntikan vaksin rabies, agar terhindar penularan penyakit mematikan tersebut.
Diakuinya, saat ini masyarakat cukup banyak memelihara hewan jenis anjing, terutama di pedesaan yang mayoritas memeliharanya untuk menjaga rumah dan kebun. Kondisi ini juga menjadi penyebab sulitnya dilakukan pemusnahaan dan pencegahan penularan rabies.
"Bahkan hampir 50 persen anjing tersebut dibiarkan hidup liar, sehingga memudahkan penularan rabies," ungkapnya.
Penyakit ini bisa menular kepada manusia akibat gigitan anjing, bahkan bisa menimbulkan kematian. Untuk itu, menurut Syukri, kesehatan hewan peliharaan juga harus diperhatikan dan jangan sampai menjadi liar.
"Anjing yang berkeliaran dapat membahayakan keselamatan masyarakat apalagi sudah tertular rabies dan penularan penyakit ini paling banyak dialami hewan kurang perawatan," ungkapnnya.
Masih menurut Syukri, bukan hanya dimusnakan saja, akan tetapi kalau untuk peliharaan perlu dilakukan penyuntikan vaksin rabies bagi seluruh hewan yang kemungkinan bisa menularkan rabies seperti kucing anjing, dan kera.
"Vaksinasi terhadap hewan ini dilakukan setiap enam bulan sekali, serta akan dilakukan pengawasan terhadap hewan tersebut terutama terhadap anjing yang sangat banyak dijumpai di daerah ini," ungkap dia lagi.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pagaralam, dr Rasyidi Amri mengatakan, pihaknya akan segera menyebar vaksin rabies di sejumlah Puskesmas disetiap kecamatan, untuk mengatisipasi jika ada pasien yang menjadi korban gigitan anjing gila.
"Kita akan bekerjasama dengan instansi terkait lainnya melakukan pencegahan sebelum penyebaran penyakit rabies meluas," ungkap dia.
Rasyidi mengatakan, perlu dilakukan pendataan hewan yang dapat menularkan rabies di daerah ini, supaya dapat dengan mudah dipantau. Mengingat sebagian besar masyarakat Pagaralam masih mengandalkan hewan anjing sebagai hewan peliharaan selain untuk teman berburu maupun menjaga kebun.
"Hingga saat ini belum ada laporan warga yang digigit anjing yang terserang penyakit tersebut. Diharapkan agar seluruh masyarakat mewaspadai akan penyakit yang mematikan ini. Kita belum menemuai ada pasien yang terkena rabies akibat digigit anjing gila, namun perlu diwaspadai," ungkapnya. (asn)

Rumah Murah Masih Tunggu Akad Kredit

Palembang, SN
Program rumah murah yang dicanangkan Pemprov Sumsel, hingga kini belum juga selesai. Tidak hanya rumah murah yang berada di kawasan Jakabaring saja yang belum selesai, tetapi juga rumah murah yang berlokasi di kawasan Musi II.
Kepala Dinas PU Cipta Karya Sumsel, Ir Rizal Abdullah, mengatakan, terhambatnya pembangunan 2000 rumah murah yang berlokasi di Jakabaring dan Kawasan Musi II karena belum tuntasnya akad kredit dari Bank Sumsel Babel.
"Kuncinya satu yaitu akad kredit, kalau akad kredit selesai, pembangunan fisik rumah bisa kita kejar. Tahun 2012 mendatang, kita harapkan akad kredit selesai dilakukan," ungkapnya usai rapat dengan Komisi IV DPRD Sumsel, Senin (19/12).
Selain akad kredit, salah satu kendala pembangunan rumah murah yakni adanya UU No 1 tahun 2011 yang dikeluarkan Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera), yang tidak membolehkan lagi pembangunan rumah tipe 21.
Terkait hal ini, Rizal mengaku, saat ini masalah tersebut sedang dalam koordinasi, namun yang penting kata Rizal, program rumah murah tipe 21 yang ada di kawasan Musi II, tujuannya berpihak kepada masyarakat.
"Tidak ada masalah, sekarang sedang kita bicarakan lebih lanjut, namun dengan sistim lama atau baru semua yang dibuat tetap berpihak pada masyarakat termasuk perumahan tipe 21,” ungkap Rizal.
Ia melanjutkan, selain kedua masalah tersebut, yang tak kalah pentingnya, untuk dipikirkan yakni pembangunan lingkungan rumah murah, seperti jalan akses menuju perumahan.
"Orang (pekerja) lingkungan tidak mau buat dulu kalau rumah belum ada, artinya untuk membangun dan memperkeras jalan dilakukan setelah rumah selesai, semua sama termasuk rumah murah di musi II," katanya. (awj)

Press

My Slideshow: Ferdinand’s trip to Palembang, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Palembang slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.